Mendidik Anak


بسم الله الرحمن الرحيم

MENDIDIK  SI BUAH HATI

 

 

REALITA…

 

Buah hati ( baca : anak ) adalah idaman setiap hati nurani. Hari-hari  pertama yang dilalui sepasang sejoli senantiasa dipenuhi dengan angan dan ilusi…bagaimanakah cara supaya mereka mendapatkan si buah hati…yang akan menjadi hiburan bagi sang sejoli di hari tua nanti. Tapi…manusia hanya berusaha dan Allah I jualah yang menentukan, tidak setiap pasangan segera mendapatkan apa yang  mereka  idamkan, tak sedikit aral melintang menghadang tercapainya kebahagiaan. Tak sedikit pasangan yang tertunda dari apa yang mereka citakan, tapi mereka tak kenal bosan…tetap berusaha menyisihkan semua hambatan…sambil berdoa memohon belas kasih kepada Ar-Rohman. Hari demi hari mereka lalui…tahun demi tahun mereka jalani…tanpa kenal putus asa apalagi patah hati.  Sampailah saatnya Allah I  Yang Maha Pengasih  mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya, sang calon ibu telah mengandung si buah hati, dan dengan izin-Nya pula si dia terlahir ke dunia yang fana ini.

Waktu demi waktu berlalu, hari demi hari sudah terlampau, tahun demi tahun…si buah hati  semakin  lucu. Sang sejoli  terlupakan  akan keadaan mereka di masa lampau. Mereka lupa janji  mereka kepada Allah I, akan bersyukur kepada-Nya apabila mendapatkan buah hati walaupun cuma satu. Sikap mereka terlalu berlebihan, ekstrim kanan atau ekstrim kiri, mereka turuti semua permintaan  sang buah hati, mainan, makanan,dan semua yang berbau materi, sampai televisi yang akan menjadi guru privat sang anak ketika ditinggal sendiri. Atau  terdengar bentakan-bentakan penuh benci dan caci maki dari sang sejoli, ketika sang buah hati berbuat kesalahan  atau berulah dengan sesuatu yang membikin kesal hati. Disusul cubitan-cubitan, pukulan-pukulan dengan penuh kemarahan dan emosi. Mereka lupa saat mereka kalang kabut dari dokter umum sampai dokter pribadi, mereka lupa saat mereka menghiba-hiba di hadapan Ilahi…mereka  lupa bahwa semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya di hari kiamat nanti…

Mari kita renungkan firman Allah I berikut ini :

هو الذى خلقكم من نفس واحدة وجعل منها زوجها ليسكن إليها فلما تغشاها حملت حملا خفيفا فمرت به فلما أثقلت)

دعواالله ربهما لئن آتيتنا صالحا لنكونن من الشاكرين0 فلما آتاهما صالحا جعلا له شركاء فيما آتاهما فتعالى الله عما

يشركون )الأ عراف : 189 – 190

Artinya :

Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya  Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan( beberapa waktu ). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya ( suami istri ) bermohon kepada Allah seraya berkata : “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, niscaya kami akan menjadi orang-orang yang bersyukur”.

Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. 

Al Qur’an Surat Al A’raaf ayat 189 – 190.

BERSYUKUR ATAS NIKMAT ALLAH I

Kewajiban seorang muslim  adalah senantiasa bersyukur atas nikmat  Allah I yang telah dilimpahkan kepadanya dan tidak boleh mengingkarinya. Allah I berfirman :

( فاذ كروني أذ كركم واشكرولي ولا تكفرون )

Artinya :

Maka ingatlah kamu sekalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku dan jangan mengingkari ( nikmat )-Ku.

Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 152.

Bahkan Allah I menjanjikan kepada siapa saja yang bersyukur atas nikmat-Nya, maka Dia akan menambahnya, dan barang siapa mengingkari nikmat-Nya, maka Dia akan menyiksanya. Allah I berfirman :

( وإذ تأذن ربكم لئن شكرتم لأزيد نكم ولئن كفرتم إن عذابي لشد يد )

Artinya :

Dan ( ingatlah ) tatkala Rabb kalian memaklumkan : “Sesungguhya jika kalian bersyukur, niscaya Kami akan menambah ( nikmat ) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari ( nikmat-Ku ), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.

Al Qur’an surat Ibrahim ayat 7

Rasa syukur atas nikmat Allah I terwujudkan dengan tiga hal : hati, lisan dan perbuatan.

Hati harus senantiasa meyakini bahwa semua nikmat yang  dia rasakan adalah  anugerah dari     Ar Rahman, bukan semata-mata dari kekuatannya atau kemampuan.

Allah  I berfirman :

( وما بكم من نعمة فمن الله )

Artinya :

Dan nikmat apa saja yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah ( datangnya ).

Al Qur’an surat An Nahl ayat 53.

Lisan harus senantiasa basah mengucapkan syukur kepada Allah I dan dipenuhi pengakuan bahwa nikmat itu adalah karunia-Nya.

