Ibadah Mahdhoh


MUQADDIMAH

Sholat adalah ibadah mahdhoh (murni) yang tertinggi di dalam Islam setelah mengucapkan syahadat, bahkan merupakan garis pemisah antara keislaman dan kekufuran. Orang yang tidak mau membungkukkan tubuhnya dalam ruku’ dan menyungkurkan badan dan wajahnya dalam sujud di dunia ini merupakan bentuk kesombongan dan pembangkangan yang luar biasa dan akan berbuah kehinaan dan kenistaan. Tubuhnya akan keras kaku di akhirat kelak, persendiannya tidak berfungsi lagi ketika Allah  memerintahkan orang-orang yang beriman untuk bersujud kepada-Nya. Rasulullah  telah bersabda: أن المؤمنين يسجدون لله يوم القيامة، وأما المنافق فلا يستطيع ذلك ويعود ظهره طبقًا واحدًا كلما أراد السجود خَرَّ لقفاه. “Sesungguhnya orang-orang mu’min akan bersujud kepada Allah pada hari Kiamat, sedang orang munafiq tidak sanggup melakukannya dan punggungnya lurus kaku, setiap mau sujud maka akan terjengkal telentang.” (HR. Bukhari no.4919 dari Abu Sa’id al-Khudri ) Karenanya, menjalankan ibadah yang agung ini mesti dengan kesungguhan, perhatian dan kesadaran yang penuh untuk mencapai kesempurnaannya atau paling tidak mendekatinya. Sedangkan sholat yang terbaik adalah shalatnya Rasulullah , tauladan sejati yang tidak mungkin dicapai kesempurnaan shalat tanpa mengikuti beliau. Mencontoh sholatnya dalam segala hal, baik yang berupa gerakan atau sikap tubuh, bacaan lisan dan kekhusyukan hati ketika mendirikan sholat merupakan harapan dan dambaan kita bersama. Semua yang sampai kepada kita dari tata cara shalat beliau tentunya akan kita pegang erat-erat dan berusaha untuk mengemplementasikannya dalam shalat-shalat kita. Sekecil apapun sunnah beliau itu, tidak boleh kita remehkan. Tulisan ini merupakan bagian dari perkara penting yang seharusnya tidak kita remehkan dan abaikan dalam upaya mendekatkan shalat kita kepada sholat yang didambakan tadi. Keinginan inilah yang mendasari kami untuk mengangkat hal ini dalam sebuah tulisan sederhana ini. Dan tulisan ini juga bertujuan untuk mendudukkan perkara yang sering menjadi pemicu ketegangan di antara sesama saudara muslim, seperti yang sering saya dengar dan rasakan selama ini yaitu tentang tambahan “wabarakatuh” pada salam yang terakhir/kedua. Ada yang menyunahkan tambahan itu dan ada yang menolaknya. Perkara ini memang jikalau kita bisa mendudukkannya dengan adil, bijaksana dan proporsional, tentunya tidak akan berujung dengan ketegangan yang kadang berakhir dengan pemboikotan. Saya telah mendengar ‘seorang ustadz’ menyatakan keogahannya mengisi pengajian pada sebuah masjid jika imam masjid itu tidak mau mengikutinya yaitu menambah salam terakhirnya dengan “wabarakatuh”. Dan benar, ketika sang imam ngotot dengan keyakinannya dengan meninggalkan ‘wabarakatuh’ pada salam kedua shalatnya ketika mengimami jama’ahnya, maka sang ustadz mangkir dan berhenti dari mengisi pengajian di masjid tersebut sesuai dengan janjinya tadi. Hadahullah, jikalau begitu keadaan orang yang dipanuti keilmuannya, maka lebih-lebih memprihatinkan lagi keadaan orang-orang awam di bawahnya yang sering tidak paham dengan duduk-permasalahannya. Mereka hanya hanyut dan terpaku dengan simbol-simbol dan syiar-syiar kelompok atau golongannya masing-masing. Sehingga dengan cepat mereka mengklaim bahwa yang pakai ini adalah kelompok kami dan yang tidak menggunakannya adalah kelompok atau group lain. Jadilah ia sebagai syiar pembeda dan jurang pemisah satu kelompok dengan kelompok yang lain, padahal jika mereka mau berfikir dan menelaah lagi, maka mereka akan sadar telah terjerembab dalam kejumudan dan kekakuan, mengenyampingkan hal-hal yang lebih prinsipil dan tidak mendudukkannya dalam metodologi yang ilmiyah, yang jauh dari tendensi golongannya. Seharusnya permasalahan ini bukan menjadi penghalang persaudaraan dan persatuan sesama Ahlussunnah bahkan bisa menjadi bagian dari kajian kita bersama dalam rangka tujuan mulia, mencontoh sholat Nabi  secara sempurna dan paripurna. Niat yang tulus pada awalnya dan metodologi ilmiyah yang senantiasa diikuti dan dijalani untuk mengambil konklusi (kesimpulan) dari setiap perselisihan yang terjadi, bukan sekedar pembelaan terhadap sebuah pendapat kelompok atau golongan atau terpaku dengan “keputusan” yang sudah ada. Diskusi atau dialog secara ilmiyah juga bukan hal yang tabu untuk diadakan selama niat dan tujuan kita bagus untuk mencari kebenaran. Menguji argumentasi masing-masing pendapat dengan metodologi ilmiyah yang dijalankan ulama-ulama sejak dulu adalah cara paling tepat yang mesti diambil, bukan dengan logika dan retorika saja, apalagi semacam konsolidasi dan doktrinasi yang akhirnya menjatuhkan ummat kepada taqlid yang diorganisir (meminjam istilah yang digunakan Buya Hamka). Keinginan kami untuk menulis buku ini juga semakin kuat dan mantap setelah kami dihadiahkan buku yang berjudul “Hadits-Hadits Wabarakatuh pada Lafaz Salam di Akhir Shalat” yang ditulis oleh al-Ustadz al-Mukarram Drs. H. Abidin Ja’far, Lc, MA yang dikeluarkan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Selatan. Besar harapan kami ketika mendapatkan buku itu untuk mendapatkan penjelasan secara ilmiyah tentang perselisihan seputar tambahan ‘wabarakatuh’ pada salam, sehingga ketegangan yang cukup mengganggu aktifitas da’wah para da’i selama ini bisa mencair dan mereka bisa mendudukkannya secara proporsional dan adil. Namun yang kami dapatkan tanpa niat untuk merendahkan siapapun (apalagi sang penulis) ‘afallahu ‘anna wa’anhu –smoga Allah memaafkan kita dan beliau- , tidak menempuh metodologi yang benar di dalam menulis makalah kecil itu, sehingga bagi kami yang masih pemula ini saja, bisa melihat keganjilan dan kejanggalan. Koreksi dan catatan kami terhadap kutaib (buku kecil) tersebut, adalah : 1. Tidak membawakan hadits dengan metode ilmiyah yang dijalankan ahli-ahli hadits. Untuk mendapatkan hadits yang bisa dipertanggungjawabkan secara sanad dan matannya, seharusnya Penulis mengambil hadits-haditsnya dari kitab para pengumpul hadits yaitu kitab asal hadits-hadits itu berada (Kitab Induk Hadits) seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Sunan Tirmidzi, Musnad Imam Ahmad, dll. Bukan dengan mengambilnya dari para penukil hadits, seperti yang dilakukan penulis terhadap hadits Abu Daud (poin kedua) dinukil dari kitab Al-Muharrar fil Hadits karya Ibnu Qudamah, juga menukil riwayat Abu Daud dengan lafazh yang lain (poin keempat) dari kitab Khulashatul Ahkam karya Imam Nawawi dan pada poin kelima juga membawakan hadits Abu Daud dari kitab Al-Ilmam karya Al-Qusyairi (Ibnu Daqiq al-‘Ied). Sehingga hadits Abu Daud ini terulang sampai 3 kali dalam 6 hadits yang dibawakan dalam buku kecil itu. Pengulangan ini jelas tidak bermanfaat kalau seandainya penulis mengambil haditsnya langsung dari Sunan Abu Daud saja kemudian menjelaskan sanad dan takhrijnya, maka penulis cukup membawakan 4 hadits saja yaitu hadits dari Al-Bazzar, Ibnu Khuzaimah, Imam Syafi’i dan Abu Daud. Jika tidak dengan cara tersebut, penyusun juga bisa membawakan hadits-haditsnya menurut jalur-jalur periwayatannya. Misalnya hadits pertama yang berasal dari Abdullah bin Mas’ud kemudian dibawakan dan dijelaskan takhrij dan sanad-sanadnya, kemudian hadits kedua yang datang dari Wail bin Hujr dan jelaskan sanad-sanad dan takhrij haditsnya serta derajat haditsnya, atau seterusnya dari jalur Jabir bin Samurah dan lain sebagainya. Jika kita tidak menggunakan salah satu dari dua metode tadi, maka terlihat kacau dan seakan-akan hanya untuk mengelabui orang awam bahwa banyak hadits yang dibawakan sebagai sandaran hukum dalam buku itu, padahal haditsnya itu-itu saja. Bagi mereka yang mendalami ilmu hadits tentu tidak bisa terperdaya dengan cara seperti ini. Kemudian membiarkan hadits-hadits itu tanpa penjelasan tentang derajat haditsnya tentunya tidak cukup, karena banyak terdapat hadits-hadits lemah di dalam kitab-kitab hadits, sehingga dituntut bagi kita untuk menjelaskan keshahihan hadits-hadits yang dibawakan itu jika hendak beristidlal (berdalil) dengannya, karena buku ini adalah bertujuan untuk menjelaskan bahwa ‘tambahan wabakatuh’ itu ada asalnya dalam hadits-hadits Nabi. Seharusnya penulis ketika membawakan