Hadits Jibril


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه، وبعد:

Hadits no: 2 (Hadits jibril)

عن عمر بن الخطاب –رضي الله عنه – قال: بينما نحن عند رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ذات يوم إذ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شديدُ بياضِ الثِّيَابِ، شديدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرى عليه أثرُ السفر، ولا يعرفه منا أحدٌ، حتى جلس إلى النبي صلى الله عليه وسلم فأسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إلى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ على فَخِذَيْهِ وقال: يا محمد أخبرني عن الإسلام؟ فقال رسول الله  صلى الله عليه وسلم:  (الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله  صلى الله عليه وسلم وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا)) قال: صدقت، قال فعجبنا له يسأله ويصدقه قال: فأخبرني عن الإيمان؟ قال: ((أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره)) قال: صدقت، قال فأخبرني عن الإحسان؟ قال: ((أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك)) قال: فأخبرني عن السَّاعَةِ؟ قال: ((ما المسئول عنها بأعلم من السائل)) قال: فأخبرني عن أماراتها؟ قال: ((أن تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا وأن تَرَى الحُفَاةَ العُرَاةَ العَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ)) قال: ثم انطلق فلبثت مليا ثم قال لي: (يا عمر أتدري من السائل) قلت: الله ورسوله أعلم، قال: ((فإنه جبريل أتاكم يعلمكم دينكم)). رواه مسلم في أول صحيحه رقم (8).

Hadits Ini dikenal dengan Jibril, ia adalah hadits yang sangat penting, bahkan sebagian ulama menamakannya dengan Ummus sunnah (ibu sunnah) sebagaimana surat Al fatihah dinamakan dengan Ummul Qur’an, karena mencakup prinsip prinsip sunnah secara keseluruhan, syari’at, aqidah, adab dan akhlaq serta sebagian dari hal yang gaib, oleh karena itu Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam- mengatakan diakhir hadits: “Ini adalah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalien” setelah beliau menjelaskan makna islam, iman dan ihsan serta sebagian tanda tanda kiamat yang merupakan hal yang gaib, dan menjadikan semuanya sebagai agama”.

Pada kesempatan yang terbatas ini kita tidak akan membahas hadits diatas secara mendetail, akan tetapi akan difokuskan tentang defenisi Iman dan islam serta prinsip prinsip dasar yang berkenaan dengan iman menurut aqidah Ahlissunnah Waljama’ah, perbedaan antara iman dan islam, apakah iman bertambah dan berkurang, serta defenisi iman menurut ahlul bid’ah dan sikap mereka terhadap orang yang melakukan dosa serta sikap yang benar dalam hal ini.

Perbedaan antara Islam dan Iman

Dalam hadits diatas Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam- menafsirkan islam dengan amalan anggota yang zdohir dari perkataaan dan perbuatan, yang pertama : Syahadatain, karena makna syahada dalam bahasa arab adalah: ( الاعتقاد، والإخبار والإعلام ) (Keyakinan, penghabaran dan pernyataan), begitu juga maknanya dalam syari’at, maka barangsiapa yang menyakini syahadatain tetapi ia tidak menyatakannya dalam bentuk lisan dan amalan, bukanlah ia seorang muslim.

Kemudian sholat, zakat, puasa dan haji bagi yang mampu, ini terbagi kepada tiga macam, pertama: Ibadah fisik yaitu: sholat dan puasa, kedua: ibadah yang berkaitan dengan materi: yaitu zakat, dan ketiga: Ibadah fisik dan materi yaitu haji bagi yang jauh dari makkah.

Kesemuanya ini menjelaskan bahwa seluruh amalan dan kewajiban yang dzohir termasuk kedalam pengertian iman.

Kemudian beliau menafsirkan iman dengan keyakinan batin (hati), yaitu : iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhirat dan Qodar baik atau buruk”.

Sementara disisi lain didapatkan ayat dan hadits-hadits yang menafsirkan iman dengan amalan yang dzohir, seperti hadits utusan Abdulqais, hadits syu’batul iman (cabang-cabang keimanan) dll.

وفي الصحيحين عن ابن عباس –رضي الله عنهما- أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لوفد عبد القيس: ((آمركم بأربع : الإيمان بالله، وهل تدرون ما الإيمان بالله؟ شهادة أن لا إله إلا الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وأن تعطوا من المغانم الخُمُسَ)) [البخاري (2/7) ومسلم رقم: 17).

