Hak Allah


Hak Allah dan

Kebahagiaan Hamba-Nya


الحمد لله رب العالمين, و الصلاة والسلام على إمام المتقين, نبينا محمد و على آله و أًصحابه أجمعين. أما بعد :

Sesungguhnya hak Allah terhadap hamba-Nya sangatlah banyak, yaitu seluruh apa-apa yang diperintahkan Allah kepada hamba-Nya, dan diantara hak Allah yang paling besar secara umum adalah at-tauhid. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam shahihain,?

Dari Mu`az r.a, dia berkata : ” Ketika saya sedang boncengan bersama Rasulullah SAW mengendarai unta yang bernama `ufair, maka Rasulullah SAW berkata : ” Ya Mu`az ! Apakah kamu mengetahui apa hak Allah atas hamba-Nya, dan apa hak  hamba atas Allah?” saya katakan : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : ” Sesungguhnya hak Allah atas hamba-Nya, (hamba tersebut) menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu (berbuat kesyirikan)”.

Hak yang agung ini adalah ikhlas dalam beragama semata-mata hanya untuk Allah, dan inilah yang dimaksud dengan bagian yang paling asas dalam agama dan juga porosnya, ibarat pondasi dalam sebuah bangunan, dan untuk menegakkan hak yang agung ini, Dia mengutus para Rasul dengan membawa wahyu dari-Nya berupa kitab-kitab suci dan karena perkara ini pula para anbiyaa’ alaihis shallatu wa salaam berdakwah, berjihad dan saling mencintai, Allah SWT berfirman :

”Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)”(Qs. Azumar:2-3)

‘Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat”(Qs. AlBayinah:5)

Dengan keterangan diatas, maka tauhid dapat diibaratkan dengan pondasi sebuah bangunan. Sebagimana  perkataan Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah-  : ” Barangsiapa yang berkeinginan untuk membangun bangunan yang tinggi, maka perkara yang wajib dilakukannya adalah memperkuat dan memperkokoh  pondasi bangunan tersebut disertai dengan pengawasan yang benar. Karena tingginya sebuah bangunan itu tergantung pada kekuatan dan kekokohan pondasi bangunan tersebut. Dan apabila keseluruhan amal dan derajat adalah bangunan, maka pondasinya adalah iman….. Orang yang arif, dia akan berusaha untuk menguatkan dan memperkokoh pondasi bangunannya, sedangkan orang yang jahil, dia akan terus meninggikan bangunannya tanpa memperhatikan pondasi bangunan tersebut, maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah ambruknya bangunan tersebut” Kemudian beliau menjelaskan asas (pondasi) tersebut, beliau berkata :” Asas (pondasi) ini terdiri dari dua perkara : yang pertama adalah pengetahuan yang benar terhadap Allah, perintah-Nya serta seluruh nama dan sifat-Nya. Yang kedua adalah ketaatan yang tulus kepada-Nya dan rasul-Nya SAW. Inilah pondasi yang amat kuat dan kokoh. Maka dengan pondasi seperti ini, seorang hamba bebas membangun bangunan setinggi apa yang ia inginkan, olehkarena itu, kokohkan pondasi, jaga kekuatan dan tetaplah semangat…” (Al-Fawaid, hlm :204).

Sebagaimana tauhid diibaratkan seperti pondasi dari sebuah bangunan, maka perkara pertama yang pertama dijumpai manusia  ketika mereka membaca awal dari Al-qur`an,

”Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”(Qs. Al Baqarah:12)

Kemudian setelah ayat tersebut, langsung dikaitkan dengan ayat yang menjelaskan larangan terhadap apa-apa yang bertentangan dengan tauhid, yaitu perbuatan syirk.

”Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu Mengetahui.”(Qs. Al Baqarah:22)

Perintah terbesar dari Allah adalah Tauhid dan larangan terbesar adalah syirik

Ketika musuh terbesar kita -syeitan yang terkutuk- mengetahui hal ini, maka ia mulai mengerahkan tipu daya serta para pembantunya untuk memalingkan hamba Allah dari tauhid, mulai dari memalingkan mereka dari mempelajari tauhid sampai kepada mengamalkan tauhid itu sendiri, hal ini menimpa para pendakwah dan orang-orang yang mereka dakwahi, bahkan hal ini juga menimpa para ulama dan keseluruhan umat muslim kecuali orang-orang yang Allah rahmati. Syeitan dan para pembantunya membuat para hamba Allah seolah-olah mereka berada dalam ilmu pengetahuan dan lingkukngan tauhid, dan menghiasi mereka dengan meninggalkan dakwah tauhid dengan alasan dakwah terhadap tauhid merenggangkan shaf (barisan) dan memecah belah persatuan, dan alasan lainnya, bahwa manusia tidak akan maju dan berkembang dengan dakwah tersebut, subhaana rabbi ! Bagaimana bisa mereka cenderung berpegang kepada alasan-alasan lemah yang tidak pernah disampaikan oleh para nabi dan rasul Allah sekalipun?. Itu disebabkan karena mereka para nabi dan rasul mengetahui –dengan pengetahuan yang Allah berikan kepada mereka-, bahwa maksud dan tujuan diutusnya mereka kepada manusia adalah untuk menancapkan tauhid dihati seluruh manusia untuk Tuhan mereka.

Dan contoh paling utama untuk umat muslim adalah Nabi kita sendiri, Muhammad SAW. Beliau tidak meninggalkan tauhid padahal beliau adalah seorang yang bertauhid, dan tidak pernah melupakan tauhid meskipun beliau berada dalam kepungan kaum musyrikin mekkah selama tiga tahun, dan beliau juga tidak pernah  berhenti untuk bersabda meskipun sudah jelas beliau berada di kota Madinah dan hidup diantara para sahabatnya yang senantiasa bertauhid dan menolongnya,   beliau tidak pernah menutup pintu masuk untuk tauhid setelah penaklukan mekkah,dan tidak pernah lalai sedikitpun dengannya meskipun beliau sedang berjihad berperang melawan musuh dan tidak tetap di tempat. Beliau bersama para sahabatnya juga memerangi orang-orang yang tidak ingin berbai`at atas tauhid dan meninggalkan syirik. Maka seluruh contoh  ini adalah dalil atau alasan yang menunjukkan kepada sangat penting dan besarnya perkara tauhid.

Bahkan para anbiyaa` Allah ailaihimus shalaatu wassalam, saling menasihati diantara mereka terhadap tauhid ketika menjelang akhir hayatnya, hal ini disebabkan karena pentingnya perintah tersebut. Sesungguhnya perhatian terbesar  manusia selama hidupnya, akan terlihat dari  wasiat yang ia tinggalkan kepada orang yang masih hidup ketika ruh akan dicabut dari jasadnya. Olehkarena itu, para anbiyaa` Allah alaihis shalaatu was salaam menjadikan tauhid sebagai tujuan  perhatian mereka. Allah SWT berfirman :   

”Dan Ibrahim Telah mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam. Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia Berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami Hanya tunduk patuh kepada-Nya”.(Qs Al Baqarah:132-133)

Orang yang paling utama adalah orang yang mendakwahkan tauhid dan menasehati dengan tauhid.

Hal ini disebabkan karena dakwah kepada tauhid adalah dakwah kepada derajat iman yang paling tinggi,

?

” iIman adalah bilangan dari satu sampai tujuh puluh atau dari satu sampai enam puluh bagian, maka yang paling utama (dari keseluruhan bagiannya) adalah laa ilaaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan, dan (sifat) malu salah satu bagian dari keseluruhan bagian iman” (H.R. Bukhori dan Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah : ” Dalam hadis ini Rasulullah SAW telah memperingatkan bahwa sesungguhnya bagian yang paling utama adalah tauhid yang berada pada setiap diri manusia, yang mana, tidak akan sah bagian yang lainnya kecuali setelah benar atau sah bagian yang paling utama tersebut (tauhid) ”  [ Shahih muslim bi syarhi an-nawawi (1/280) ].

