I’tikaf


Ber i’tikaf

            Keindahan Ramadhan dari tahun ke tahun tidak akan menghiasi lembaran kehidupan seorang muslim bila ia tak berhasil memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Rasanya tidak perlu lagi penulis mengungkapkan keutamaan bulan suci nan agung ini,  terutama malam lailatul qadar yang terdapat pada sepuluh  malam terakhir.

            Akhi fillah..

            Sebagai penuntut ilmu syar’i hendaknya kita berusaha  berada di barisan terdepan dalam mengamalkan dan memanfaatkan bulan nan suci ini untuk beribadah kepada Allah, antara lain dengan melaksanakan ibadah i`tikaf dalam bulan ini. Selain tuntutan ilmu, hal demikian  untuk membersihkan diri kita dari noda-noda kemaksiatan yang selama ini telah kita perbuat Wallahul mustaan. Apalagi sunnah itikaf termasuk diantara sunnah-sunnah Rasulullah r yang mulai ditinggalkan umatnya pada zaman sekarang ini. Mereka lebih tertarik mencari kesenangan duniawi dengan mengais rezeki dari pada menggapai keabadian ukhrowi.

Allah berfirman: [ والأخرة خير و أبقى]

” Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan kekal. ” (QS.Al `Ala: 17)

            Akhi fillah….

            Namun sangat ironis,  diantara orang-orang yang lebih mengutamakan kesenangan duniawi di bulan suci ini, ada sebagian teman kita yang malah menyibukkan diri mengais “lembaran real” demi memburu kehidupan duniawi. Disaat hamba-hamba Allah bersujud, memohon pengampunan dosa dan pembebasan diri dari api neraka .

            Adakah yang menjamin kita akan bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan?? Apabila kita tidak memulai untuk menghidupkan sunnah ini (itikaf) di tempat dan waktu yang mulia ini, dimana dan kapan lagi kita akan memulainya..???

            Akhi fillah……

            Oleh karenanya penulis mengangkat tema ” itikaf dan hakekatnya ” yang diterjemahkan secara ringkas dari risalah syekh Abdul Malik Al Qasim hafidzohullah. Dengan sedikit tasarruf. Mudah-mudahan untaian nasehat ini  dapat menjadi bahan renungan untuk ikhwah sekalian, agar Ramadhan kita tahun ini lebih indah dengan memperbanyak amal ibadah kepada Allah I.

            Berikut risalahnya…….

Segala puji bagi Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat hamba-Nya, serta selalu melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada mereka. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada nabi Muhammad r -yang telah menunjukkan umatnya  kepada jalan yang benar dan memperingatkan mereka dari jalan kesesatan- dan keluarga, para sahabatnya serta orang-orang  yang berpegang teguh dengan ajarannya,amin.

            Sesungguhnya bulan suci Ramadhan adalah bulan suci bagi orang-orang yang ingin mencari keselamatan dunia dan akhirat, serta berusaha melepaskan belenggu api neraka dari dirinya.

            Pada bulan ini beragam macam ibadah yang dapat dilakukan, dan pahala-Nya pun dilipatgandakan serta rahmat-Nya selalu tercurah bagi hamba-hamba-Nya yang taat beribadah.

            Salah satu keutamaan bulan suci ini ialah keberadaan sepuluh  hari terakhir dimana Rasulullah r memperbanyak ibadah beliau padanya melebihi hari-hari lain pada bulan suci ini.

Aisyah t berkata, “Nabi r memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir (pada bulan Ramadhan) dari pada hari-hari  yang lain .”  HR.muslim

Di hadits yang  diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,  Aisyah t berkata, ” apabila tiba sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) Nabi r mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malam-malam (dengan beribadah) dan membangunkan keluarga beliau “. Dalam Musnad Iman Ahmad, Aisyaht  berkata,”  jikalau 20 hari pertama Ramadhan Rasulullahr membarengi ibadah dengan tidur, tetapi kalau tiba malam terakhir beliau r menyingsingkan lengannya dan mengencangkan ikat pinggangnya (memperbanyak ibadah)”. Salah satu ibadah yang selalu di laksanakan Rasulullah r pada 10 malam terakhir adalah i`tikaf…

            I’tikaf adalah tinggal di masjid dengan tujuan memfokuskan diri dalam beribadah kepada Allah I. Itikaf merupakan sunnah yang berlandaskan al Quran dan al Hadits. Allah I berfirman….

( وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِد) (البقرة:187)

” namun janganlah kamu campuri istri-istri kalian sedang kamu beritikaf dalam masjid .” (QS.Al Baqarah :187).