وفي الصحيحين عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((الإيمان بضع وسبعون، أو بضع وستون شعبة، فأفضلها : قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياة شعبة من الإيمان)) واللفظ لمسلم [البخاري (1/51) ومسلم رقم : 35].

Jadi seola ola hal ini bertentangan, akan tetapi siapa yang diberi oleh Allah kepahaman dan ilmu niscaya akan mengetahui bahwa diantara kedua hadits diatas tidak bertentangan, dan akan mengetahui perbedaan diantara iman dan islam tatkala didapatkan dalam satu nash (ayat dan hadits) dan maksudnya tatkala masing masing dari lafaznya didapatkan dalam nash yang berbeda.

Untuk menjawab pertanyaan diatas maka mesti memahami kaedah yang penting yang berkaitan dengan lafadz dan istilah-istilah agama yang senada maknanya, kaedah ini berbunyi sebagai berikut:

(إن من الأسماء ما يكون شاملا لمسميات متعددة عند إفراده وإطلاقه، فإذا قرن ذلك الاسم بغيره، صار دالا على بعض تلك المسميات، والاسم المقرون به دال على باقيها). جامع العلوم والحكم 1/79.

“Sesungguhnya sebagian nama (istilah) itu mencakup pengertian yang banyak tatkala dalam keadaan tunggal, apabila disertai dengan nama yang lain maka ia akan menjelaskan (mencakup) sebagian makn tersebut, dan nama (istilah) yang lain menjelaskan makna yang selebihnya”.

Atau dengan redaksi lain:

(إن من الأسماء ما إذا اجتمعا افترقا، وإذا افترقا اجتمعا) انظر: شرح العقيدة الطحاوية، ص 394.

Diantara nama-nama (istilah) tersebut apabila (dua lafaz) berkumpul akan terpisah, dan apabilah terpisah akan berkumpul”.

Sebagai contoh: lafadz (الفقير) dan (المسكين)  apabila sala satu dari keduanya disebutkan secara tunggal maka maknanya akan mencakup seluruh orang yang membutuhkan, akan tetapi apabila keduanya disebutkan secara bersamaan maka salah satu dari keduanya menunjukkan kepada sebagian jenis orang yang membutuhkan dan yang lain menunjukkan kepada selebihnya.

Begini juga hal dengan lafadz islam dan iman, apabilah sala satu dari keduanya disebutkan secara tersendiri maka akan mencakup makna yang lain, dan apabila disebutkan keduanya secara bersamaan maka salah satu darinya mencakup sebagian makna saja sementara yang lain mencakup makna selebihnya([1]).

قال الإمام الإسماعيلي (ت371هـ): (قال كثير من أهل السنة والجماعة : إن الإيمان قول وعمل، والإسلام فعل ما فرض على الإنسان أن يفعله، إذا ذكر كل اسم على حدته مضمونا إلى الآخر، فقيل: المؤمنون والمسلمون جميعا مفردين، إريد بأحدهما معنى لم يُرَدْ بالآخر، وإذا ذكر أحد الاسمين شَمِل الكلَّ وعمهم) نقله ابن رجب في جامع العلوم والحكم 1/79، وانظر أيضا: معالم السنن، للخطابي، 4/321

Imam Ibnu Rajab berkata : “Apabila masing masing dari islam dan iman disebutkan secara tersendiri, maka tidak ada perbedaan diantara keduanya, apabila disebutkan secara bersamaan maka diantara keduanya ada perbedaan, perbedaannya: bahwa iman adalah keyakinan hati, pengakuan dan pengetahuannya, sedangkan islam ialah: Berserah diri kepada Allah, tunduk dan patuh kepadaNya dengan amalan, dan itulah agama, sebagaimana Allah menamakan Islam didalam Al Qur’an sebagai Agama, dalam hadits Jibril Rasullullah menamakan Islam, Iman dan Ihsan sebagai Agama. Ini juga diantara hal yang menjelaskan bahwa salah satu dari dua nama tersebut apabila disebutkan secara tersendiri ia mencakup makna yang lain, dan hanya dibedakan diantara keduanya apabila disebutkan secara bersamaan, maka tatkala itu pengertian iman adalah: Jenis keyakinan hati, sedangkan islam adalah jenis amalan”([2]).