Bahkan bagian yang paling utama ini tidak akan tumbuh di dalam hati seseorang dan tidak pula berbuah kepada anggota tubuhnya kecuali seorang hamba tersebut mampu untuk mengamalkan apa yang terkandung dalam makna kalimat thayyibah ini

Tauhid adalah perkara yang besar

Cukuplah membesarkan Yang Maha Besar -subhaanahu- , pada saat ini telah banyak kaum muslimin   yang mundur dan remeh terhadap perkara yang satu ini (tauhid), mereka menyangka bahwa  perkara ini adalah perkara yang telah ditetapkan dalam hati manusia yang tidak membutuhkan kepada perhatian dan pembelajaran yang lebih, dan disamping perkara (tauhid) ini, masih ada perkara yang lebih utama dan perlu untuk diperhatikan, sehingga  banyak kita dapatakan mereka mengaggap remeh kepada perkara ini bahkan tidak mempunyai kekuatan untuk memperjuangkannya. Sampai-sampai pemuda pada saat ini,  apabila ia menemukan saudaranya menggunakan halaqah (gelang jimat) ditangannya guna mennyembuhkannya penyakit, maka kita dapatkan pemuda tersebut seakan-akan tidak mengingkari terhadap hal tersebut. Akan tetapi dalam masalah zina dan pembunuhan, ia sangat  menghinakan hal tersebut, terlalu berlebihan bahkan sampai membesar-besarkannya. Perbuatan ini merupakan hal yang benar, karena zina dan pembunuhan adalah bagian dari  perbuatan dosa besar dan kita wajib untuk memperhatikan hal tersebut dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi memakai halaqah (gelang jimat) adalah perkara yang lebih bahkan amat sangat penting, karena dalam aqidah (keyakinan) ahlus sunnah wal jama`ah, pelaku dosa besar akan tetapi dia bertauhid maka ia tidak akan kekal dalam neraka, akan tetapi dia berada dibawah masyi`ah (kehendak) Allah, apabila Allah mengehendaki maka Dia akan mengampunkannya, dan apabila Ia mengehendaki maka Ia akan menyiksanya. Sedangkan pemakai  halaqah (gelang jimat) untuk pengobatan maka ia termasuk diantara dua pelaku kesyirikan, apakah itu pelaku kesyirikan kecil (syirkul asghar), atau pelaku kesyirikan besar (syirkul akbar)?. Maka, apabila ia memakai gelang tersebut meyakini bahwa benda tersebut hanya merupakan sebab untuk menyembuhkan penyakitnya, maka ini termasuk kepada syirik kecil, sedangkan apabila ia memakai benda tersebut degan keyakinan bahwa benda tersebutlah yang memberikan kesembuhan dengan sendirinya, maka ini termasuk pada syirik besar, dan pelakunya akan kekal dan dikekalkan selama-lamanya dalam neraka apabila ia meninggal  dalam keyakinan semacam ini.  Na`udzu billahi min dzaalik !.maka bagaimana  bisa perkara yang utama ini di akhirkan?! Padahal perkara yang utama dari yang utama adalah mentauhidkan Tuhan Pencipta Alam semesta  Sang  Maha Penyelamat dari kekekalan didalam siksaan neraka.

