Tanya Jawab


Oleh Ustz. Arifin Badri

Assalamualaikum ustadz,

Jawab: Wa ‘alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Bagaimana kabarnya ?

Jawab: Alhamdulillah ana di sini dan juga rekan-rekan dalam keadaan baik, semoga antum demikian juga adanya.

Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq dan bimbingan kepada kita

Jawab: Amiin.

Ustadz ana bermaksud menanyakan beberapa masalah, ana berharap antum mau memberikan jawaban

berikut ini beberapa pertanyaan dari ana,

  1. bolehkah menerima subsidi seperti makanan pokok (sembako) dari pemerintah Indonesia yang uangnya diperoleh dari pajak, cukai, bunga bank ? apakah ada perincian ?

Jawab: Boleh menerima subsidi dari pemerintah, karena harta yang diperoleh pemerintah pada dasarnya adalah harta amanat yang harus disalurkan untuk masyarakat. Selama cara mendapatkannya dengan cara-cara yang dibenarkan oleh peraturan pemerintah, dan selama kita tidak tahu/yakin bahwa subsidi tersebut adalah hasil dari bunga bank, atau lainnya. Sebab pemerintah juga memiliki sumber pendapatan dari jalur yang halal dan dibenarkan dalam syariat. Dahulu Rasulullah e bertransaksi dengan orang-orang yahudi, padahal mereka (yahudi) meperoleh sebagian hartanya dengan cara menjual khomer, babi dll. Akan tetapi hal ini tidak menjadikan beliau e menghindari transaksi jual beli, bahkan hutang piutang dengan mereka, sebab transaksi yang dilakukan oleh Rasulullah e dengan mereka adalah tansaksi-transaksi yang halal dan selaras dengan syariat islam. Oleh karena itu para ulama’ menyebutkan kaidah: Harta yang diharamkan karena cara memperolehnya, bila berpindah tangan ke orang lain dengan cara yang benar, maka harta itu halal. Oleh karenanya seorang penjual/ pedagang tidak diharuskan untuk bertanya kepada setiap pembeli darinya: darimanakah pembeli itu memperoleh duitnya, padahal sangat dimungkinkan dari mereka ada yang memperoleh duitnya dari riba’ mencuri dll, selama cara ia berjual-beli atau berdagang dibenarkan dalam syariat.

  1. bolehkah meminta kepada pemerintah Indonesia bantuan dana untuk memperbesar usaha, belajar ke luar negeri yang dana tersebut kita tidak mengetahui dari mana diperolehnya ? dan jika kita tahu dari cukai apakah boleh ?

Jawab:Kalau kita tidak tahu dari mana sumber dana tersebut, maka dibolehkan kita mengajukan permintaan dana itu atau beasiswa itu, akan tetapi bila kita tahu bahwa dana beasiswa atau bantuan itu berasal dari sumber yang haram, cukai atau bunga bank, atau yang serupa, maka kita tidak boleh menerimanya, agar tidak terjerumus ke dalam kerjasama dalam kemungkaran dan perbuatan dosa.

  1. bolehkah bekerja di instansi pemerintah ? apakah ada perincian misalnya kalau di departemen pariwisata tidak boleh sedangkan kalau di departemen kehutanan boleh ? begitu pula dengan gaji yang diperoleh dari berbagai macam sumber baik yang halal/ yang haram  ? bolehkah diterima ?

Jawab: Boleh bekerja diinstansi pemerintah, asal instansi itu bergerak dalam hal-hal yang tidak melanggar syariat, misalnya, sebagai tenaga pengajar, berbagai departemen yang bergerak dalam bidang yang halal. Dan gaji yang diperolehpun halal. Adapun instansi pemerintah yang sebagian atau banyak dari tugasnya dalam bidang yang tidak selaras dengan syari’at, misal instansi perpajakan, pariwisata, maka lebih baik tidak mendaftarkan diri kesana, agar tidak terjerumus dalam hal kerjasama dalam perbuatan dosa.

  1. apakah sah jual beli dengan seseorang yang dia bermualah ribawi ? uang yang kita terima dari jual beli tersebut bagaimana ?

Jawab: Bila kita dapat menasehatinya agar ia meninggalkan praktek-praktek ribanya, maka itu harus/wajib kita lakukan. Dan bila tidak dapat menasehatinya, maka kita dianjurkan untuk tidak bertransaksi dengannya, dengan tujuan agar ia menyadari akan kesalahan atau dosanya. Akan tetapi bila tindakan pemboikotan ini tidak ada gunanya, bahkan ditakutkan akan menimbulkan berbagai fitnah dimasyarakat, maka kita tidak mengapa untuk berjual beli dengannya, asalkan transaksi jual-beli yang kita lakukan tidak ada kaitannya dengan kegiatan riba yang ia lakukan. Nabi e dahulu bertransaksi jual-beli dengan orang yahudi, padahal mereka melakukan praktek riba, jual khomer dll.