Dalam hadits Jibril diatas Rasulullah –shalallahu’alaihi wasallam- membagi agama kepada tiga tingkatan: yang tertinggi adalah Ihsan, kemudian iman setelah baru islam, maka setiap muhsin adalah mukmin, setiap mukmin adalah muslim dan tidaklah setiap muslim mukmin([3]).

Maksud (setiap mukmin adalah muslim) adalah: barangsiapa yang telah merealisasikan keimanan dan telah tertanam dihatinya maka ia pasti akan melakukan amalan (kewajiban) islam, sebagaimana sabda Rasulullah –shalallahu’alahii wasallam- Ketahuilah bahwa dalam tubuh itu ada segumpal darah, apabila ia baik maka akan baik pula seluruh tubuh (perbuatannya) dan apabila ia rusak maka akan rusak pula seluruh (perbuatan) tubuhnya, itulah hati”.Maka tidaklah terwujud keimanan didalam hati kecuali anggota tubuh akan ikut bergerak untuk melakukan amalan (kewajiban) islam.

Dan (Tidaklah setiap muslim itu mukmin) maksudnya: Karena terkadang keimanan seseorang itu melemah sehingga ia tidak bisa mewujudkan keimanan didalam hatinya secara sempurna dan melaksanakan kewajiban islam dengan anggota tubuhnya, maka dengan demikian jadilah ia seorang muslim, bukan seorang mukmin yang sejati (sempurna), sebagaimana firman Allah Ta’ala :

{قالت الأعراب آمنا قل لم تؤمنوا ولكن قولوا أسلمنا ولما يدخل الإيمان في قلوبكم} [الحجرات، 14].

Orang orang Arab (baduwi) mengatakan: kami telah beriman,katakanlah (kepada mereka): Kalien belum beriman, akan tetapi katakanlah: kami telah islam, dan belum masuk iman kedalam hati kalien”.

Mereka bukan orang orang munafiq tulen, sebagaimana pendapat yang benar dari tafsiran ayat ini, dan ini pendapat Ibnu Abbas dan yang lain, akan tetapi iman mereka lemah, sebagaimana yang dijelaskan diakhir ayat diatas :

{وإن تطيعوا الله ورسوله لم يلتكم من أعمالكم شيئا} [الحجراب، 14].

“Jika kalien ta’at kepada Allah dan RasulNya maka Allah tidak akan mengurangi sedikitpun (pahala)amalan kalien”.

Ini menjelaskan bahwa mereka memiliki keimanan yang menyebabkan amalan dan keta’atan mereka diterima oleh Allah, sebab kalau mereka tidak memiliki keimanan tentu tidak diterimah amalannya oleh Allah Ta’ala([4]). 

Karena nama (iman) akan terhapus (hilang) dari seseorang yang meninggalkan suatu kewajiban atau keta’atan, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alahii wasallam :

((لا يزني الزاني حين يزني وهو مؤمن)) متفق عليه.

Sedangkan nama (islam) tidaklah terhapus atau hilang dengan meninggalkan sebagian kewajibannya atau melakukan sebagian yang terlarang, akan tetapi akan terhapus dengan melakukan apa yang membatalkannya secara total. Lihat: jamiul ulum wal hikam, Ibu Rajab, 1/84.

Sedangkan Ihsan lebih umum bila dilihat dari ihsan itu sendiri (karena mencakup iman dan islam), dan lebih khusus bila dilihat dari pelakunya (sebab muhsin lebih sedikit dari yang lain) dari pada iman, dan Iman lebih umum bila dilihat dari iman itu sendiri, dan lebih khusus dilihat dari pelakunya dari pada islam, karena ihsan masuk kedalamnya iman, dan iman masuk kedalamnya islam, karena muhsinin lebih khusus dari mukminin, dan mukminin lebih khusus dari muslimin, ini seperti kata (Risalah dan Nubuwwah), kenabian sudah mencakup kerasulan, sedangkan risalah lebih umum ditinjau dari risalah itu sendiri, dan lebih khusus ditinjau dari orang yang diberi risalah, maka setiap Rasul adalah Nabi, dan tidaklah setiap Nabi adalah Rasul, jadi Nabi lebih umum, sementara kenabian adalah bagian dari kerasulan, maka kerasulan mencakup kenabian dan yang lain, berbeda dengan kenabian ia tidak mencakup kerasulan. Lihat Al Iman, Ibnu Taimiyah, hal:6

Defenisi iman menurut Ahlussunnah waljama’ah:

Bermacam redaksi ulama Ahlussunnah Waljama’ah dalam mendefenisikan iman, semuanya benar dan tidak bertentangan dan menunjukkan kepada maksud yang sama, diantaranya:

(الإيمان: قول وعمل).