Dari Ibni Abi Hatim : dari Hudzaifah r.a, bahwa dia melihat seorang laki-laki memakai gelang untuk menghilangkan penyakit demam, maka ia meotong gelang tersebut, kemudian ia membaca :

ﭧ ﭨ ﭽ ﭩ  ﭪ  ﭫ  ﭬ  ﭭ      ﭮ  ﭯ  ﭰ  ﭼ

يوسف: ١٠٦

Maka bagaimana bisa mereka menyangka perkara tauhid perkara yang mudah dan gampang?! Atau bagaimana bisa mereka beralasan bahwa perkara tauhid ini telah ditetapkan dalam hati manusia tidak membutuhkan perhatian dan pembelajaran yang lebih lanjut, sedangkan saat ini banyak fitnah yang menyebar di antara kita dari segala arah dan penjuru dengan sasaran aqidah kita as-salafiyah. Apakah mereka tidak mendengar perkartaan lantang dari imaamul hunafaa` ibrahim -alaihis shalaatu wa salaam- yang mana beliau sangat takut terjerumus kedalam jurang kesyirikan.

”Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri Ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah Aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.”(Qs. Ibrahim:35)

Ibrahim at-taimi berkata : ” Siapa yang mengamankan kekacauan setelah kekasih Allah Ibrahim, ketika ia bersabda :

”Dan jauhkanlah Aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” ?!”.

Kewaspadaan Ahlut Tauhid

Ahlut tauhid sangat waspada terhadap pandangan dan dugaan yang tidak benar,  seperti kewaspadaan kepada orang yang mengatakan bahwa kita tidak membutuhkan pembelajaran tauhid dan juga pembelajaran apa-apa yang bertentangan dengannya, yaitu syirik. Pandagan seperti ini terjadi  karena kebodohan dalam masalah syirik kadang-kadang terjadi diakibatkan karena  ia tahu akan hal tersebut atau tidak sama sekali. Sebagaimana perkataan Amirul Mukminin Umar –radhiallahu anhu- : ”Sesungguhnya akan terlepas satu demi satu kancing pakaian islam dari kaum muslimim, apabila orang yang tidak mau tahu akan  kebodohan,  tumbuh besar dalam agama islam,”, dan apabila telah terlepas pakaian islam dari kaum muslimin maka tersebarlah kesyirikan dan tertolaklah amalan-amalan ibadah dan mereka termasuk kedalam golongan orang yang mendapatkan kerugian.

”Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”(Qs. azumar:65)

Olehkarena itu, meskipun umat ini telah mencapai kebenaran dari sisi tauhid, bahkan mencapai derajat kesempurnaan, akan tetapi kekurangan itu pasti akan muncul juga dalam diri  manusia. Dan kekurangan yang paling keji adalah kekurangn dalam keikhlasan dan kerusakan dalam tauhid. Oleh karena itu, Rasulullah SAW tidak pernah diam atau memberi toleransi dalam masalah yang menyangkut tentang kesyirikan, bahkan sampai akhir hayat beliau  -meskipun pada saat itu umat telah sampai kepada kekuatan yang paling tinggi dalam mentauhidkan Tuhan mereka dan juga dalam persatuan diantara  mereka- akan tetapi beliau tetap saja memberikan nasehat kepada umatnya sebelum kewafatannya :

?

”Ingatlah !, bahwasannya umat sebelum kamu, sungguh mereka telah menjadikan kuburan Nabi-nabi mereka sebagai masjid, dan ingatlah !, jangan sekali-kali kalian menjadikan kuburan sebagai mesjid, sesungguhnya aku (Muhammad SAW) melarang kalian dari perbuatan tersebut”  ( H.R. Muslim)

Perintah ini adalah perintah yang amat penting, agar umat yang beliau tinggalkan  tidak lalai dan melupakan hal tersebut.

Tauhid seorang ahlut tauhid

Wajib bagi kita untuk memperhatikan masalah tauhid dengan perhatian yang sungguh-sungguh, mempelajarinya dan juga mengajarkannya, mendakwahkannya dan mengingatkan tentangnya, dan waallahi sesungguhnya keamanan, hidayah, pertolongan dan ketentraman tidak akan pernah terjadi kecuali dengan menegakkan tauhid dan mencegah kesyirikan.

”Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”(Qs. Al An’am:82)

Dan dari Ibnu Mas`ud radhiallahu anhu, dia berkata : ”Ketika turun ayat

”Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Para sahabat Rasulullah SAW merasa terbebani dengan ayat ini, maka mereka bertanya kepada Rasulullah SAW : ” Ya Rasulullah! Siapakah diantara kami yang tidak pernah berbuat zalim kepada dirinya sendiri?”, maka Rasulullah menjawab : ” Sesungguhnya zalim (yang terdapat dalam ayat)  itu bukan sebagaimana yang kalian maksud, apakah kalian belum pernah mendegarkan perkataan Abdus Saaleh

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Sesungguhnya ia (maksud zalim pada ayat diatas) adalah syirik”. (Musnad Imam Ahmad)

Pembagian Tauhid

1. Tauhid Rububiyyah

Pengertian tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah dalam segala perbuatannya, dengan keyakinan bahwa Dialah satu-satunya Pencipta, Penguasa, Pengatur segala urusan alam semesta. Dan dalam bagian tauhid yang satu ini, seluruh manusia dari anak cucu Adam, tidak ada yang mengingkarinya kecuali hanya sebagian kecil dan sangat jarang. Hal ini disebabkan karena hati manusia telah diberikan fitrah agar mengakui dan meyakini bahwa Dialah Tuhan sekalian alam, dan keyakinan ini melebihi dari pada keyakinan manusia kepada selain-Nya yang ada di dalam alam semesta ini. Akan tetapi bagian tauhid ini belum memadai atau mencukupi untuk menjadikan seseorang sebagai orang yang bertauhid, kecuali Allah memberikan  hidayah kepada dua bagian tauhid lainnya, yaitu tauhid uluhiyyah dan tauhid asmaa` wa shifaat. Hal ini di karenakan Allah SWT telah mengabarkan kepada manusia melalui kitab-Nya, bahwa kaum musyrikin juga mengakui dan meyakini bagian tauhid rububiyyah ini, akan tetapi keyakinan dan pengakuan mereka tersebut sama sekali   tidak bermanfaat bagi mereka, dikarenakan mereka belum mengesakan Allah dalam ibadah, yaitu pengertian dari tauhid uluhiyyah.

Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata : ” Kalaulah bagian tauhid ini (tauhid rububiyyah) dapat menyelamatkan manusia dengan sendirinya, maka akan selamat pula kaum musyrikin. Olehkarena itu, adalah bagian tauhid uluhiyyah yang menjadi pembeda dan pemisah antara kaum musyrikin dan kaum muwwahhidin (kaum yang bertauhid)” [Madaarijus Saalikiin (1/324)].

2. Tauhid Uluhiyyah

Pengertian tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah, maka tidak boleh (haram) seorang hamba mendirikan shalat, berdoa, berkoban (menyembelih hewan) kecuali hanya untuk Allah, dan tidak pula thawaf kecuali di rumah-Nya (ka`bah), dan tidak pula beristighosah kepada orang yang telah meninggal (mayat) dan juga kepada sesuatu yang ghoib, dam tidak pula bertawakkal kecuali hanya kepada Sang Pemilik segala urusan dan ciptaan, Zat yang mempunyai sifat uluhiyyah, yaitu sifat yang merupakan bagian dari sifat-sifat kesempurnaan-Nya yang tidak dimiliki oleh selain-Nya. Olehkarena itu, tidak boleh (haram) bagi seorang hamba menyerahkan apapun dari bagian ibadahnya kepada selain Allah. Hanya Allah yang berhak memiliki ibadah hamba-Nya bukan lain-Nya. Dan bagian tauhid ini pula yang menjadi misi dakwah para rasulullah,

”Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”(Qs. Anahl:32)

”Katakanlah: “Sesungguhnya Aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.”(Qs. Azumar:11)

Seluruh rasul yang Allah utus kemuka bumi ini, memulai dakwah terhadap kaum mereka dengan perintah untuk mengesakan Allah dalam segala ibadah, yaitu pengertian dari Tauhid Uluhiyyah. Sebagaimana perkataan Nabi Nuh, Hud, Shaleh dan Syu`aib :

“Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), Aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).”(Qs. Al A’rof:59)

Dan sebagaimana sabda Nabi SAW :

?