hadits-hadits itu mesti meneliti lagi sanad-sanadnya dan memberikan penjelasan tentang derajat hadits-haditsnya. Untuk membuktikan keabsahan suatu hadits itu dapat ditempuh dengan dua cara: Pertama, dengan meneliti sanad dan periwayatan hadits yang dimaksud lalu mengambil keputusan sesuai dengan kaedah dan dasar-dasar ilmu hadits, dan mengambil kesimpulan derajat hadits tanpa taqlid kepada imam tertentu dalam melemahkan atau menshahihkan. Hampir-hampir tidak ada yang bisa melakukan hal ini, kecuali sebagian kecil dari mereka. Kedua, berpedoman dengan perkataan dan penelitian para ulama hadits dari kalangan terdahulu seperti Imam Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Hatim ar-Razi, atau generasi setelahnya seperti an-Nawawi, adz-Dzahabi, az-Zaila’i, al-‘Asqalani dan lainnya. Perbedaan sangat mungkin terjadi di kalangan ahli hadits di dalam memberikan penilaian terhadap sebuah hadits. Ini tergantung dengan kapasitas ilmu dan pengetahuan masing-masing mereka dalam jalur-jalur hadits secara riwayah maupun dirayah. Sehingga bagi kita harus melakukan penelitian secara obyektif dalam perselisihan penilaian mereka itu. 2. Ketika menulis perawi awal hadits Ibnu Khuzaimah ditulis Abi Al Ahwash Abdullah. Penulis nampak sekali tidak mengkaji perawi-perawi dalam sanad ini. Yang benar perawi terakhir Abdullah (ya’ni Ibnu Mas’ud) sedangkan Abu Al Ahwash adalah perawi setelahnya. 3. Penulisan kitab Al Muharrir fil Hadits yang benar Al Maharrar fil Hadits, 4. Pada daftar pustaka tertulis: “Ahmad bin Muhammad bin Hajar al Kinani al Asqalani al Qahiri Subul al salam, Syarah Bulug al Maram, … Yang benar kitab Subul al salam adalah karya Imam As-Shon’ani, sedangkan Ibnu Hajar penulis Bulughul Maram. Kesalahan-kesalahan ini penting kami jelaskan supaya menjadi pendidikan ilmiyah dan pelajaran bagi kita sebagai warga Muhammadiyah, apalagi buku ini diterbitkan oleh sebuah institusi yang terpandang dalam organisasi yang kita cintai ini. Sehingga kesalahan ini bisa menunjukkan kebodohan dan ketidakperhatiaan kita terhadap kajian dan penelitian terhadap hadits yang merupakan warisan Rasulullah  yang sangat penting dan berharga. Semoga ini bisa menjadi masukan dan saran kami untuk kedepan lebih berhati-hati dalam menerbitkan sebuah tulisan dan senantiasa komitmen dengan semangat tajdid dan ishlah yang menjunjung tinggi kebenaran dan studi ilmiyah yang senantiasa terus mengalir dalam darah kita sebagai kader-kader muhammadiyah. Akhirnya, dengan memohon taufiq dan pertolongan dari Allah, kami mempersembahkan tulisan yang sederhana ini ke hadapan pembaca sekalian dengan harapan bermanfaat bagi kita sekalian dalam menumbuhkan semangat ishlah (perbaikan) ilmu, ‘amal, dan da’wah. Tiada yang mendorong kami melainkan seperti Nabiyullah Syu’aib ‘alaihissalam yang berkata : إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ Artinya : “Tidak ada yang kuinginkan melainkan perbaikan sepanjang yang aku bisa dan tidak ada dayaku kecuali dengan taufiq Allah dan kepada-Nya aku bertawakkal dan kembali.” (QS. Hud : 88). Dan kami ucapkan ‘Jazakallah khairan’ kepada pengurus Muhammadiyah cab. Amuntai yang telah mendorong dan memotifasi kami untuk menulis buku ini. Washallahu ‘ala muhammadin wa’ala alihi wasallam. Penulis : Abu ‘Ubaidillah Mardhatillah Hari : Jum’at, 13 Syawal 1430 H/02 Oktober 2009. BAB I HUKUM SALAM DALAM SHOLAT Salam adalah bagian paling akhir dari ibadah sholat kita yang merupakan tanda selesai atau keluarnya musholli (orang yang sholat) dari segala larangan yang ditetapkan dalam ibadah ini, sebagaimana sabda Nabi  : مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيم “Pembuka sholat adalah bersuci, pengharamnya adalah takbir, dan penghalalnya adalah salam” Dengan hadits ini juga, mayoritas para ulama (jumhur) dari generasi sahabat, tabi’in dan generasi setelahnya menghukumi salam sebagai rukun di dalam shalat, yang tidak bisa ditinggalkan atau diganti dengan ucapan yang lain atau jika dia keluar dari shalatnya tanpa salam maka shalatnya tidak sah. Namun Abu Hanifah rahimahullah menyelisihi pendapat jumhur ini, dengan mengatakan bahwa salam adalah sunnah saja, bukan merupakan rukun shalat. Bahkan menurut beliau, apabila seseorang yang hendak mengakhiri shalatnya itu duduk tasyahhud akhir selama kadar waktu untuk membaca tasyahhud kemudian dia berdiri atau berhadats (kentut misalnya) tanpa salam sebelumnya maka shalatnya telah sempurna. An-Nawawi di dalam al-Majmu’ (3/481) dan Syarah Muslim (2/359) berkata : وَقَالَ أَبُو حَنِيفَة رَضِيَ اللَّه عَنْهُ : هُوَ سُنَّة ، وَيَحْصُل التَّحَلُّل مِنْ الصَّلَاة بِكُلِّ شَيْء يُنَافِيهَا مِنْ سَلَام أَوْ كَلَام أَوْ حَدَث أَوْ قِيَام أَوْ غَيْر ذَلِكَ ، وَاحْتَجَّ الْجُمْهُور بِأَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّم . وَثَبَتَ فِي الْبُخَارِيّ أَنَّهُ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي ) وَبِالْحَدِيثِ الْآخَر : ( تَحْرِيمُهَا التَّكْبِير وَتَحْلِيلهَا التَّسْلِيم ) . “Abu Hanifah  mengatakan : Ucapan salam adalah sunnah. Dan tahlil (penutup) shalat ini akan dengan sendirinya jika melakukan sesuatu apapun yang bertentangan dengan shalat, baik itu dengan salam, ucapan, berbicara, berdiri atau lain sebagainya. Mayoritas ulama berargumentasi bahwa Nabi selalu mengucapkan salam. Dan telah tsabit di dalam Shahih al-Bukhari bahwa beliau  telah bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat”. Dan hadits lain : “…Awal shalat adalah takbir dan penutupnya adalah salam”. Pendapat Abu Hanifah tersebut didasari dengan 3 alasan : 1. Salam tidak disebutkan pada hadits “seorang shahabat yang keliru di dalam shalatnya”, kecuali jika diketahui hadits “penutup shalat adalah salam” datang belakangan. Sebagaimana perkataan asy-Syaukani.  Alasan ini bisa dijawab bahwa tidak disebutkan salam pada hadits itu, tidak menafikan kewajiban salam yang disebutkan dalam hadits lain dan tambahan itu harus diterima. Sedangkan asy-Syaukani mengatakan sendiri kala menjelaskan wajibnya bacaan tasyahhud bahwa jika tidak diketahui waktunya (mana yang datang belakangan) maka perkataan yang mewajibkan lebih utama. 2. Berlandaskan hadits Ibnu Mas’ud  : إِذَا قُلْتَ هَذَا أَوْ قَضَيْتَ هَذَا فَقَدْ قَضَيْتَ صَلَاتَكَ إِنْ شِئْتَ أَنْ تَقُومَ فَقُمْ وَإِنْ شِئْتَ أَنْ تَقْعُدَ فَاقْعُد “Apabila engkau mengucapkannya (salam) , maka shalatmu telah selesai. Jika engkau mau berdiri, engkau bisa berdiri, dan jika engkau mau duduk, maka engkau boleh duduk.”  Jawabannya: Kalimat yang artinya “apabila engkau mengucapkannya (salam), maka shalatmu telah selesai” itu adalah perkataan Nabi, sedangkan lafazh seterusnya adalah perkataan salah seorang dari yang meriwayatkan hadits itu (yaitu Ibnu Mas’ud). Sehingga dihukumi sebagai lafaz yang mudraj (disisipkan oleh salah satu perawi hadits tersebut). Dalam riwayat Syababah bin Sawwar, seorang perawi yang tsiqah telah memisahkan lafaz tambahan tadi dengan menjadikannya sebagai perkataan Ibnu Mas’ud , dan riwayat ini juga memiliki mutaba’ah dari riwayat Ghassan bin ar-Rabi’i dan yang lainnya. Sehingga pantas kalau terjadi kesepakatan para Huffaz (ahli hadits) bahwa tambahan itu adalah lafazh yang mudraj dan bukan sabda Nabi sebagaimana yang dikatakan an-Nawawi (3/481) dan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam ad-Dirayah sebagai berikut: “Para Huffaz Ahlu Hadits sepakat bahwa tambahan ini mudraj (sisipan) dari perkataan Ibnu Mas’ud, diantara yang berpendapat demikian adalah Ibnu Hibban, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, al-Khatib, dan mereka menerangkan sandaran pendapat mereka tentang hal itu.” (2/257) 3. Berlandaskan hadits ‘Abdullah bin ‘Amru: إِذَا أَحْدَثَ يَعْنِي الرَّجُلَ وَقَدْ جَلَسَ فِي آخِرِ صَلَاتِهِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَقَدْ جَازَتْ صَلَاتُه . “Apabila -seseorang- telah berhadats dan telah duduk di akhir sholatnya sebelum dia mengucapkan salam, maka shalatnya telah diterima.” (HR. at-Tirmidzi 2/261, Abu Daud 1/101, al-Baihaqi 2/176).  