Iman adalah perkataan dan amalan.

وقال بعضهم : (الإيمان : قول وعمل ونية).

Iman adalah: Perkataan, perbuatan dan niat”.

وقال بعضهم : (هو قول وعمل ونية واتباع السنة).

Iman adalah perkataan, amalan, niat dan mengikuti sunnah”.

وقال بعضهم : (قول باللسان واعتقاد بالجنان، وعمل بالأركان).

Iman adalah :Ucapan lisan, keyakinan hati dan amalan anggota tubuh”([5]).

Syekhul islam Ibnu Taimiyah berkata : “Tidak ada perbedaan makna diantara redaksi ini, karena kaulul mutlaq (perkataan yang mutlaq) dan amalul mutlaq (amalan yang mutlaq) dalam perkataan salaf mencakup ucapan hati dan lisan, amalan hati dan anggota tubuh, karena ucapan lisan tanpa keyakinan hati adalah perkataan orang munafiq, dan ini tidak dinamakan ucapan kecuali bila dikaitkan, seperti firman Allah Ta’ala :

{يقولون بألسنتهم ما ليس في قلوبهم} [الفتح، آية (11)]

Mereka (orang munafiqin) mengucapkan dengan lisan apa yang tidak ada (diyakini) di hati mereka“.

Begitu juga perbuatan anggota tanpa amalan hati, ini juga amalan orang orang munafiq yang tidak diterima oleh Allah, maka perkataan salaf (قول وعمل) mencakup ucapan dan amalan yang batin dan dzohir, akan tetapi tatkala sebagian orang mungkin tidak memahami masuknya (niat) kedalam redaksi tersebut, maka sebagian mereka menambahkan kata : ( نية), kemudian sebagian yang lain menjelaskan bahwa : mutlaq (sekedar) ucapan dan amalan serta niat tidak diterima kecuali bila sesuai dengan sunnah (maka sebagian menambahkan : (بموافقة السنة أو اتباع السنة) pent.), dan ini juga benar, karena mereka yang mengatakan (قول وعمل ) ingin menjelaskan bahwa ia mencakup jenis (ucapan dan amalan), bukan maksud mereka menyebutkan sifat ucapan dan amalan tersebut, begitu juga redaksi yang mengatakan :                              (اعتقاد بالقلب، وقول باللسان، وعمل بالجوارح ) ia menjadikan ucapan dan amalan sebagai nama bagi yang dzohir, maka oleh karena itu ia butuh menambah  lafadz ( اعتقاد بالقلب ) (keyakinan hati), dan ini mesti mencakup amalan hati yang menyertai keyakinannya, seperti: kecintaan kepada Allah, takut kepadaNya dan tawakkal kepada Allah dan semisalnya, karena masuknya amalan hati kedalam (defenisi) iman sungguh lebih utama dari masuknya amalan anggota tubuh kedalamnya sebagaimana yang disepakati oleh semua golongan. “Al Iman Al ausath” hal: 54-55.

Dari defenisi dan komentar Syekhul islam diatas jelaslah bahwa semua amalan baik amalan anggota tubuh atau hati merupakan bagian dari iman, bahkan ia merupakan iman itu sendiri, dan ini merupakan ijma’ (konsensus) para shahabat, tabi’in dan generasi sesudah mereka, sebagaimana yang dinukilkan oleh Imam Syafi’I –rahimahullah-. Lihat: jami’ul ulum walhikam, Ibnu Rajab, 1/77.

Adapun pendapat yang mengeluarkan amalan dari iman adalah perkataan yang bid’ah yang sangat diingkari oleh ulama salaf seperti : Sa’id Bin Jubair, Maimun Bin Mihran, Qotadah, Ayub As Sikhtiyany, Ibrahim An Nakha’y, Az Zuhry, Yahya Bin Abi Katsir dll.