” Sesungguhnya aku (Muhammad SAW) diutus untuk memerangi manusia, sehingga mereka bersyahadat bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah” (H.R. Bukhori dan Muslim)

Maksud syahadat dihadis tersebut adalah bersyahadat bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, atau pengesaan Allah dalam ibadah, dan bahwasannya Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya yang wajib untuk diikuti ajarannya.

Oleh karena itu, para rasul menjadikan bagian tauhid ini sebagai misi dakwah mereka, karena bagian tauhid ini adalah bagian paling asas (pondasi) yang akan dibangun diatas asas tersebut  seluruh bagian dari amal ibadah, maka tanpa menguatkan dan memperkokoh asas (pondasi)  tersebut tidak akan sah (diterima) seluruh amalan yang dikerjakan oleh seorang hamba. Penyebab tidak diteimanya ibadah adalah asas atau pondasi yang menjadi landasan amalan tersebut tidak kuat dan kokoh, sehingga muncul lawan dari pada tauhid tersebut, yaitu syirik.

”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar.”(QS. Annisa:48)

”Itulah petunjuk Allah, yang dengannya dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya di antara hamba-hambaNya. seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang Telah mereka kerjakan.”(Qs. Al An’am:88)

Dan bagian tauhid ini pula yang menjadi kewajiban yang paling utama bagi seorang hamba.

”Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa,”(Qs. Al An’am:151)

3. Tauhid Asma` wa Sifat

Pengertian tauhid asma` wa sifat adalah iman terhadap seluruh nama dan sifat yang telah Allah tetapkan atas dirinya, dengan tidak mentasybihkan, mentamsilkan, menta`tilkan, mentahrifkan, dan tidak pula mentakyifkan nama dan sifat yang dimiliki oleh Allah tersebut. Dialah Allah yang memiliki nama dan sifat-Nya yang mulia dan sempurna, Yang Maha Suci dari kekurangan, tidak ada yang mampu menyerupai sifat kesempurnaan-Nya dan tidak ada pula yang mampu menandingi kemuliaan-Nya.

Oleh karena itu, wajib bagi seorang muslimin menetapkan seluruh apa-apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya yang tedapat dalam Al-quran atau melalui lisan Nabi-Nya Rasulullah SAW,

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.”(Qs. Al  a’rof:18)

Jadi, apabila seorang muslim  telah menetapkan seluruh nama dan sifat bagi Allah sesuai dengan yang telah ditetapkan Allah bagi diri-Nya, maka dia akan berkenalan kepada Tuhannya dengan nama dan sifat tersebut.

Imam Ibnu Qayyim berkata : ” Ilmu (pengetahuan) terhadap zat (Allah) serta seluruh sifat dan perbuatan-Nya, akan mendatangkan ilmu (pengetahun) terhadap  hal selain-Nya. Oleh karena itu, secara zat-Nya, Dialah Tuhan sekalian alam dan Penguasanya, maka  ilmu (pengetahuan) semacam ini merupakan awal mula dari setiap ilmu lainnya dan dari ilmu ini pula akan berkembang ilmu lainnya. Jadi, barang siapa mengenal Allah maka ia akan mengetahui  hal selain-Nya, dan barang siapa yang jahil terhadap Tuhannya maka dia akan lebih jahil dengan hal selain Allah.