Jawabannya: Sanad hadits ini dha’if, karena adanya Abdurrahman bin Ziyad al-Ifriqi, seorang perawi yang lemah, tidak bisa berhujjah dengannya. Dan jika kita mengamalkan zhohir hadits ini maka kita tidak hanya menolak kewajiban salam tapi juga menolak wajibnya tasyahhud. Padahal banyak hadits yang mewajibkan tasyahhud itu, termasuk madzhab Hanafiyah sendiri yang berpendapat bahwa shalat tidak akan sempurna selesai dengan duduk saja, hingga seukuran duduk tasyahhud. Dari uraian yang dikemukakan di atas, jelaslah bahwa setiap dalil yang dijadikan pegangan mereka untuk menyatakan bahwa ucapan salam adalah sunnah adalah tidak kuat, yang benar adalah pendapat yang mewajibkannya sebagaimana pendapat mayoritas ulama dan juga pendapat ulama-ulama Syafi’iyyah. Ulama-ulama Hanafiyah kontemporer telah berpendapat wajibnya salam di akhir shalat, hanya saja wajib yang menurut istilah mereka lebih rendah dari derajat fardhu. Apakah Satu Salam Sudah Sah ataukah Dua Salam? Madzhab Asy-Syafi’i dan Maliki serta mayoritas ulama berpendapat bahwa yang termasuk rukun shalat hanya salam yang pertama saja. Adapun salam kedua hanya sunnah, berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu’anha, bahwasanya Rasulullah  pernah salam satu kali dengan menghadapkan wajahnya ke depan agak sedikit ke kanan. Mengucapkan satu kali salam juga terdapat pada hadits shahih yang diriwayatkan dari Anas bin Malik dan Ibnu ‘Umar. Ibnul Mundzir berkata : “Semua ulama yang menghafal hadits dari Rasulullah  menyatakan sah shalat bagi yang hanya mengucapkan satu salam saja, dan menghukumi sunnah mengucapkan dua salam.” Imam Nawawi berkata: “Para ulama yang dipegang pendapat mereka bersepakat bahwa tidak wajib kecuali satu salam saja.” Pernyataan Imam Nawawi ini ternyata bertentangan dengan pendapat Imam Ahmad (dalam salah satu riwayatnya) yang mewajibkan kedua salam itu. Demikianlah madzhab Hambali, madzhab Zhohiri, madzhab Maliki dan Al-Hasan bin Shalih serta Ibnu Hazm, mereka berdalil dengan : 1. Tidak ada hadits shahih yang menunjukkan bahwa beliau mengucapkan satu kali salam saja.  Pernyataan ini jelas salahnya karena telah terdapat hadits-hadits yang shahih yang menjelaskan bahwa Nabi  pernah hanya mengucapkan salam satu kali. 2. Sabda Rasulullah  ketika melihat para sahabatnya memberi isyarat dengan tangan mereka ketika salam : “Cukuplah kalian meletakkan tangan di atas paha kemudian mengucapkan salam kepada saudaranya ke kanan dan ke kiri.” Hadits ini menurut mereka menunjukkan kurang dari dua tidak cukup dan shalatnya tidak sah.  Justru hadits-hadits yang menjelaskan bahwa Nabi  pernah salam satu kali saja, menjelaskan bahwa salam kedua bisa ditinggal. Dan tidak semua yang disuruh oleh Nabi itu hukumnya wajib, namun telah jelas qarinah (indikasi) yang menunjukkan salam kedua hukumnya sunnah. Wallahu a’lam.   BAB II TAMBAHAN “WABARAKATUH” PADA SALAM Lafazh salam dalam shalat merupakan perkara ibadah yang bersifat tauqifi (bukan ijtihadi), sehingga lafazh yang tidak pernah diucapkan oleh Rasulullah  ketika salam di akhir shalat, maka tidak boleh dilafazhkan atau diganti dengan lafazh-lafazh yang lain. Sabda Nabi  : “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad) Jika telah sampai kepada kita beberapa lafazh yang telah diucapkan Rasulullah  ketika salam, maka kita mesti menerimanya dan menganggapnya sebagai bagian dari tuntunan Nabi  dalam ritual shalat yang mesti kita junjung tinggi. Tidak selayaknya kita menolaknya apalagi membencinya, karena itu termasuk pembangkangan dan pengingkaran terhadap apa yang di bawa oleh Rasulullah  itu sendiri. Perselisihan lafazh-lafazh itu adalah perselisihan yang tidak saling berlawanan dan bertentangan atau dalam istilahnya “al-khilaf at-tudhod”, namun termasuk dalam “al-khilaf at-tanawwu'” yaitu keragaman bacaan yang bisa dipilih dan diamalkan salah satunya oleh kita, karena semuanya tetap dalam lingkungan ittiba’ (mengikuti) Nabi . Tentunya perbedaan ini tetap harus memperhatikan validitas (autentisitas) hadits-haditsnya. Jika ternyata hadits yang menjelaskan bahwa Nabi  telah mengucapkan suatu lafazh itu ternyata tidak shahih menurut metodologi ilmu hadits, maka tidak dibenarkan kita mengamalkannya. Cukuplah apa yang disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih sebagai pegangan kita, karena amal itu mesti dibangun di atas ilmu dan keyakinan bahwa itu berasal dari Nabi, bukan sebuah sangkaan apalagi karena dorongan hawa nafsu dan logika belaka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah al-Harrani (wafat 728 H) pernah berkata : “Ilmu itu ada dua macam; penukilan yang disahkan dan diakui, dan istinbath hukum yang teruji, selain kedua hal ini adalah igauan yang ngawur.” (ar-Raddu ‘ala al Bakri 2/729). Hadits yang dinukil secara sah dan diakui oleh para ahli di bidangnya atas keshahihannya, maka itu adalah ilmu yang benar. Sebuah istinbath atau kesimpulan hukum yang teruji dengan dalil-dalil yang tsabit dan shahih, maka itu adalah ilmu yang benar juga. Sedangkan berpegang dengan hadits yang lemah atau menyimpulkan hukum secara ngawur yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiyah maka itu tidak lain hanyalah igauan yang tidak perlu didengar. Telah sampai kepada kita hadits-hadits yang shahih tentang bacaan salam Nabi  ketika mengakhiri shalat beliau, yaitu : 1. Beliau pernah mengucapkan: “Assalamu’alaikum” dengan menoleh sedikit ke kanan, tanpa salam dan menoleh ke kiri. 2. Mengucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullah” sambil menoleh ke kanan dan kemudian mengucapkan “Assalamu’alaikum” sambil menoleh ke kiri. 3. Mengucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullah” ke kanan dan juga mengucapkan lafazh yang sama ketika salam ke kiri. Sedangkan mengucapkan salam dengan tambahan “wabarakatuh”, telah kita dapati para ulama yang menolak tambahan itu, baik itu yang mengingkarinya pada kedua salamnya atau menetapkannya pada salam pertama namun menolak pada salam kedua. Sebagian ulama lagi menyatakan itu sunnah pada kedua-duanya. Imam Nawawi rahimahullah dalam al-Adzkar (1/69) mengatakan : “Ketahuilah.. salam yang paling sempurna adalah menoleh ke sebelah kanan dengan mengucapkan : “Assalamu’laikum warahmatullah”. Begitu juga ke sebelah kiri dengan mengucapkan : “Assalamu’alaikum warahmatullah”. Tidak disunnahkan menambahnya dengan ‘wabarakatuh’ karena menyelisihi riwayat yang masyhur dari Rasulullah , walaupun telah disebutkan pada riwayat Abu Daud, dan dikatakan oleh sekelompok sahabat kami, diantaranya Imam al-Haramain, Zahir as-Sarkhasi dan ar-Ruyani dalam al-Hilyah, tetapi riwayatnya syadz dan yang masyhur adalah apa yang kami sebutkan tadi.” Pernyataan Imam Nawawi ini telah mendapat protes keras dari beberapa ulama yang lain, sebagaimana yang jelaskan oleh As-Suyuthi dalam “Tuhfatul Abrar bi Naktil Adzkar”, bahwa Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : “Telah terdapat beberapa jalan periwayatan yang terdapat tambahan “wabakatuh” itu di dalamnya, berbeda dengan anggapan Syeikh (maksudnya Imam Nawawi) yang mengatakan bahwa riwayat Abu Daud tadi riwayat yang bersendirian.” Berkata Al-Adzra’i di dalam “Al-Mutawassith” : “Pendapat yang terpilih adalah menyunnahkan (tambahan itu) dalam kedua salam.” Dan berkata dalam “Syarah al-Muhadzdzab” : “Sesungguhnya hadits Abu Daud memiliki sanad yang baik dan telah ada tambahan itu juga pada hadits Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam sunannya dan Ibnu Hibban dalam shahihnya. Dia berkata: “Dan sebuah keanehan pada Syeikh (maksudnya Imam Nawawi) dengan kewarakannya sampai membenarkan meninggalkan tambahan itu padahal telah nyata sunnahnya…..” Dengan perselisihan yang ada dan ternyata sudah lama ini, hendaknya kita bisa mengkaji argumentasi-argumentasi masing-masing kelompok tadi, sejauh mana argumentasi mereka itu bisa dipertanggungjawabkan dan diterima, yang tentunya apabila sesuai dengan kaedah-kaedah yang sudah baku (mapan). Menolak tambahan “wabarakatuh” dengan alasan haditsnya tidak masyhur adalah argumentasi yang keliru, namun keabsahan hadits-hadits yang menjelaskan adanya tambahan itu mesti ditinjau dan diteliti juga. Dan wajib bagi kita menerima tambahan itu jika ternyata terdapat pada hadits yang shahih walaupun tidak masyhur. Sedangkan lafazh salam yang dibawakan dengan jalan-jalan yang banyak (masyhur) menunjukkan bahwa itu adalah lafazh yang sering diucapkan oleh Rasulullah  pada shalat-shalat beliau. Lihatlah juga Fatwa Lajnah Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta (no Fatwa: 16370) Pertanyaan : Apakah ada bimbingan dari Nabi  untuk mengucapkan : “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh” pada salam pertama ke kanan dan “Assalamu’alaikum warahmatullah” pada salam kedua, ketika kita menutup sholat. Jawaban : Yang telah jelas dari Nabi  ketika salam di akhir shalat pada kebanyakan riwayat adalah lafazh : “Assalamu’alaikum warahmatullah” di kedua salamnya. Sedangkan tambahan (wabarakatuh) telah datang dari beberapa riwayat, namun petunjuk Nabi  yang sering adalah cukup dengan “Assalamu’alaikum warahmatullah” dan inilah yang semestinya diamalkan.  