قال الإمام الثوري: (هو رأي محدث، أدركنا الناس على غيره) رواه عبد الله بن الإمام أحمد في السنة رقم (610) وقال محققه: إسناده صحيح، واللالكائي في شرح أصول اعتقاد أهل السنة رقم (1847)

“Ia (al irja’ –mengeluarkan amalan dari defenisi iman) adalah pendapat yang bid’ah, kami mendapatkan manusia (para tabi’in) tidak berada diatasnya“.

وقال الأوزاعي: (كان من مضى ممن سلف لا يفرقون بين الإيمان والعمل) رواه اللالكائي في شرح أصول اعتقاد أهل السنة رقم (1591)

“Orang yang terdahulu dari kalangan salaf tidak membedakan antara iman dan amalan’.

Banyak sekali ayat dan hadits yang menjelaskan bahwa amalan adalah bagian dari iman, diantaranya:

قال تعالى: {وما كان الله ليضيع إيمانكم} [البقرة: 143] أي: صلاتكم.

وقال تعالى: {إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم وإذا تليت عليهم آياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون الذين يقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون أولئك هم المؤمنون حقا} [الأنفال: 2-4].

وفي الصحيحين عن ابن عباس –رضي الله عنهما- أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لوفد عبد القيس: ((آمركم بأربع : الإيمان بالله، وهل تدرون ما الإيمان بالله؟ شهادة أن لا إله إلا الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وأن تعطوا من المغانم الخُمُسَ)) [البخاري (2/7) ومسلم رقم: 17).

وفي الصحيحين عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((الإيمان بضع وسبعون، أو بضع وستون شعبة، فأضلها : قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياة شعبة من الإيمان)) واللفظ لمسلم [البخاري (1/51) ومسلم رقم : 35].

Adapun pendapat yang menyelisihi mazhab Ahlissunnah dalam defenisi iman adalah pendapat golongan Murjiah, mereka terbagi tiga([6]) :

Pertama : Pendapat yang mengatakan: Iman adalah apa yang diyakini di hati saja.

Kemudian sebagian mereka memasukkan amalan hati kedalam iman, ini pendapat mayoritas golongan murjiah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Abul Hasan Al Asy’ari dalam kitabnya “maqalat”.

Sebagian lain tidak memasukkan amalan hati kedalam iman, ini adalah pendapat Jaham Bin Shofwan dan pengikutnya, dan ini yang diperjuangkan oleh Abul Hasan Al Asy’ari dan mayoritas pengikutnya.

Kedua: Iman adalah ucapan lisan saja, ini adalah pendapat golongan AL Karramiyah, mereka yang pertama sekali mengatakan pendapat ini.

Ketiga : Iman ialah keyakinan hati dan ucapan lisan, ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan ahli fiqh dan ibadah yang dikenal dengan Murjiahtul fuqaha‘.

Ketiga pendapat diatas adalah batil bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah serta Ijma’ Salafus sholeh yang mengatakan bahwa amalan adalah bagian dari iman, sebagaimana yang dinukil oleh imam Syafi’I di atas.

Þ          Diantara aqidah Ahlissunnah dalam masalah ini, bahwa Iman bertambah dan berkurang, bertambah dengan melakukan keta’atan, dan berkurang dengan melakukan maksiat dan dosa, dan boleh istitsna’ (mengucapkan: Insyaallah atau yang semakna) dalam iman.

قال عمير بن حبيب الخطمي –رضي الله عنه- : (الإيمان يزيد وينقص، قيل: وما زيادته ونقصانه؟ قال: إذا ذكرنا الله فحمدناه وسبحناه فتلك زيادته، وإذا غفلنا ونسينا فذاك نقصانه). رواه الحاكم في “شعار أصحاب الحديث” ص 26.

Umair Bin Habib Al Khathmy –rdhiyallahu ‘anhu- berkata : “Iman bertambah dan berkurang, beliau ditanya: bagimana bertambah dan berkurangnya? Ia menjawab: apabila kita zikir kepada Allah, memujinya  dan tasbih maka itulah pertambahannya, maka apabila kita lalai dan lupa kepadaNya (tidak zikir) maka itulah kekurangannya”.

Banyak ayat dan hadits serta perkataan salaf yang menjelaskan prinsif ini, diantaranya:

قال تعالى: {وإذا تليت عليم آياته زادتهم إيمانا}.

وقال تعالى: {فزادهم إيمانا وقالوا حسبنا الله ونهم الوكيل} الآية [آل عمران172].