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri.”(Qs. Al Hasr:19)

Renungilah ayat ini, maka akan kamu akan  dapati makna yang sangat mulia dan agung, yaitu sesungguhnya barangsiapa yang lupa kepada Tuhannya maka dia telah melupakan zatnya dan dirinya sendiri, serta dia belum mengetahui hakikat dirinya dan apa yang bermanfaat bagi dirinya sendiri, bahkan ia lupa dimana letak kebaikan dan kemenangan bagi dirinya dalam kehidupannya di dunia ini dan di tempat ia akan kembali kelak. Sehingga ia menjadi orang mu`atthil (orang yangmeniadakan nama dan sifat Allah) yang remeh, maka derajatnya sama dengan kerbau atau sapi betina, atau mungkin kerbau tersebut lebih mendatangkan manfaat dari pada orang tersebut……dan maksud bahwa ilmu (pengetahuan) terhadap Allah merupakan asal mula seluruh ilmu adalah ilmu terhadap Allah tersebut merupakan asal mula ilmu seorang hamba terhadap hal-hal yang mampu meberikan ketenangan, kesempurnaan dan manfaat bagi dirinya baik di dunia maupun di akhirat kelak……..” [ Miftaahu daaris sa`aadah (1/86) ].

Dan beliau juga berkata : ” Manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah yang beribadah dengan segala nama dan sifat  yang diketahui oleh seluruh manusia” [ Madaarijus Saalikiin (1/420) ].

Pengetahuan seorang hamba terhadap Tuhannya akan mewariskan sifat malu kepada hamba tersebut yang datangnya dari Allah, dan juga kecintaan kepada-Nya, hati yang selalu terikat  kepada-Nya, kerinduan dengan perjumaan-Nya, kesenangan kepada-Nya, selalu ingat kepada-Nya, takut kepada-Nya dan  berserah diri kepada-Nya bahkan manusia akan saling bersaing dalam mendapatkannya, dan  dalam persaingan tersebut tidak ada perhitungan  kecuali bagi mereka yang telah Allah berikan pengetahuan terhadap diri-Nya dan yang dibukakan pintu hatinya untuk mengetahui diri-Nya sedangkan bagi selain mereka Allah menutup diri-Nya.

Ibnul Qayyim berkata : ” Kecintaan dan kerinduan akan datang dengan ilmu dan pengetahuan terhadap-Nya, maka sejauh mana kesempurnaan ilmu terhadap-Nya bertambah  sejauh itu pula kecintaan kepada-Nya akan bertambah  sempurna pula….maka barang siapa yang beriman kepada Allah beserta seluruh nama dan sifat-Nya dan dengannya (keimanan) dia menjadi lebih arif dan lebih cinta kepada-Nya, maka kelezatan ketika sampai kepada-Nya, berada disekitar-Nya, melihat wajah-Nya bahkan mendengar perkataan-Nya, akan bertambah sempurna pula….Jadi kesempilunnya adalah letak kesempuraan seorang hamba adalah dalam dua kekuatan ini : Ilmu dan cinta, maka ilmu yang paling utama adalah ilmu (pengetahuan) kepada Allah dan cinta yang paling tinggi adalah cinta kepada-Nya dan kenikmatan yang paling sempurna adalah kenikmatan yang disebabkan oleh keduanya (ilmu dan cinta).” [ Al-Fawaid (hlm : 70) ]

Malik bin dinar rahimahullah berkata : ” Sebagian penghuni dunia keluar (meninggalkan) dunia yang ia tempati, akan tetapi ia belum pernah merasakan sesuatu yang paling indah di dalamnya. maka bertanya sebagian orang : Apakah itu Aba Yahya? Ia berkata : ma`rifatullah `azza wa jalla” [ Al-Hilyah li Abii na`iim (156-57)]