Perbuatan harus berusaha menjaga nikmat tersebut dan menggunakannya dalam rangka mencari ridho dari Al Mannaan.

Anak adalah salah satu nikmat Allah I atas para hamba-Nya yang harus senantiasa disyukuri. Allah I berfirman :

( المال والبنون زينة الحياة الد نيا والباقيات الصالحات خير عند ربك ثوابا وخير أملا )

Artinya :

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi pengharapan.

Al Qur’an surat Al Kahfi 46.

Usaha kita untuk mendidik anak ( menjaga sang anak dari segala hal yang merusak fitrahnya dan mengarahkan dia kepada hal-hal yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat) sesuai dengan syariat Islam adalah wujud nyata dari rasa syukur kita kepada AllahI atas nikmat “buah hati” yang  selalu kita idamkan.

KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB ORANG TUA TERHADAP ANAK

Mendidik anak, di samping merupakan kewajiban ( baca : wujud syukur ) orang tua terhadap Allah I, adalah merupakan kewajiban orang tua terhadap sang  anak itu sendiri ( hak anak yang wajib dipenuhi oleh orang tua ). Agama  Islam, dengan tegas telah memerintahkan  para pemeluknya untuk menjaga  diri dan keluarga mereka  supaya tidak terjerumus dalam api neraka. Allah I berfirman :

( ياايهاالذ ين آمنوا قوا أنفسكم وآهليكم نارا وقودها الناس والحجارة )

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.

Al Qur’an surat At Tahrim ayat 6.

Keselamatan dari api neraka ini tidak mungkin tercapai kecuali dengan cara membuat  tembok pembatas yang kuat antara mereka, keluarga mereka dan api neraka, yaitu dengan menjalankan segala perintah Allah I dan menjauhi segala larangan-Nya                                              ( inilah hakikat taqwa ). Hal ini sebagaimana disebutkan para ulama dalam menafsirkan ayat tersebut di atas. Berkata Abdullah bin Abbas dalam menafsirkan ayat ini : “Kerjakanlah segala ketaatan kepada Allah I, dan jauhilah segala kemaksiatan kepada-Nya, dan perintahlah keluarga kalian untuk berzikir kepada-Nya, niscaya Dia akan menyelamatkan kalian dari api neraka.”

Oleh sebab itu, maka sudah menjadi kewajiban setiap diri ( baca : orang tua ) untuk menjaga diri dan anak-anak mereka dari api neraka, dengan cara mengajari mereka  semua hal yang bisa mendekatkan diri mereka ke surga dan memperingatkan mereka dari segala hal yang bisa menjerumuskan diri mereka ke dalam neraka.

Setiap orang tua harus sadar bahwa ” buah hati ” mereka adalah amanah yang sangat berat yang dibebankan di atas pundak mereka, untuk dididik sesuai dengan ajaran Islam dan mereka akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hari kiamat. Nabi Muhammad r telah bersabda :

( كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته ، والرجل راع في أهله ومسؤول عن رعيته ، والمرأة راعية في بيت زوجها وهي مسؤولة عن رعيتها )

Artinya :

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanya tentang orang-orang yang dipimpinnya, setiap lelaki adalah pemimpin di rumah tangganya, dan dia akan ditanya tentang keluarganya, setiap wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang siapa saja yang dipimpinnya .

( Bukhori dan Muslim )

Kewajiban ini menjadi semakin tegas lagi tatkala agama Islam menerangkan ancaman bagi seorang kepala rumah tangga ( dan juga istrinya ) yang menyia-nyiakan anggota keluarganya dengan tidak memberikan nasehat dan pendidikan kepada mereka.

Nabi Muhammad r bersabda :

ما من عبد يسترعيه الله رعية يموت يوم يموت وهو غاش لرعيته إلا حرم الله عليه الجنة )  )

Artinya :

Setiap hamba yang oleh Allah I diberi kepemimpinan atas suatu kaum ( keluarga ), kemudian dia mati dalam keadaan mencurangi mereka, maka Allah I telah mengharamkan surga baginya.

( Bukhori dan Muslim )

Dalam lafal yang lain disebutkan :

( ما من عبد يسترعيه الله رعية فلم يحطها بنصحه إلا لم يرح رائحة الجنة )

Artinya :

Setiap hamba yang oleh Allah I diberi kepemimpinan atas suatu kaum, kemudian dia tidak memberi nasehat kepada mereka, maka dia tidak akan mencium bau surga.