  1. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang pakaian berwarna mua’ashfar (kuning) waktu belajar kitab Ad Darori Al Mudhiyah karya Imam Syaukani rahimahullah belum secara jelas dhobit dari mu’ashfar ? mohon penjelasan.

Jawab: Mua’ashfar ialah pakaian yang dicelup dengan tumbuhan yang berwarna kuning kemerah-merahan, dan dalam hadits Nabi e menyebutkan alasan dilarangnya pakaian jenis ini, yaitu: karena pakaian ini adalah pakaian orang-orang kafir. Oleh karena itu yang benar dari pendapat para ulama’ adalah pakaian yang berwarna kuning kemerah-merahan atau merah adalah haram, karena tasyabuh dengan orang kafir. Bila antum perhatikan, maka pakaian semacam ini di negri kita –biasanya- dipakai oleh para biksu atau pendeta agama hindu.

  1. Kalau seseorang kencing terus ada penyakitnya (tsulutsul baul) bagaimana dengan seseorang yang kentut terus (sering sekali) bisa diqiyaskan seperti kencing yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallammemberikan udzur dengan keadaanya itu, dalam sholat misalnya

Jawab: Pada dasarnya kalau benar-benar sakit tidak dapat menahan kentut atau kencing maka hukumnya sama. Yang ditakutkan hal ini bukan benar-benar penyakit, akan tetapi was-was, dan inilah yang sering terjadi. Dan bila kenyataannya demikian ini, maka hukumnya tidak perlu dirisaukan, perasaan seakan-akan ada udara yang keluar atau ada tetes air kencing yang keluar, harus ditinggalkan dan tidak perlu dihiraukan, karena itu semua adalah ulah setan yang menggoda seorang mukmin agar dapat merusak ibadahnya.

شكي إلى النبي  e الرجل يخيل إليه  أنه يجد الشيء في الصلاة قال: لا ينصرف حتى يسمع صوتا أو يجد ريحا

“Seseorang dilaporkan kepada Nabi e, bahwa ia dikhayalkan bahwa ia merasakan sesuatu dalam shalatnya? Beliau menjawab: Janganlah ia meninggalkan shalatnya, hingga ia benar-benar mendengar suara (kentut) atau mencium bau (kentut). Muttafaqun ‘Alaih.

  1. tentang bank syariah di Indonesia :

a)      mengenai bank-bank syariah yang sementara ini mulai banyak di Indonesia, seperti bank mandiri syari’ah, BNI syari’ah, apakah pada kenyataannya bank ini telah sesuai dengan syari’ah atau tidak ..? seandainya tidak, mohon dijelaskan letak kesalahannya .

Jawab: Hal ini memerlukan survei lapangan, agar kita dapat memahami dengan benar dan lengkap tentang metode dan sistem yang diterapkan oleh masing-masing bank. Akan tetapi dengan sistem perbankan yang diterapkan di Indonesia, sangat sulit untuk menerapkan sistem perbankan yang benar-benar islami, dan terhindar dari praktek-praktek riba atau memakan harta orang lain dengan cara-cara yang tidak dibenarkan oleh syari’at. Oleh karena itu, lebih baik kita menghindari dan meninggalkan setiap bunga, atau bagi hasil atau yang serupa yang didapatkan dari bank-bank tersebut. Akan tetapi sekali lagi ana tekankan, kita harus melakukan study lapang terhadap bank-bank yang ada, agar kita dapat sampai pada kesimpulan hukum yang jelasa dan dapat dipertanggung jawabkan.

b)      kemudian, keterhubungan bank syariah ini dengan induknya yang masih berupa bank konvesional (missal BNI syariah dengan BNI-nya),  apakah menjadikan bank syari’ah ini bersistem ribawi ?

Jawab: Inilah salah satu sebab mengapa saya katakan bahwa sistem perbankan di indonesia sulit atau bahkan mustahil untuk dapat menerapkan atau mendirikan satu bank yang benar-benar terbebas dari riba atau praktek-praktek yang diharamkan. Wallahu a’alam bisshawab.

Mungkin ini dulu pertanyaan dari ana, jazakallahu khair

Jawab: Wa Jazakumullah khairan wa baraka fikum.

Wassalamu’alaikum

Jawab: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s