Ditandatangani oleh : Ketua : Syeikh Abdul ‘Aziz bin Baz, Wakil Ketua : Syeikh Abdurrazzaq ‘Afifi, Anggota : Syeikh Abdullah bin Ghadyan, Syeikh Sholih al-Fauzan, Syeikh Abdul ‘Aziz Alu Syeikh, dan Syeikh Bakr Abu Zaid.  BAB III HADITS-HADITS YANG MENJELASKAN TAMBAHAN ‘WABARATUH’ PADA SALAM DI AKHIR SHALAT. Ada beberapa hadits yang digunakan oleh mereka yang menetapkan tambahan ‘wabarakatuh’ pada salam di penutup shalat yang akan kita kaji dan teliti pada bab ini, sejauh mana riwayat-riwayat itu bisa dijadikan dalil atau hujjah dalam masalah ini. Hadits-hadits itu sebagiannya diriwayatkan secara marfu’ dan sebagian yang lain secara mauquf. A. HADITS-HADITS YANG MARFU’ DALAM BAB INI: Hadits-hadits yang marfu’ yang menjelaskan hal ini terdapat pada dua jalur periwayatan, yaitu dari Abdullah bin Mas’ud dan Wail bin Hujr. 1. Riwayat yang berasal dari jalan Abdullah bin Mas’ud . Hadits Ibnu Mas’ud  ini datang dari beberapa riwayat yaitu : A. Riwayat Ibnu Majah,  Lafazh : Berkata Ibnu Mas’ud  : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وبركاته “Sesungguhnya Rasulullah  mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri sampai terlihat putih pipi beliau dengan mengucapkan ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’.”  Takhrij : Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya (bab ‘Taslim’), dari Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair dari ‘Umar bin ‘Ubaid dari Abu Ishaq as-Sabi’i dari Abu al-Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud . Tapi telah terjadi perbedaan manuskrip dalam lafazh ‘wabarakatuh’ di atas. Di dalam beberapa nuskhah (manuskrip) Ibnu Majah tidak terdapat tambahan itu seperti cetakan Sunan Ibnu Majah yang beredar, dengan tahqiq Syeikh Muhammad Fuad Abdul Baqi dan Dr. Muhammad Mushthafa al-A’zhomi, tidak terdapat kalimat tambahan itu, begitu juga dalam nuskhah (manuskrip) yang diberi catatan pinggir oleh ‘Allamah Al-Muhaddits As-Sindi tidak terdapat lafazh ‘wabarakatuh’. Sedangkan dalam manuskrip al-Maktabah al-Wathaniyah : Paris-Perancis terdapat tambahan lafazh ‘wabarakatuh’ dalam matannya.  Perselisihan manuskrip-manuskrip Ibnu Majah dalam masalah ini. Terdapat perbedaan di antara manuskrip-manuskrip Ibnu Majah yang ada, dalam penambahan lafazh “wabarakatuh”, sehingga sebagian ulama menetapkan adanya tambahan tersebut pada sunan Ibnu Majah, sedangkan sebagian lagi menolaknya. Argumentasi-argumentasi yang menetapkan bahwa ini ada dalam Sunan Ibnu Majah : 1. Lafazh tambahan ini terdapat pada beberapa manuskrip Ibnu Majah (tulisan tangan) di antaranya : a. Manuskrip Perpustakaan al-Wathaniyah, Paris Perancis, tersimpan di perpustakaan Universitas Madinah – bagian naskah no. film 1327- di 301 lembar, tahun penulisan 730. Dan dari jalan al-Hafidz adz-Dzahabi. b. Manuskrip Perpustakaan as-Sulaimaniyah, Turki dan tersimpan di perpustakaan naskah-naskah kuno di Universitas Madinah, film no. 8770 di 294 lembar. Letaknya pada jilid pertama, lembar 45. c. Manuskrip Turki kedua, yang tersimpan di perpustakaan Universitas Madinah bagian seksi naskah-naskah kuno, fotocopy (diperbesar) no.4066 di 236 lembar. Dan ini adalah naskah yang telah dibaca dan dicocokkan. Letaknya pada lembar 57/B. 2. Ibnu Hajar membenarkan adanya tambahan ini pada Sunan Ibnu Majah dari jalan yang sama (yaitu Ibnu Numair, perawi yang meriwayatkan secara langsung kepada Ibnu Majah). Itu ada pada perkataan beliau dalam Al-Talkhish al-Habir (1/271): “Perhatian: Terdapat tambahan wabarakatuh pada shahih Ibnu Hibban dari hadits Ibnu Mas’ud dan terdapat juga tambahan ini pada (hadits) Ibnu Majah, dan pada Abu Daud juga (namun) dari hadits Wail bin Hujr….” 3. Ibnu Hajar juga menetapkan di dalam kitabnya “Nata-ijul Afkar” (2/219-dst) bahwa tambahan itu ada pada Sunan Ibnu Majah, yaitu dengan memberi komentar terhadap perkataan Al-Hafizh An-Nawawi yang menyatakan bahwa riwayat dengan tambahan itu adalah riwayat bersendirian (di dalam al-Adzkar). “Aku katakan (Ibnu Hajar) : “Bahkan telah datang riwayat yang lain…” –kemudian beliau berkata : “Dan begitu juga dikeluarkan oleh Ibnu Majah dari Muhammad bin Abdullah bin Numair dari ‘Umar bin ‘Ubaid dari Abu Ishaq dari Abu al-Ahwash dan di dalamnya ada “wabarakatuh”. Maka telah terdapat beberapa jalan yang menjelaskan adanya (tambahan) wabarakatuh ini, dan ini menyelisihi apa yang disangkakan oleh asy-Syeikh (maksudnya Imam Nawawi) dalam perkataannya bahwa ini adalah riwayat yang bersendirian.” 4. Al-‘Allamah al-Amir as-Shan’ani dalam Subulussalam (1/395 no. 301) : “Dan hadits tentang dua salam telah diriwayatkan oleh 15 orang sahabat , ada yang shahih, hasan, dha’if dan matruk, semuanya tanpa tambahan ‘wabarakatuh’ kecuali riwayat Wail ini dan riwayat Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban … .” Berkata Ibnu Ruslan di dalam Syarhussunan : “Tidak kami temukan (wabarakatuh) di dalam Sunan Ibnu Majah. Aku katakan (As-Shan’ani) : Kita telah memeriksa kembali pada Sunan Ibnu Majah dari naskah yang benar dan dibaca, maka telah kita dapatkan tambahan itu pada lafazhnya, pada bab At-Taslim: … (kemudian beliau membawakan riwayat Ibnu Majah yang ada tambahan wabarakatuh). 5. Di dalam cetakan yang di tahqiq oleh Khalil Maimun Syaiha terhadap Sunan Ibnu Majah (1/493 no.1:914) terdapat lafazh ‘tambahan’ ini. Ini adalah cetakan yang baru, yang dicetak cetakan pertamanya pada tahun 1416 H, oleh percetakan Darul Ma’rifah Beirut dengan Distributornya Darul Muayyad Riyadh, dengan bersandarkan naskah dari Prancis yang telah kita sebutkan di atas (sesuai dengan pernyataan Muhaqqiq sendiri pada muqaddimahnya). Sebagian ulama yang lain menolak adanya tambahan itu seperti Ibnu Shalah yang terheran-heran dengan adanya tambahan itu, begitu juga Ibnu Ruslan mengatakan dalam Syarhussunan: “Kami tidak mendapatkan (tambahan itu) dalam Sunan Ibnu Majah.” Berkata pengarang kitab Ghayatul Maqshud : “Tetapi naskah Sunan Ibnu Majah yang dipegang oleh guru kami al-Muhaddits Nadzir Husain, aku kira itu adalah tulisan tangan Qadhi Tsana-ullah rahimahullah dan naskah yang bersama kita sekarang menguatkan perkataan Ibnu Ruslan, yaitu tidak ada tambahan itu.” Ini menunjukkan telah terjadi perbedaan nuskhah yang mereka pegangi, dan ini sudah terjadi sejak lama. Wallahu ta’ala a’lam.  Tahqiq : Riwayat Ibnu Majah ini dilemahkan sebagian ahli hadits dengan alasan bahwa Abu Ishaq as-Sabi’i adalah ‘Amru bin ‘Abdillah, seorang mudallis menurut an-Nasa-i dan Ibnu Hibban. Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan namanya dalam kitab “At-Thabaqat al-Mudallisin” (1/37 dan 1/42) dalam deretan orang yang melakukan tadlis dan meletakkannya dalam kelompok urutan ketiga , yang tidak diterima riwayat-riwayat mereka kecuali jika mereka meriwayatkannya dengan sharih (nyata) bahwa dia benar-benar telah mendengarnya, sedangkan dalam kitab at-Taqrib beliau tidak menyifatinya dengan tadlis. Kata beliau (Ibnu Hajar): “(Abu Ishaq as-Sabi’i) tsiqah, yang banyak meriwayatkan hadits, ahli ibadah dalam kelompok ketiga yang tercampur (rusak) hafalannya saat tuanya.” Dan Imam Adz-Dzahabi dalam al-Mizan (3/6393) berkata tentangnya: “Ketika tua, dia lupa dan tercampur ingatannya, dan telah berubah sedikit dan karena itu kita mendapatinya meng’an’an dalam sanad.” Dan lihatlah juga -jika anda mau- pada kitab Sualat al-Ajuri karya Abu Daud pada biografi tentangnya dan kitab al-Ma’rifah wa at-Tarikh pada biografi Abu Ishaq dan kitab al-‘Ilal karya ad-Daruquthni. Al-Albani menshahihkan riwayat Ibnu Majah ini ‘tanpa tambahan wabarakatuh’ dalam Shahih dan Dha’if Ibnu Majah, al-Irwa’ (346), Shifat Shalat Nabi, dan Shahih Abi Daud (914). Dan ketika mengomentari pernyataan As-Shan’ani dalam Subulussalam yang mengatakan adanya tambahan itu pada naskah Ibnu Majah, beliau (al-Albani) mengatakan tambahan ‘wabarakatuh’ itu “syadz” dari jalur-jalur lain yang datang dari Abu Ishaq .  