Dan apabila kita menelaah kitabullah, maka hampir keseluruhan ayat yang terdapat didalamnya diakhiri dengan tadzkiir (peringatan) terhadap sebagian dari nama-nama Allah `azza wa jalla atau sebagai sifat dari sifat-sifat yang dimiliki-Nya. Seperti beberpa firaman Allah dibawah ini :

“Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Qs. AlHujrot:14)

“Dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana,”(Qs.Al Fatih:4)

“Ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan Ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”(Qs.Al Baqoroh:23)

“Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (Qs. At Taghabun:6)

Seluruh yang terdapat dalam ayat ini yang merupakan nama-nama Allah yang baik dan sifat-sifat-Nya yang mulia akan memberikan kesan didalam hati seorang yang  mengetahuinya, dan Allah akan senantiasa akan mengawasinya dalam segala urusannya, maka akan sempurna pula dengan pengetahuannya tersebut, kecintaannya, ketakutannya, dan pengharapannya kepada Allah SWT.

Oleh karena itu ketika Nuh `alaissalam mendakwahkan kaumnya, mereka (kaum Nuh) tidak memenuhi dakwahnya karena beliau mengetahui bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan terhadap kebesaran Allah.

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?”(Qs.Nuh:13)

Tafsir ayat ini adalah : ” Apakah yang menyebabkan kalian tidak memuliakan Allah dengan hak-Nya yang mulia “.  Sesungguhnya apabila makhluk memuliakan Allah maka mereka pasti tidak akan berbuat syirik kepada selain Allah, karena seluruh kebaikan berada ditangan-Nya,  jadi bagaimana bisa mereka   berlindung kepada selain-Nya ?! dan segala bentuk kesyirikan akan tertolak dari mereka dikarenakan kekuatan, kepekasaan dan kekuasaan-Nya, jadi bagaimana bisa mereka percaya kepada selain Allah ?!.

Dan apabila makhluk memuliakan Tuhan mereka maka akan hadir perasaan takut kepada-Nya dari dalam hati mereka sehingga tidak akan didapati dari mereka yang berbuat kemaksiatan, akibat perasaan tersebut mereka pasti akan menghindari seluruh perbuatan yang akan mendatangkan kemarahan-Nya, oleh karena itu mereka tidak akan berbuat kemaksiatan kepada Allah kecuali bagi mereka belum Allah takdirkan untuk berbuat demikian, karena takdir adalah hak Allah.

Dari Abi Al-aaliah, dia berkata : ” seluruh sahabat Rasulullah SAW berkata : ” seluruh perbuatan dosa yang dilakukan seorang hamba adalah akibat kebodohannya”.” Maksud bodoh disini adalah kebodohan kepada Allah. Ini semua menunjukkan  fiqh sahabah (pemahaman sahabat) -radhiallahu anhum ajma`iin- terhadap kitabullah azza wa jalla, dan juga menunjukkan pengetahuan mereka terhadap kandungan makna tauhid, yang memeberikan pengaruh sangat besar dalam mensucikan pemahaman dan pengetahuan mereka. Oleh karena itu, Nabi Yusuf berkata :

“Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu Aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah Aku termasuk orang-orang yang bodoh.”(QS.Yusuf:33)

Maka atas dasar ini semua, seorang hamba memiliki kewajiban agar tidak mengurangi sedikitpun dari hak Tuhannya, dan dia juga harus mengetahui bahwa setiap kali ia memuliakan hak Allah maka ia juga akan dimulikan dipandangan Allah, dan ia akan menjadi manusia yang paling bahagia di daarain (dunia dan akhirat).

Allah Berfirman:

“Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.”(Qs.Annur:55)

و آخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين,

وصلى الله و سلم على نبينا محمد و على أصحا به أجمعين.

[ Ringkasan bagian pertama dari kitab

“Sittu durar min ushuli ahlil atsar”

Lifadhilati as-syeikh Abdul Malik Ahmad Ramadhani ]

Penerjemah : Awang Muda Satria Bin Zuhri Azman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s