وقال تعالى: {والذين اهتدوا زادهم هدى وآتاهم تقواهم} [محمد 17].

وقال تعالى: {ليزدادوا إيمانا مع إيمانهم} [الفتح 4] وغير من الآيات.

وقال صلى الله عليه وسلم: ((إن أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا)) الحديث.

وقال عليه الصلاة والسلام: ((الإيمان بضع وسبعون شعبة أعلاها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق والحياة شعبة من الإيمان)). وغيرها من الأحاديث.

وقال عمر بن عبد العزيز: (أما بعد، فإن للإيمان فرائض وشرائع وحدودا وسننا فمن استكملها استكمل الإيمان، ومن لم يستكملها لم يستكمل الإيمان)). ذكره البخاري في صحيحه (الفتح 1/45).

وقال الإمام الترمذي في سننه: باب في استكمال الإيمان والزيادة النقصان…).

وقال النسائي في سننه: (باب زيادة الإيمان…).

Adapun golongan yang menyelisihi mazhab salaf dalam permasalahan ini adalah golongan Khawarij dan Murjiah, mereka berpendapat bahwa iman tidak bertambah dan tidak berkurang karena iman menurut mereka hanya satu bagian dan tidak terpisah pisah.

Mereka semua sepakat dalam kaedah yang batil ini, akan tetapi berbeda dalam prakteknya, kaum Khawarij –sekalipun mereka memasukkan amalan kedalam iman sebagaimana pendapat Ahlissunnah Waljama’ah- akan tetapi mereka mengatakan: barangsiapa yang melakukan suatu dosa atau maksiat maka ia telah keluar dari islam, karena iman tidak terpisah, apabila suatu bagian ditinggalkan maka akan hilang yang selebihnya, kesimpulannya : orang yang melakukan dosa atau maksiat berarti ia telah kafir.

Disisi lain kaum Murji’ah berpendapat: Iman itu satu bagian dan tidak terpisah, maka tidak akan bertambah dan sempurna dengan melakukan keta’atan dan tidak akan berkurang karena dosa, kesimpulannya: orang yang sempurna keimanannya sama dengan orang yang paling fasiq dan bejat, oleh karena itu mereka mengatakan bahwa iman Jibril sama dengan iman manusia biasa, dan iman Abu Bakr Siddiq sama dengan iman orang yang tenggelam dalam maksiat dan dosa, karena mereka mengatakan: (وهم في أصله سواء)  “Dan mereka dalam dasar keimanan sama”.

Semua pendapat ini adalah batil dan bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah serta Ijma’ salafus sholeh bahwa iman bertambah dan berkurang dan orang yang beriman bertingkat-tingkat dan berbeda dalam keimanan mereka sesuai dengan keyakinan yang dimiliki dan ketaatan yang mereka lakukan.

Þ     Hukum istitsna’ (ucapan – إن شاء الله – dan yang senada –آمنت بالله وملائكته وكتبه ورسله – atau – أرجو -)  dalam iman dan islam:

Dalam permasalahan ini ada tiga pendapat:

1-           Boleh istitsna’ dalam iman dari satu sisi, dan tidak boleh dari sisi lain. (ini adalah pendapat Ahlussunnah Waljama’ah).

2-           Wajib istitsna’ dalam iman, barangsiapa yang tidak melakukannya ia adalah ahlul bid’ah (ini adalah pendapat Asya’irah dan Kullabiyah serta mayoritas syafi’iyah)

3-           Haram istitsna’ karena ini menunjukkan keraguan dalam iman (ini adalah pendapat Al Maturidiyah).

Pendapat yang benar adalah pendapat Ahlussunnah Waljama’ah sebagaimana yang sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah serta perkataan salafus sholeh, diantaranya :

قال الله تعالى: {لتدخلن المسجد الحرام إن شاء الله آمنين} [الفتح: 27].

وقال صلى الله عليه وسلم حين في أهل القبور : ((وإنا إن شاء الله بكم للاحقون)). رواه مسلم.

وقال أيضا: ((وعليها نبعث إن شاء الله)) أي: من القبر. رواه أحمد وابن ماجه بسند حسن.

وقال أيضا: (( إني لأرجو أن أكون أخشاكم لله)). رواه مسلم.