Dan Aisyah t berkata:

( أن النبي r يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله عزوجل , ثم اعتكف أزواجه من بعده)

” Rasulullah r selalu itikaf pada sepuluh malam terakhir hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau itikaf setelahnya r.”  (Bukhari dan Muslim)

            I`tikaf termasuk sunnah yang banyak di tinggalkan umat pada zaman sekarang, dan masih sangat sedikit yang melaksanakannya. Imam Azzuhri رحمه الله تعالى berkata, ” Aku heran terhadap kaum muslimin, mereka meninggalkan sunnah itikaf , sedangkan Nabir  tidak pernah meninggalkannya semenjak beliau r datang ke Madinah hingga ia meninggal dunia.”

            Bersegeralah wahai saudaraku ………

Hidupkanlah sunnah yang mulia ini dan ajaklah umat untuk melaksanakannya, mulailah dari diri kita sendiri…!

Sesungguhnya dunia ini perjalanann yang sangat singkat dan kesempatan yang terbatas. Bebaskanlah dirimu dari kemegahan dunia serta kemewahannya yang membuatmu terlena hingga lupa dan tidak lagi memilki kesempatan untuk melaksanakannya (itikaf).

Istirahatkanlah dirimu dari segala aktifitas duniawi dan menghadaplah kepada Allah I dengan seluruh jiwa ragamu, bersujudlah di hadapan-Nya dengan  rendah diri, tunduk, hati yang luluh karena lumuran dosa dan tetesan air mata untuk menyusul kafilah orang-orang yang beruntung ….

Akhi fillah ……….

Itikaf dilakukan di setiap masjid yang didirikan shalat berjama`ahlimawaktu. Barang siapa yang khawatir i`tikafnya meyebabkan ia luput untuk shalat jum`at, maka hendaklah ia beri`tikaf di masjid yang didirikan padanya shalat jum`at. (Apabila ia I’itikaf di masjid yang tidak didirkan padanya sholat jum’at, hendaknya) setelah melaksanakan shalat jum`at  ia kembali ke tempat i`tikafnya.

            Beri`tikaflah di masjid yang jauh dari keramaian. Di masjid yang engkau tidak kenal seorangpun dan orang pun tiak mengenalmu, yang demikian itu lebih membuatmu ikhlas dan dapat memfokuskan hati dan pikiranmu semata-mata hanya beribadah kepada Allah I serta menjaga i`tikafmu dari hal-hal yang dapat merusaknya.

            Jika engkau i`tikaf di Masjidil Haram, atau di Masjid Nabawi, jangan membuat suasana menjadi sempit, lapangkanlah tempat bagi orang lain untuk sholat. Jangan memperlihatkan pada orang bahwa engkau sedang i`tikaf hingga membuatnya melapangkan tempat buatmu, sebagian mu`takifin terkadang tidak ikut melaksanakan shalat tarawih atau qiyamullail, justru ia mengganggu orang yang sedang shalat dengan berbicara keras tentang hal yang kurang bermanfaat. Itikaf dianjurkan kapan saja, oleh sebab itu seorang muslim boleh memulai dan menyudahi itikafnya kapan saja, namun akan lebih afdhol  bila ia beritikaf pada bulan Ramadhan, terutama sepuluh hari terakhir.

            Setelah melaksanakan shalat subuh hari ke 21 dalam bulan Ramadhan, hendaklah ia masuk beri’itikaf dan tinggal di masjid sampai pelaksanaan shalat ied (ini waktu mustahab memulai dan menyudahi i`tikaf).

            I`tikaf adalah kesempatan yang mulia, dan momen yang tepat bagi seorang muslim untuk menjauhkan diri dari aktifitas duniawi dan memfokuskan jiwanya dalam ketaatan kepada Allah I semata, mengharap ridha dan pahala-Nya. Akan lebih mulia apabila ia juga senantiasa bersemangat mencari malam lailatul qodar sebelum lembaran kebaikan di gulung dan timbangan amalan kita di letakkan.

            Akhi mu`takif..

Berzikirlah, sholat dan bacalah ayat-ayat suci Allah I, jauhkan dirimu dari percakapan duniawi yang tidak ada manfaatnya, kecuali bila engkau berbicara dengan istri atau anggota keluargamu yang lain bila dipandang perlu. Seperti yang dialami Shafiyyah Ummul Mukminint, dimana ia berkata, “aku mendatangi Rasulullahr pada malam hari ketika beliau i`tikaf, dengan maksud menziarahinya, maka kami berbincang-bincang kemudian aku pulang diantar oleh Rasulullah r”. Mu`takif boleh keluar masjid, melaksanakn hajatnya seperti buang air besar atau kecil, makan atau minum seandainya tidak ada yang menyediakannya, berobat apabila sakit, menolong orang sakit yang sangat membutuhkan pertolongan .