Mutaba’ah Hadits Ibnu Majah Riwayat ini memiliki mutabi’ yaitu riwayat Ibnu Hibban: أخبرنا الفضل بن الحباب ، قال : حدثنا محمد بن كثير ، قال : أخبرنا سفيان ، عن أبي إسحاق ، عن أبي الأحوص ، عن عبد الله : « أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يسلم عن يمينه وعن يساره ، حتى يرى بياض خده ، السلام عليكم ورحمة الله ، السلام عليكم ورحمة الله وبركاته » “Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Fadhl bin al-Habab berkata : Menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir berkata : Mengkhabarkan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Abu al-Ahwash dari ‘Abdullah (Ibnu Mas’ud) bahwa Nabi mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri sampai terlihat putih pipinya, dengan ‘Assalamu’alaikum warahmatullah, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’. Riwayat Ibnu Hibban ini menguatkan sanad Ibnu Majah tadi dengan mutaba’ah Sufyan al-Tsauri pada ‘Umar bin ‘Ubaid at-Thanafisi (pada sanad Ibnu Majah), artinya Sufyan juga telah mendengarnya dari Abu Ishaq as-Siba’i bahkan lebih dahulu dari at-Thanafisi sendiri. Sebelum ikhtilathnya Abu Ishaq . Namun mutaba’ah inipun belum cukup, karena Abu Ishaq membawakan haditsnya dengan ‘an’anah, tidak secara jelas bahwa dia telah mendengarnya secara langsung dari Abu al-Ahwash, sehingga tuduhan bahwa ia melakukan tadlis dalam riwayat ini belum terangkat. Wallahu a’lam. Kemudian dalam riwayat Ibnu Hibban di atas juga kita dapati keanehan, karena salam dengan tambahan itu justru pada salam kedua (ke kiri) dan tidak ada pada salam ke kanan.  Mutaba’ah terbatas (Mutaba’ah Qashirah) Riwayat Ibnu Majah tadi juga memiliki mutabi’ terbatas yaitu Abu ad-Dhuha Muslim bin Shabih –seorang yang tsiqah yang memiliki keutamaan- dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Abdurrazaq as-Shan’ani di dalam al-Mushannaf (Kitab Shalat; Bab at-Taslim, 2/218 no.3127) dan juga dikeluarkan oleh at-Thabroni dalam al-Mu’jam al-Kabir (20/153 no.10177) dan Ibnu Hazm dalam al-Muhalla (3/275 no,masalah 376). Dari Sufyan al Tsauri dan Ma’mar dari Hammad bin Abu Sulaiman dari Abu ad-Dhuha dari Masruq dari Abdullah bin Mas’ud  berkata : (ما نسيت فيما نسيت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه كان يسلم عن يمينه: السلام عليكم ورحمة الله وبركاته، حتى يرى بياض خده، وعن يساره: السلام عليكم ورحمة الله وبركاته، حتى يرى بياض خده أيضا) “Aku tidak akan melupakan bahwa Rasulullah  telah mengucapkan salam ke kanan dengan ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’ sehingga terlihat putih pipi beliau dan ke kiri dengan ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’, hingga terlihat putih pipinya juga.” (Lafazd ini dari riwayat Ibnu Hajm dalam al-Muhalla (3/275, masalah no. 376) ) Tapi perlu diteliti lagi bahwa perawi yang bernama Hammad bin Abi Sulaiman seorang perawi yang lemah. Berkata Imam ad-Daruquthni tentangnya: “Lemah” (Sunan ad-Daruquthni 3/269). Al-Hafizh dalam at-Taqrib : “Faqih, jujur, memiliki wahm.” (1500). At-Thabroni dalam al-Mu’jam al-Kabir (20/153 no.10177) dari jalur ‘Abdul Malik bin al-Walid bin Ma’dan dari ‘Ashim bin Bahdalah dari Rizz bin Hubaisy dan Abu Wa-il dari Ibnu Mas’ud berkata : ( كأني أنظر إلى بياض خدي رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) يسلم عن يمينه : السلام عليكم ورحمة الله وبركاته وعن يساره : السلام عليكم ورحمة الله ) “Seakan-akan aku melihat putih pipi Rasulullah  ketika mengucapkan salam ke kanan dengan mengucapkan : “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” dan ke kiri dengan “Assalamu’alaikum warahmatullah”.” Mutabi’ terbatas kedua inipun memiliki kelemahan karena perawi yang bernama ‘Abdul Malik bin al-Walid adalah lemah (dha’if) sebagaimana yang dikatakan al-Hafizh dalam at-Taqrib, Ibnu Hibban juga mengatakan tentangnya : “Dia membolak-balikkan sanad-sanad dan tidak boleh berhujjah dengannya.” B. Riwayat Ibnu Khuzaimah.  Lafazhnya : Ibnu Mas’ud  berkata : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم « يسلم عن يمينه حتى يرى بياض خده ، السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ، وعن شماله حتى يبدو بياض خده ، السلام عليكم ورحمة الله وبركاته » “Rasulullah mengucapkan salam ke kanan sampai terlihat putih pipinya dengan mengucapkan ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’ dan mengucapkan salam ke kiri hingga terlihat putih pipinya dengan mengucapkan ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’.”  Takhrij dan Tahqiq Hadits. Dibawakan oleh Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya (Kitab Shalat, Bab Shifat Salam fi as-Sholah, 1/359-360 no. 728) dari jalan ‘Umar bin ‘Ubaid at Thanafisi dari Abu Ishaq as-Sabi’i dari Abu al-Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud . Berarti jalur periwayatannya sama dengan riwayat Ibnu Majah tadi, sehingga ‘illah hadits inipun sama ya’ni pada perawi yang bernama Abu Ishaq as-Sabi’i (‘Amru bin ‘Abdillah). C. Riwayat Ibnu Hibban.  Lafazhnya : Ibnu Mas’ud  berkata : أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يسلم عن يمينه وعن يساره ، حتى يرى بياض خده ، السلام عليكم ورحمة الله ، السلام عليكم ورحمة الله وبركاته “Bahwa Nabi mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri sampai terlihat putih pipinya, dengan ‘Assalamu’alaikum warahmatullah, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’.”  Takhrij dan Tahqiq Hadits. Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya (Kitab: Shalat, Bab: Fil Qunut, 5/333,no. 1993). Dengan sanad periwayatannya dari Al-Fadhl bin al-Habab dari Muhammad bin Katsir dari Sufyan dari Abu Ishaq dari Abu al-Ahwash dari Ibnu Mas’ud . Sudah kita bicarakan sanadnya pada mutaba’ah Riwayat Ibnu Majah, bahwa Sufyan al-Tsauri dan ‘Umar bin ‘Ubaid at-Thanafisi sama-sama telah mendengarnya dari Abu Ishaq as-Sabi’i. Walaupun ini merupakan mutaba’ah yang sempurna, namun keadaan Abu Ishaq sebagai mudallis tidak bisa hilang, kecuali jika beliau meriwayatkannya tidak dengan ‘an’anah. Wallahu a’lam.  Perbedaan manuskrip Ibnu Hibban. Dalam lafadz Ibnu Hibban di atas kita dapati bahwa lafazh tambahan justru terdapat pada salam yang kedua dan tidak terdapat pada salam pertama. Ini tentunya menimbulkan permasalahan bagi mereka yang menerima riwayat ini. Ada kemungkinan juga telah terjadi perbedaan dalam beberapa manuskrip Ibnu Hibban yang dipegang beberapa huffazh terdahulu dengan naskah yang beredar sekarang dengan cetakan al-Ihsan, dengan beberapa indikasi : 1. Al-Hafizh al-Haitami menetapkan adanya tambahan itu pada kedua salamnya dalam kitabnya “Mawaridul Zhom-an ila Zawa-id Ibni Hibban”. 2. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam At-Talkhis al-Kabir (1/271) berkata: “Perhatian : Terdapat tambahan ‘wabarakatuh’ pada Shahih Ibnu Hibban dari hadits Ibnu Mas’ud. Dan hal ini juga terjadi pada riwayat Ibnu Majah, dan pada sunan Abu Daud dari hadits Wa-il bin Hujr… ” 3. Ibnu Hajar juga berkata dalam Nata-ijul Afkar (2/221-223): “Dan Ibnu Hibban telah menambahkan ‘wabakatuh’ pada riwayat yang ditunjukkannya dari jalan Sufyan al-Tsauri. Dan begitu juga Abul ‘Abbas as-Sarraj dari jalan al-Tsauri dan jalan Isra-il … dan begitulah dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya, dari Abu Khalifah dari Muhammad bin Katsir dari Sufyan al-Tsauri dan menyebutkan ‘wabakatuh’ di dalamnya…”. 4. Al-Allamah As-Shan’ani dalam kitabnya Subulussalam (1/395) : “Dan hadits tentang dua salam telah diriwayatkan oleh 15 orang sahabat , ada yang shahih, hasan, dha’if dan matruk, semuanya tanpa tambahan ‘wabarakatuh’ kecuali riwayat Wail ini dan riwayat Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban… .” Kami katakan : Dengan pernyataan para Huffazh tadi memungkinkan terjadi perbedaan naskah Ibnu Majah yang mereka pegangi dalam lafazh “wabarakatuh” di matan riwayat ini, sedangkan dalam segi sanad sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya. Wallahu a’lam. D. Riwayat Ibnu Hazm.  