قال الميموني: سألت أحمد بن حنبل عن رأيه في : “أنا مؤمن إن شاء الله؟ فقال: أقول: مؤمن إن شاء الله، ولا أقول : مسلم ولا استثني…). نقله شيخ الإسلام في الإيمان ص 239.

Alasan salaf dalam istitsna’ :

1-      Sesungguhnya iman yang mutlaq (sempurna) mencakup seluruh apa yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan apa yang dilarangNya, tidak seorangpun yang bisa mendakwahkan bahwa ia telah melakukan hal itu secara keseluruhan dengan sempurna tanpa ada yang kurang.

2-      Iman yang bermanfaat adalah iman yang diterima oleh Allah Ta’ala, sementara seorang yang beramal tidak tahu apakah amalannya diterimah oleh Allah atau tidak.

3-      Untuk menghindari Tazkiyatunnufus (pensucian diri), sebagaimana firman Allah:

{ فلا تزكوا أنفسكم هو أعلم بمن اتقى } [النجم: 32].

4-      Istitsna’ dalam permasalahan yang diyakini, bukan yang diragukan.

Þ    Adapun istitsna’ dalam islam, yang benar tidak diperbolehkan dengan alasan:

1-           Tidak didapatkan dalam Al Qur’an dan Sunnah yang membolehkannya.

قال تعالى: {قالت الأعراب آمنا كل لم تؤمنوا ولكن قولوا أسلمنا ولما يدخل الإيمان في قلوبكم} [الحجرات: 14].

وقال تعالى: {ومن أحسن دينا ممن دعا إلى الله وعمل صالحا وقال إنني من المسلمين}.

وقال سعد عن حال الرجل: إني لأراه مؤمنا” فقال له النبي صلى الله عليه وسلم: ((أو مسلما)).

2-           Setiap orang yang mengucapkan syahadatain berarti ia telah menjadi muslim dan terpisah dari orang Yahudi dan Nasrani, berlaku atasnya segala hukum islam sebagaimana berlaku bagi kaum muslimin yang lain, hal ini sesuatu yang diyakini oleh setiap orang tanpa istitsna’ didalamnya, oleh karena itu Imam Az Zuhry berkata : “Islam adalah ucapan”. Lihat, Al Iman, Ibnu Taimiyah, hal: 297.

Apakah amalan sebagai syarat kesempurnaan iman atau syarat sahnya iman?

Untuk menjawab pertanyaan ini saya nukilkan perkataa Syekh Al Utsaimin –rahimahullah-, beliau berkata : “Kita tidak butuh untuk mengatakan apa yang sedang berkembang dikalangan para pemuda dan thulabul ilmi: Apakah amalan (syarat) kesempurnaan iman atau sahnya iman? Pertanyaan ini tidak perlu, siapapun yang menanyakan kepadamu: apakah amalan syarat kesempurnaan iman atau sahnya iman? maka jawablah: Para shahabat –radhiyallahu anhum- lebih mulia dan berilmu darimu dan lebih cinta kepada kebaikkan, sementara mereka tidak perna menayakan kepada Rasulullah –shalallahu’alai wasallam- pertanyaan ini, jadi cukuplah bagimu apa yang telah cukup bagi mereka.

Apabila ada dalil yang menjelaskan bahwa amalan ini mengeluarkan seseorang dari islam maka ia adalah sebagai syarat sahnya iman, dan apabila ada dalil yang menjelaskan bahwa suatu amalan tidak mengeluarkan (dari iman) maka ia adalah syarat kesempurnaan iman, selesai masalah. Adapun kamu berusaha untuk saling berdebat dan berbantahan, lalu barangsiapa yang menyelisihimu, kamu menghukumnya sebagai “Murjii” dan siapa yang cocok dengan pendapatmu kamu restui, jika berlebihan kamu katakan sebagai Khawarij, ini adalah tidak benar.

Oleh karena itu nasehat saya kepada para pemuda dan penuntut ilmu, untuk meninggalkan pembahasan dalam permasalahan ini, dan kami katakan: Apa yang telah dijadikan oleh Allah dan RasulNya sebagai syarat sah dan tinggalnya iman maka ia adalah sebagai syarat, dan apa yang tidak (dijadikan sebagai syarat) berarti bukanlah persyaratan, (dengan demikian) selesai permasalahan”([7]).