( Bukhori dan Muslim )

Berkata Al imam Ibnul qoyyim ketika mengomentari hadis ini : “Betapa banyak orang-orang yang menjadi celaka dikarenakan oleh anak-anak mereka, yang merupakan ” buah hati ” mereka, hal itu karena mereka menyia-nyiakan ” buah hati ” mereka dan tidak mendidiknya, bahkan memotivasi ” buah hati ” mereka untuk memuaskan nafsu syahwatnya!! Sembari menyangka bahwa mereka telah memuliakan dan menyayangi        ” buah hati ” mereka, padahal mereka telah menghinakan dan mendholiminya!!! Mereka tidak bisa merasakan manfaat dari anak-anak mereka baik di dunia maupun di akhirat! Apabila kita perhatikan kenakalan dan kerusakan anak-anak, maka pada umumnya  kita dapatkan adalah berasal dari ( kesalahan ) orang tua mereka!” 

Sungguh benar yang beliau katakan, betapa banyak para orang tua yang menganggap sepele perkara ini ( pendidikan anak ), mereka seakan-akan lupa akan tanggung jawab mereka kelak di hadapan Allah I, seakan-akan mereka sama sekali tidak mau campur tangan terhadap urusan anak mereka, tidak perduli kemana anak mereka pergi, kapan mereka pulang ke rumah, siapakah teman-teman mereka, tidak pernah memberi pengarahan yang baik, bahkan tidak pernah melarang anak mereka dari kemungkaran!!

Dan yang lebih mengherankan dan mengenaskan, mereka lebih menyibukkan diri untuk mengumpulan uang dan melancarkan bisnis mereka yang berkelas tinggi! Padahal uang dan harta yang mereka kumpulkan mungkin hanya akan dinikmati oleh orang lain    ( jika dia mati ) sebelum dia bisa menikmati! Padahal pendidikan anak merekalah yang akan mendatangkan keuntungan yang tidak terputus-putus dan merupakan perdagangan yang tidak akan pernah rugi!

Mereka tidak sadar bahwa anak-anak , sebagaimana mereka butuh kepada makanan, minuman, pakaian, mereka juga butuh perhatian, pengarahan,dan didikan keimanan.

Seorang penyair berkata dengan penuh kesedihan :

Bukanlah seorang yatim, anak yang ditinggal mati orang tua

Dalam kesulitan  kehidupan dunia dan duta nestapa

Seorang yatim yang hakiki adalah anak yang bersua  

Sang ibu yang tak memperhatikannya dan ayah yang kerja tak kunjung reda..

 

ADA APA DI BALIK PENDIDIKAN SI BUAH HATI ?

Mungkin di antara mereka ada yang bertanya-tanya, apakah jika mereka mengerahkan segenap kemampuan untuk mendidik si buah hati, semua itu hanya untuk kebahagiaan anak mereka nanti? Ataukah mereka juga akan memetik hasilnya di hari nanti? Agama Islam telah menjawab pertanyaan yang muncul dari hati yang tengah bersemi nilai-nilai keimanan kepada anjuran Ilahi, Nabi Muhammad r telah bersabda, suatu perkataan yang tidak mungkin seorangpun mengingkari :

( إذا مات العبد انقطع عمله إلا من ثلاث : صد قة جارية ، أو علم ينتفع به بعد موته ، أو ولد صالح يدعو له )

Artinya :

Apabila seorang manusia telah meninggal dunia, maka semua amalannya akan terputus, kecuali dari tiga perkara, yaitu : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat bagi orang lain sepeninggalnya, anak saleh yang senantiasa mendoakannya. ( Muslim )

Hadis ini menjelaskan keutamaan seorang yang memiliki anak saleh yang senantiasa akan mendoakannya. Bahkan diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad bin hambal, bahwa seseorang akan dinaikkan derajatnya di dalam surga karena doa yang senantiasa dilantunkan oleh sang anak sepeninggalnya. Rasulullah  r bersabda :

( إن الله ليرفع الد رجة للعبد الصالح في الجنة فيقول : يا رب أنى لي هذه ؟ فيقول : باستغفار ولد ك لك )

Artinya :

Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba yang saleh di surga, hingga dia bertanya penuh keheranan : “Wahai Rabbku, dari mana aku mendapatkan kedudukan ( yang mulia ) ini ?” Maka Allah menjawab : “Ini semua adalah karena permintaan ampun dari anakmu untukmu.”

  

Hadis-hadis ini hendaklah semakin memacu para orang tua yang telah dikaruniai sang buah hati untuk semakin giat dalam mendidik mereka, karena keutamaan-keutamaan yang tersebut tidak bisa terwujud apabila anak mereka tidak tahu bagaimana beragama dan bahkan durhaka pada orang tuanya. Mudah-mudahan Allah I mengaruniai kita semua generasi yang bertakwa, yang mengantarkan kita kepada kebahagiaan, baik ketika kita masih hidup di dunia, maupun ketika sudah meninggal dunia…

Wallahu ta’ala a’lam bishshowab.

$$$

Iklan

2 comments on “Mendidik Anak

  1. blog anda bagus>>>
    saya ajungi jempol!!!!

    dan saya hanya sekedar mampir ya sekalian blogwalking!!!

    jika berniat liat blog saya kunjungin balik jja!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s