Lafazhnya : Ibnu Mas’ud  berkata : ما نسيت فيما نسيت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه كان يسلم عن يمينه: السلام عليكم ورحمة الله وبركاته، حتى يرى بياض خده، وعن يساره: السلام عليكم ورحمة الله وبركاته، حتى يرى بياض خده أيضا “Aku tidak akan melupakan bahwa Rasulullah  telah mengucapkan salam ke kanan dengan ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’ sehingga terlihat putih pipinya dan ke kiri dengan ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’, hingga terlihat putih pipinya juga.”  Takhrij dan Tahqiq Hadits. Sudah kita bawakan takhrij dan tahqiqnya pada “Mutaba’ah terbatas riwayat Ibnu Majah”. Riwayatnya lemah karena adanya Hammad bin Abi Sulaiman. E. Riwayat al-Bazzar  Lafazhnya : Ibnu Mas’ud  berkata : « كنت أرى بياض وجه رسول الله صلى الله عليه وسلم عن يمينه ، وعن يساره السلام عليكم ورحمة الله وبركاته مرتين » “Aku melihat putih wajah Rasulullah  dari kanannya dan kirinya dengan mengucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” dua kali.”  Takhrij dan Tahqiq Hadits. Al-Bazzar mengeluarkan dalam musnadnya (5/19) dari Muhammad bin Mirdas dari Mahbub bin al-Hasan dari Abu Hamzah dari Ibrahim dari ‘Alqomah dari Abdullah bin Mas’ud . Riwayat ini lemah karena Abu Hamzah yang bernama Maimun al-A’war adalah perawi yang lemah. Imam Ahmad mengatakan dia matruk. An-Nasa’i juga mengatakan bahwa Abu Hamzah meriwayatkan dari Ibrahim tidaklah tsiqah. Hadits al-Bazzar ini memiliki mutabi’ dari riwayat Abu Ishaq dari Abdurrahman bin al-Aswad dari bapaknya (al-Aswad) dan ‘Alqomah dari Abdullah bin Mas’ud  yang dikeluarkan oleh at-Thabrani (al-Mu’jam al-Kabir), an-Nasa’i dalam sunannya, Ahmad dll. Namun riwayatnya lemah karena Abu Ishaq as-Sabi’i seorang mudallis dan jika shahihpun tidak bisa menguatkan adanya lafazh “wabarakatuh” pada salam karena tidak terdapat tambahan “wabarakatuh” pada riwayat ini.  Dari riwayat-riwayat yang telah kita bawakan tadi, tidak kita dapati sebuah riwayatpun yang bisa menguatkan tambahan ‘wabarakatuh’ pada salam, bahkan dari jalur-jalur yang lain yang memiliki muara yang sama yaitu dari Ibnu Mas’ud, tidak terdapat lafazh tambahan itu. Seperti yang dikeluarkan oleh Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra (2/177) dengan sanad yang shahih dari jalan Zakariya bin Abi Zaidah dari As-Sya’bi dari Masruq dari Abdullah bin Mas’ud, berkata: مَا نَسِيتُ مِنَ الأَشْيَاءِ فَلَمْ أَنْسَ تَسْلِيمَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى الصَّلاَةِ عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ « السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ». ثُمَّ قَالَ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ خَدَّيْهِ. “Aku tidak lupa hal-hal (penting), maka aku tidak pernah lupa salam Rasulullah dalam shalat dengan menoleh ke kanan dan ke kiri dengan mengucapkan ‘Assalamu’alaikum warahmatullah’ ‘Assalamu’alaikum warahmatullah’, kemudian beliau berkata: “Seakan-akan aku melihat putih kedua pipinya”. ” Perawi-perawi sanad ini tsiqah, namun tidak ada tambahan ‘wabarakatuh’, jika ada tentu para perawi yang terpercaya itu akan menukilnya. Ini menunjukkan bahwa riwayat dengan tambahan ini tidak terpelihara (syadz ). Juga dalam hadits Ibnu Mas’ud lainnya yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnadnya (8/464/no.5051) tidak terdapat tambahan itu kecuali pada salam pertama dan Ibnu Hibban dalam shahihnya juga tidak terdapat lafazh ‘wabarakatuh’ pada kedua salamnya.  2. Riwayat yang berasal dari Wail bin Hujr . Selain dari riwayat-riwayat Ibnu Mas’ud di atas, tambahan ‘wabarakatuh’ juga terdapat dalam riwayat yang berasal dari Wail bin Hujr ,  Matan hadits : Wail bin Hujr  berkata: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ وَعَنْ شِمَالِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّه وَبَرَكَاتُهُ “Aku telah shalat bersama Nabi, dan beliau mengucapkan salam ke kanan dengan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” dan ke kiri dengan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”.  Takhrij Haditsnya: Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya dari Musa bin Qais al-Hadhrami dari Salamah bin Kuhail dari ‘Alqomah bin Wail dari Bapaknya Wail bin Hujr. Hadits ini didiamkan oleh Abu Daud.  Tahqiq : Al-Albani mengatakan: “Sanadnya shahih dan perawinya semuanya adalah perawi hadits-hadits shahih” (Ashlu Sifat Shalat Nabi jld 3, hlm. 1025) dan dalam Irwa al-Ghalil (2/32). Telah dishahihkan oleh Abdul Haqq al-Isybili dalam al-Ahkam as-Syar’iyyah as-Shughra (1/235) dan Imam Nawawi dalam al-Majmu’ (3/459) dan Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram. Juga As-Shan’ani dalam Subulussalam (1/395). Sedangkan Ad-Daruquthni telah melemahkan (mencela) riwayat ini dan sebagian Ulama memperbincangkan apakah ‘Alqomah telah mendengarnya dari Bapaknya (Wail bin Hujr) atau tidak ..? Namun sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa ‘Alqomah telah bertemu dan mendengar dari bapaknya, sedangkan saudaranya ‘Abdul Jabbar bin Wail tidak pernah mendengar dari bapaknya sebuah haditspun.  Perselisihan Manuskrip. Lagi-lagi terjadi perselisihan dalam manuskrip Abu Daud yang dipegangi oleh para huffazh, dikarenakan sebagian naskah ada yang menetapkan tambahan itu hanya pada salam pertama saja dan tidak pada salam kedua. Ini adalah naskah Abu Daud yang beredar. Sedangkan sebagian naskah lain telah menetapkan tambahan itu pada kedua salamnya. Dalam cetakan Abu Daud yang beredar sekarang ini dengan tahqiq dari ‘Awwamah tidak terdapat tambahan ‘wabarakatuh’ pada salam kedua (hanya ada pada salam pertama). Tambahan ‘wabarakatuh’ pada salam kedua juga tidak kita dapati dalam riwayat Abu Daud yang terdapat pada al-Minhal al-‘Adzab dan al-Maurid Syarh Sunan Abu Daud karya ‘Allamah Muhammad Khatthab as-Subki (6/116). Begitu juga Syeikh al-Albani dalam Shahih Abi Daud membawakan haditsnya dengan menetapkan tambahan wabarakatuh pada salam pertama saja. Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Nata-ijul Afkar (2/222) : “Haditsnya hasan, dikeluarkan oleh Abu Daud dari ‘Ubadah bin ‘Abdullah dan as-Sarraj dari Muhammad bin Rafi’ , keduanya dari Yahya bin Adam, dan aku tidak mendapatkan dalam riwayat mereka tambahan ‘wabarakatuh’ pada salam kedua.” Sedangkan dalam Naskah Abu Daud di perpustakaan Universitas Madinah (naskah no.4541-diperbesar) dan ini merupakan naskah dari Yaman. Pemilik aslinya adalah Abdullah bin Isa, selesai dari penulisannya tanggal 13/1/1222 H, pada Kitab : As-Shalat, Bab Fi as-Salam (1/lembaran 198) terdapat tambahan ‘wabarakatuh’ pada salam pertama dan kedua. Naskah ini memang tidak disebutkan oleh Awwamah dalam muqaddimah (kata pengantar) tahqiqnya terhadap Sunan Abu Daud, tidak memasukkannya sebagai referensi acuan dari naskah-naskah Abu Daud yang beliau tahqiq dan kemungkinan beliau tidak mendapatkannya.!? Padahal naskah ini juga terdapat di Perpustakaan Manuskrip Universitas Madinah, yang beberapa naskah Abu Daud yang dia sebutkan di dalam muqaddimah (kata pengantar) tahqiqnya, telah beliau ambil dari Perpustakaan itu juga. !! Wallahu a’lam. Argumen-argumen mereka yang menetapkan adanya lafazh ‘wabarakatuh’ pada hadits Abu Daud di atas adalah : 1. Di dalam naskah tulisan tangan Abu Daud, naskah dari Yaman yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Madinah (sudah di sebutkan sebelumnya) 2. Sekumpulan ulama ahli Hadits dan Tahqiq terdahulu telah berpegang dengan naskah yang ada tambahan ‘wabarakatuh’ pada kedua salamnya. – Al-Hafizh Dhiya-uddin al-Maqdisi rahimahullah (wafat 643 H) pengarang kitab Al-Mukhtarah telah membawakan hadits ini dengan tambahan “wabarakatuh” pada kedua salamnya, kemudian memberi tanda (huruf dal) sebagai alamat bahwa dari Sunan Abu Daud. – Al-Hafizh An-Nawawi rahimahullah (wafat 676 H) di dalam al-Majmu’ (3/459), dan al-Adzkar juga membawakan hadits Abu Daud ini dengan tambahan wabarakatuh pada kedua salamnya. – Al-Hafizh Ibnu Daqiq al-‘Ied rahimahullah (wafat 702 H) juga meriwayatkan hadits ini dengan tambahan “wabarakatuh” juga, di dalam kitabnya