Dan yang termasuk hal-hal yang dapat merusak i`tikaf adalah keluar dari masjid tanpa sebab, seperti jual beli,  menggauli istri, dsb.

            Saudaraku mu`takif…..

Apabila engkau bersama teman, pilihlah teman yang membantumu untuk selalu beribadah kepada Allah I, mengingatkanmu apabila engkau lalai, memotivasimu untuk senantiasa berbuat kebaikan dan selalu mempergunakan waktumu untuk beribadah kepada Allah I. Jauhilah orang-orang yang menghabiskan waktunya tanpa faedah dan maslahat. Sebagian mu`takif (apabila berkelompok), hari-hari pertama i`tikaf mereka sanngat rajin, tapi setelahnya mereka memperlihatkan rasa malas bahkan mereka banyak menyia-nyiakan waktu serta larut dalam obrolan yang tidak berguna, kadang-kadang (dalam obrolan itu) menjerumuskan mereka pada hal-hal yang dilarang, seperti ghibah.

            Saudaraku mu`takif…….

            Itikaf adalah waktu yang tepat bagi orang-orang yang ingin meraih surga, -yang luasnya seperti langit dan bumi- untuk memantapkan ketaatan kepada Allah I dan merupakan kesempatan untuk menambah perbekalan menuju akherat. Oleh karena itu, jadikanlah dirimu termasuk orang-orang  yang tidak dilewati oleh kesempatan emas ini, kecuali ia telah memperoleh anugerah “pahala” yang berlipat ganda dari Allah I. Sucikanlah dirimu dari rasa riya, atau mengharapkan pujian orang. Menghadaplah kepada Allah I semata, dengan mengharapkan rahmat dan ridha-Nya.

 Jangan merasa bangga diri (ujub) dengan amal yang telah engkau lakukan .

Allah berfirman……

)وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ( (البينة:5)

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”

Dalam sebuah hadits, Rasulullah r bersabda, “sesungguhnya setiap amal itu pasti disertai dengan niat, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.”(HR.Bukhari&Muslim).

Oleh karenanya, diantara cara untuk membantu kita agar selalu mengharap ridha Allah  semata adalah dengan memilih masjid yang engkau tidak mengenal seorangpun dan orang pun tidak mengenalmu. Dan bukanlah suatu perbuatan yang terpuji apabila seseorang mengumumkan dihadapan khalayak ramai bahwa ia telah beri`tikaf…

نسأل الله الإخلاص

Harap ditambahi fotnot berikut setelah kata (faedahnya) yang telah diwarnai dengan warna biru.

Syeikh Ibnu Utsaimin berkata: “Dianjurkan bagi seorang mu’takif untuk mengisi waktunya dengan amalan ibadah (bertaqarrub kepada Allah), bukan dengan ilmu (menghadiri majlis ilmu), kecuali ilmu yang apabila ia tidak hadir, niscaya ia akan ketinggalan dan tidak mendapatkannya. Adapun ilmu-ilmu lainnya, maka lebih baik ia menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah khusus, seperti membaca Al Qur’an, berdzikir, sholat sunnah –pada selain waktu-waktu yang dilarang untuk sholat- dan ibadah-ibadah serupa. I’itikaf dengan cara ini lebih afdlol dibanding ia i’itikaf sambil menghadiri majlis-majlis ilmu. Kecuali apabila majlis tersebut jarang terjadi, dan tidak mungkin ia dapatkan kecuali pada waktu tersebut, maka pada kondisi seperti ini mungkin untuk dikatakan, bahwa menuntut ilmu pada kondisi seperti ini lebih afdhol dibanding i’itikaf, maka hendaknya kita menghadiri majlis tersebut. Akan tetapi apabila majlis ilmu yang mengharuskan ia membawa kitab tertentu, kemudian ia duduk mulazamah dengan seorang Syekh, maka lebih baik ia tidak melakukannya, dan ia lebih menyibukkan dirinya dengan amalan ibadah (taqarub). (dari Syarah Mumti’ 6/529)

1.Kata-kata yang berwarna hijau tambahan dari ana.

2.kata-kata yang berwarna merah hendaknya dicek ulang, karena kandungan artinya kurang tepat, sebab memfokuskan jiwa pada ketaan kepada Allah guna mencari keridloan Allah, lebih besar kedudukannya dari hanya amalan mencari malam lailatul qadar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s