Al-Ilmam (1/no.297/hlm.179). – Al-Hafizh Ibnu ‘Abdul Hadi rahimahullah (wafat 744 H) berkata : “Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih.” (al-Muharrar, Kitab as-Shalat, bab. Shifat Shalat) (1/207 no. 271) juga menyertakan tambahan itu. – Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Nata-ijul Afkar (2/222) : “Hadistnya hasan, dikeluarkan oleh Abu Daud dari ‘Ubadah bin Abdullah dan As-Sarraj dari Muhammad bin Rafi’, keduanya mengambilnya dari Yahya bin Adam, dan aku tidak melihat ada tambahan (wabarakatuh) pada salam kedua. Namun di dalam Bulughul Maram (no.316/95), beliau membawakan hadits Abu Daud ini dengan tambahan ‘wabarakatuh’ pada kedua salamnya. – ‘Allamah al-Amir as-Shan’ani menshahihkan hadits Abu Daud ini di dalam Subulussalam (1/395) dengan berkata : “Dan hadits tentang dua salam telah diriwayatkan oleh 15 orang sahabat , ada yang shahih, hasan, dha’if dan matruk, semuanya tanpa tambahan ‘wabarakatuh’ kecuali riwayat Wail ini dan riwayat Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Dengan shahihnya sanad hadits Wail ini sebagaimana yang dikatakan oleh Pengarang (maksudnya al-Hafizh Ibnu Hajar), jelaslah bahwa tambahan (wabarakatuh) bisa diterima, karena ini adalah tambahan yang adil, sedangkan tidak disebutkan dalam riwayat yang lain bukan untuk menafikan keberadaannya.” Sedangkan Syeikh Al-Albani ketika memberikan komentar hadits ini di dalam kitabnya Tamamul Minnah (hlm. 171), beliau berkata : “Aku katakan: Hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar (sanadnya shahih), tetapi di dalam naskah Sunan Abu Daud yang aku pegang tidak terdapat tambahan ‘wabarakatuh’ itu pada salam kedua. Yang ada hanya pada salam pertama saja, begitu juga dalam hadits Ibnu Mas’ud yang mauquf yang dikeluarkan oleh ath-Thayalisi dengan sanad yang para perawinya dipercaya dan at-Thabarani dalam al-Kabir (10191) secara marfu’ tidak terdapat tambahan itu pada salam kedua. Karena itu aku merajihkan di dalam Sifat Shalat Nabi, tidak menambah tambahan itu pada salam kedua sampai ada keterangan yang jelas yang bisa dijadikan hujjah.” Dan lihat juga perkataan beliau dalam Irwa-ul Ghalil (2/30-32) dan Mukhtashar Shahih Muslim (hlm.88). Syeikh al-Albani juga dalam Ashlu Sifat Shalat Nabi (1026) berkata : “Tambahan itu pada nuskhah Sunan Abu Daud yang kami miliki hanya pada salam yang pertama – sebagaimana yang kau lihat (pada naskah Abu Daud yang beredar)- . Maka aku tidak tahu apakah ini terjadi karena perbedaan nuskhah Sunan Abu Daud juga atau terjadi kekeliruan (Ibnu Hajar dan an-Nawawi) dalam menukilnya.?” Namun beliau menetapkan perbedaan nuskhah lah yang menjadi penyebab perselisihan ini dalam Shahih Sunan Abu Daud (4/155), kemudian beliau berkata : “Nuskhah kami dan nuskhah-nuskhah yang lain (yang sama-sama menetapkan tambahan hanya pada salam pertama) sesuai dengan kitab “Mukhtashar as-Sunan” (Ringkasan Abu Daud) karya al-Mundziri…, dan kemungkinan inilah nuskhah yang rajih.” Argumentasi lain yang dibawakan beliau untuk memilih nuskhah tersebut adalah sebuah analisa terhadap petunjuk Nabi  yang lebih mengutamakan sebelah kanan dari yang kiri dalam banyak hal. Kasus yang paling dekat yang menunjukkan itu adalah ucapan Rasulullah  yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar bahwa beliau ketika salam ke kanan dengan mengucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullah” dan kemudian beliau salam ke kiri dengan lafazh yang lebih pendek yaitu “Assalamu’alaikum”. Berkata al-Muhaddits as-Sindi rahimahullah: “Alasan Nabi menambah lafazh “warahmatullah” pada salam pertama adalah penghormatan terhadap ahli kanan dengan tambahan kebaikan, dan mencukupkan salam ke kiri dengan perkataan : “Assalamu’alaikum”. Dan telah ada riwayat bahwa beliau menambahkan “warahmatullah” pada salam ke kiri juga dan inilah yang hendaknya dipraktekkan terus. Dan kadang-kadang beliau meninggalkan tambahan itu (pada salam kedua).” Begitulah juga dalam permasalahan tambahan “wabarakatuh” dalam salam pertama, namun beliau (al-Albani rahimahullah) mengakui bahwa ini hanyalah sebuah analisa saja dari riwayat-riwayat yang ada dan dari naskhah yang beliau pegang, sehingga jika terbukti bahwa analisa ini bertentangan dengan nash yang shahih dari Nabi  maka, analisa ini wajib kita kesampingkan, dan wajib dia mengatakan dalam kondisi ini: إذا جاء الأثر بطل النظر ( “Jika telah datang atsar maka batallah analisa”). B. HADIST-HADITS YANG MAUQUF DALAM BAB INI. Ada beberapa riwayat yang dihukumi mauquf yang menyatakan tambahan “wabarakatuh” pada salam penutup shalat. Riwayat-riwayat itu adalah : 1. Atsar Abdullah bin Mas’ud  yang dikeluarkan oleh Abdurrazaq dalam al-Mushannaf (2/219) dari jalur Khushaib al-Jazari dari Abu ‘Ubaidah menceritakan: أن ابن مسعود كان يسلم عن يمينه السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ، وعن يساره السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ، يجهر بكلتيهما Bahwa Ibnu Mas’ud mengucapkan salam ke kanan dengan ‘Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, dan ke kiri dengan Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, dengan mengeraskan kedua salamnya itu. Tahqiq : Atsar ini lemah dengan dua alasan : a. Lemahnya Khushaib bin Abdirrahman al-Jazari. An-Nasa-i mengatakan : Dia tidak kuat (Lihat: di dalam Ad-Dhu’afa wal Matrukin 177). Ad-Daruquthni menganggapnya lemah (Su-alat al-Barqani/125). Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam At-Taqrib mengatakan : Dia jujur, jelek hafalannya, dan tercampur ingatannya pada akhir hayatnya. b. Terputusnya antara Abu ‘Ubaidah dengan Bapaknya Ibnu Mas’ud. Karena dia tidak pernah mendengar dari Bapaknya sedikitpun. Di dalam kitab Al-Ma’rifah wa at-Tarikh (2/551) dari ‘Amru bin Marrah berkata : Aku bertanya kepada Abu ‘Ubaidah; “Apakah engkau pernah melihat bapakmu?” Dia menjawab : Tidak pernah. At-Tirmidzi berkata : “Dia tidak mendengar dari bapaknya sedikitpun dan tidak diketahui nama (aslinya) (Lihat dalam Sunan at-Tirmidzi : hal 17, 179, 166, 622, 1714). Dan An-Nasa-i juga berkata : “Dia tidak pernah mendengar dari bapaknya”. 2. Atsar ‘Ammar bin Yasir  . Dikeluarkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam musnadnya (2/220) dari Ma’mar dari Abu Ishaq dari al-Harits: أن عمار بن ياسر كان يسلم عن يمينه السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ، وعن يساره مثل ذلك “Bahwa ‘Ammar bin Yasir mengucapkan salam ke kanan dengan “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh”, dan ke kiri seperti itu juga.” Tahqiq : Atsar ini lemah karena adanya Abu Ishaq, seorang mudallis yang telah dijelaskan sebelumnya pada tahqiq hadits Ibnu Mas’ud. Wallahu a’lam. 3. Atsar Ibnu Mas’ud yang dari jalan Ibnu Abi Laila (Abu Ma’mar) : قَالَ عَلَّمَنِى ابْنُ مَسْعُودٍ التَّشَهُّدَ وَقَالَ عَلَّمَنِيهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ الْقُرَآنِ « التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْنَا مَعَهُمُ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَيْنَا مَعَهُمْ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَصَلَوَاتُ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ». “Ibnu Mas’ud mengajariku tasyahhud dan berkata: “Rasulullah  telah mengajariku tasyahhud sebagaimana beliau telah mengajariku sebuah surah dari al-Quran – lafazh tasyahhud di atas- kemudian mengucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.” Dikeluarkan oleh Ad-Daruquthni dalam sunannya (3/484/no.1354). Tahqiq : Riwayat ini lemah karena Ibnu Mujahid adalah perawi yang dha’if, sebagaimana yang dikatakan Ad-Daruquthni sendiri dalam halaman yang sama. Bahkan dia lemah sekali dan Al-Tsauri telah mendustakannya. 4. Atsar Ibnu Mas’ud dari jalan al-Aswad bin Yazid. عن عبد الله ، « أنه كان يسلم عن يمينه : » السلام عليكم ورحمة الله وبركاته « ، وعن يساره : » السلام عليكم ورحمة الله “menceritakan tentang Abdullah (bin Mas’ud), bahwa beliau mengucapkan salam ke kanan dengan “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh” dan ke kiri dengan “Assalamu’alaikum warahmatullah”. (Dikeluarkan oleh At-Thoyalisi dalam musnadnya no.280) Tahqiq : Atsar ini diriwayatkan oleh Hammam dari ‘Atho’ bin as-Sa-ib dari ‘Abdurrahman bin al-Aswad dari Bapaknya ya’ni al-Aswad bin Yazid dari Abdullah bin Mas’ud. Para perawi atsar ini adalah perawi-perawi yang dipercaya, namun tambahan ‘wabarakatuh’ hanya terdapat pada salam pertamanya saja. Wallahu a’lam. Dari atsar-atsar yang kita bawakan tadi, ternyata hanya atsar Ibnu Mas’ud dari jalan al-Aswad bin Yasir yang memiliki sanad yang shahih. Pada asalnya hadits mauquf bukan merupakan hujjah, namun atsar/hadits yang mauquf seperti ini bisa menjadi penguat untuk hadits-hadits marfu’ yang lemah, karena kondisi Shahabat adalah mengamalkan sunnah Nabi  atau dalam kata lain mereka adalah orang yang paling bersungguh-sungguh dalam mengikuti Rasulullah . Jika kita mencermati perselisihan yang timbul di kalangan para ulama dalam masalah yang kita bahas ini, ternyata bersumber dari dua hal : Pertama; perbedaan pandangan terhadap hadits-hadits yang meriwayatkan tambahan “wabarakatuh” itu. Apakah haditsnya shahih atau tidak? Dan kedua; perbedaan manuskrip (naskah tulisan tangan) kitab-kitab hadits. Di sebagian manuskrip tertulis “tambahan itu” dan pada sebagian yang lain justru tidak ada, sehingga tambahan itu dianggap syadz atau tidak.? Inilah sumber perselisihan yang sering tidak dipahami oleh orang awam, sehingga mereka tidak bisa bersikap adil dan bijaksana dalam menyikapi perselisihan ini. Saling menuding satu dengan lain, padahal tidak mengetahui duduk perkaranya.  BAB IV KESIMPULAN Dari kajian dan penelusuran kita terhadap riwayat-riwayat yang ada dalam menjelaskan tentang tambahan lafazh “wabarakatuh” pada salam penutup shalat, dapatlah kami simpulkan bahwa: a. Diantara cara mengucapkan salam yang telah disepakati dengan dasar hadits-hadits yang banyak bahwa Nabi  menoleh ke kanan dan ke kiri ketika salam sehingga terlihat putih pipi beliau. b. Hadits Wail bin Hujr  tadi, yang diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Daud dalam Sunannya adalah hadits marfu’ yang paling kuat untuk menetapkan tambahan ‘wabarakatuh’ pada salam di akhir shalat, namun terjadi perselisihan dalam naskah-naskah Abu Daud yang ada dalam penetapan tambahan itu pada salam kedua. Di dalam naskah-naskah Sunan Abu Daud yang banyak beredar tambahan itu hanya pada salam pertama, sedangkan naskah yang lain menetapkan tambahan itu pada kedua salamnya. Dan atsar Ibnu Mas’ud dari jalan al-Aswad bin Yazid adalah adalah satu-satunya hadits mauquf yang shahih dalam bab ini dan juga meninggalkan tambahan itu pada salam kedua. c. Telah terjadi perselisihan dalam masalah tambahan ‘wabarakatuh’ pada salam di akhir shalat dalam 3 pendapat yaitu : 1. Tidak disyariatkan tambahan itu, baik di salam pertama maupun pada yang kedua. Sebagaimana perkataan Imam Nawawi di dalam al-Adzkar tadi dikarenakan riwayatnya menyelisihi riwayat-riwayat yang banyak dan masyhur. 2. Disyariatkan pada salam pertama saja dan tidak pada salam kedua. Ini adalah pendapat sebagian ulama seperti Syeikh Al-Albani, Syeikh Salim bin ‘Ied al-Hilali (dalam Shahih Kitab al-Adzkar) dan lain-lain. Dengan alasan pada naskah-naskah asli yang mereka pegangi dan cetakan yang beredar sekarang tidak terdapat tambahan itu melainkan hanya pada salam pertama. 3. Disyariatkan pada kedua salamnya. Ini pendapat Imam al-Haramain (dalam an-Nihayah), Zahir as-Sarkhasi (al-Madkhal fil Mukhtashar) dalam dan ar-Ruyani (dalam al-Hilyah). Juga Ibnu Hajar dan As-Shan’ani, karena adanya tambahan itu pada naskah yang mereka pegangi. Pendapat yang pertama jelas tidak bisa kita terima, karena riwayat yang masyhur bukan berarti harus menafikan (menolak) riwayat yang tidak masyhur tadi. Jika telah tsabit bahwa Rasulullah  telah melakukannya maka kita tidak boleh mengingkarinya. d. Dari dua pendapat ini (pendapat kedua dan ketiga), kita dapati kesepakatan mereka di dalam adanya tambahan itu dalam salam yang pertama, dan berselisih dalam salam kedua, disebabkan perbedaan naskah-naskah yang mereka pegangi dan argumentasi masing-masing mereka telah kami bawakan sebelumnya. Bagi mereka yang menganggap bahwa naskah yang tidak ada tambahan pada salam kedua sebagai naskah yang mu’tamad (dipegangi), maka dia meninggalkan tambahan itu pada salam kedua. Dan jika dia menganggap bahwa naskah yang memuat tambahan itu pada kedua salamnya sebagai naskah yang mu’tamad, maka dia menambah lafazh “wabarakatuh” itu pada kedua salam shalatnya. Perselisihan ini hendaknya bisa kita fahami dengan arif sebagai bagian dari perkara ijtihadiyah. Kaedah fiqh mengatakan: “Tidak ada pengingkaran dalam perkara ijtihadiyah”. Tidak selayaknya kita saling bermusuh-musuhan dalam perkara-perkara semacam ini, namun pintu dialog dan diskusi tetap bisa dibuka untuk menjelaskan permasalahan dan menguji argumentasi masing-masing dalam bingkai ukhuwah yang kokoh dan harmoni. e. Namun mesti diingat, dari riwayat-riwayat yang menjelaskan salam Nabi  di akhir shalat, dapat diketahui bahwa beliau lebih sering mencukupkan salam dengan ‘Assalamu’alaikum warahmatullah’ pada salam pertama dan kedua. Wallahu ta’ala a’lam. Inilah yang bisa kami persembahkan kepada mereka yang ingin mendapatkan penjelasan tentang perkara ini, Insya Allah Ta’ala. Kami memohon kepada Allah  semoga apa yang kita lakukan ini bermanfaat bagi kami dan kaum muslimin. Dan senantiasa kami mengharapkan teguran, kritik atau tanggapan atas tulisan ini untuk perbaikan dan menambah manfaat serta meningkatkan perhatian kita terhadap sunnah Nabi  yang banyak dicuaikan ummat ini. سبحانك ا للهم و بحمدك أشهد أن لاإله إلا أنت وأستغفرك وأتوب إليك  Referensi : • Shahih Muslim, karya Imam Abu Husain Muslim bin al Hajjaj al Qusyairi, Daru Tayyibah, • Sunan Abi Daud, karya Sulaiman bin Asy’ats as-Sijistani al-Azdi, Maktabah al Ma’arif Riyadh, • Sunan Ibnu Majah, karya Abu Abdillah Muhammad bin Yazid, Maktabah al Ma’arif Riyadh, • Sunan An-Nasa’i, karya Abu ‘Abdurrahman Ahmad bin Su’aib Jalaluddin as-Suyuthi, dengan catatan pinggir as-Sindi, Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi Libanon, • Sunan At-Tirmidzi, karya Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi, Darul Fikr, Beirut • Sunan Ad-Daruquthni, karya ‘Ali bin ‘Umar ad-Daruquthni, ‘Alamul Kutub Beirut, • Shahih Ibnu Hibban, karya Muhammad bin Hibban al-Busti, Darul Fikr, Beirut, • Musnad Ahmad bin Hambal, karya Ahmad bin Hambal asy-Syaibani, Daru Shadir, Beirut, • Musnad Imam Syafi’i, karya Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, Darul Fikr Beirut, • Syarah Shahih Muslim, karya Imam Nawawi, Darul Ma’rifah, • ‘Aunul Ma’bud, Syamsul Haqq al ‘Adzim Abadi, Darul Fikr, • Nailul Authar, karya Imam asy-Syaukani, Darul Jiil, Beirut, • Subulussalam syarh Bulughil Maram, karya Muhammad bin Isma’il ash-Shan’ani, Jam’iyyatul Ihya at-Turats al-Islami Kuwait, • Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab, karya Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, Darul Fikr, Beirut, • Silsilah al-Hadits ash-Shahihah, karya Muhammad Nashiruddin al-Albani, Maktabatul Ma’arif Jeddah, • Irwa’ul Ghalil fi Takhriji Ahaditsi Manaris Sabil, karya Muhammad Nashiruddin al-Albani, al-Maktab al-Islami, Beirut, • Shahih Sunan Abi Daud, karya Muhammad Nashiruddin al-Albani, Maktab at-Tarbiyah al-‘Arabi, • Ashlu Sifat Shalat Nabi, karya Muhammad Nashiruddin al-Albani, Maktabatul Ma’arif Jeddah, • Shahih Kitab al-Adzkar wa Dha’ifuhu, karya Salim bin ‘Ied al Hilali, Maktabah al-Ghuraba al-Atsariyyah Madinah an-Nabawiyah, • Takhilul ‘Ainain bi tsubuti lafadz ‘wabarakatuh’ fit taslimatain, tulisan Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim Husain al-Bukhari, Dosen Hadits di Universitas Madinah. • at-Tabshirah fi dzikri Ahaditsi Dha’ifah Musytahirah oleh Syeikh Abu ‘Umar Hay al-Hay. (Majalah Al Furqon,Jam’iyyatu Ihya at-Turats Kuwait) (hal.39, edisi 115) • Shahih Fiqh Sunnah, karya Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, al-Maktabah at-Taufiqiyyah. • Al Mu’jam al Jami’ fi Tarajumi al ‘Ulama wa Thalabatil ‘Ilmi al Mu’ashir. (software) • Al Maktabah asy-Syamilah versi 3.0 • Dan referensi-referensi yang lainnya. Assalamu’alaikum, ada sedikit kebingungakanku memasukkan hadits Daruqutni apa itu dimasukkan dalam hadits marfu’ atau mauquf haja. wassalam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s