Setelah kita ketahui Aqidah Ahlussunnah dan kaedah-kaedah dasar yang berkenaan dengan permasalahan ini, ada baiknya kita bahas sedikit tentang makna dan hal-hal yang wajib diketahui dan diyakini dalam setiap rukun iman yang enam , adapun tentang rukun islam akan kita bahas pada hadits no. 3.

Iman kepada Allah: mencakup empat prinsif dasar:

1-      Beriman dengan wujudnya Allah.

2- Beriman dengan Rububiyah (perbuatan) Allah seperti: Menciptakan, Mematikan, Mengatur alam semesta ini dll.

3- Beriman dengan Uluhiyah Allah (Dia yang behak satu-satunya di ibadati).

4- Beriman dengan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah.

Imam kepada Malaikat mencakup empat permasalahan :

1-     Mengimani keberadaan mereka.

2-     Beriman dengan Malaikat yang kita ketahui nama mereka seperti : Jibril, Mikail dll, adapun yang tidak diketahui kita imani secara global.

3-     Meyakini tugas yang telah dibebankan oleh Allah kepada Mereka seperti: Jibril, bertugas menyampaikan wahyu, Mikail bertugas menurunkan hujan dan menumbuhkan tanam-tanaman dll.

4-     Menyakini apa yang diketahui dari sifat mereka, seperti Jibril ia memiliki 600 sayap  yang menutupi langit.

Iman kepada Kitab, mencakup empat prinsif dasar :

1-     Mengimani bahwa Allah menurunkan kepada para Rasul Al Kitab, dan ia adalah dari Allah, akan tetapi kita tidak boleh menyakini bahwa kitab-kitab yang ada di tangan Yahudi dan Nasrani sekarang adalah dari Allah karena telah dirobah dan diselewengkan, akan tetapi kita yakini bahwa asal kitab yang diturunkan kepada para rasul adalah benar dari Allah.

2-     Menyakini keabsahan berita yang ada didalamnya seperti berita yang ada didalam Al Qur’an dan berita-berita yang ada dalam kitab-kitab terdahulu yang belum dirobah dan diselewengkan.

3-     Beriman dengan hukum-hukum yang ada dalam kitab tersebut jika tidak bertentangan dengan syari’at islam, berdasarkan pendapat yang mengatakan: bahwa syari’at umat yang terdahulu adalah syari’at bagi kita jika tidak ada dalam syari’at islam hukum yang menyelisihinya.

4-     Beriman dengan nama-nama kitab yang kita kenal, seprti Al Qur’an, Taurat, Injil, Zabur dan Shuhuf Ibrahim dan Musa.

Iman kepada Rasul mencakup beberapa hal berikut ini:

1-     Beriman bahwa risalah mereka adalah benar, barangsiapa yang kafir dengan satu risalah maka ia telah kafir dengan seluruh rasul.

2-     Beriman dengan  para rasul yang diketahui nama mereka, seperti: Muhammd, Ibrahim, Musa, Isa dan Nuh mereka semuanya adalah Ulul azmi, dan yang tidak diketahui nama mereka beriman dengannya secara global.

3-     Meyakini apa yang benar dari berita mereka.

4-     Melaksanakan syari’at rasul yang terakhir nabi Muhammad –shalallahu ‘alai wasallm- yang diutus kepada kita.

قال تعالى: {فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما} [النساء، 65]

Iman kepada hari akhirat, mencakup prinsif berikut ini:

1-     Beriman bahwa kiamat pasti terjadi, Allah akan membangkitkan manusia dari kuburan mereka setelah tiupan sangka kala pertama.

2- Beriman dengan suluruh yang disebutkan oleh Allah dalam Al Qur’an dan RasulNya dalam hadits-hadits yang shohih tentang hal-hal yang akan terjadi pada hari tersebut, seperti: manusia pada hari itu akan dikupulkan dipadang mahsyar tidak punya alas kaki dan dalam keadaan telanjang, artinya : tidak punya harta sama sekali sperti awal kelahiran mereka.

3- Beriman dengan apa yang ada pada hari itu, seperti Haudh (telaga Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam-) Syafa’at, shirath (titian) Syurga dan Neraka.

4- Beriman dengat nikmat kubur dan azab kubur, sebagaimana yang terdapat dalam Al Qur’an, Sunnah dan Ijma’ salaf.

Iman dengan Qada dan Qadar mencakup empat prinsif dasar :

1- Beriman dengan Ilmu Allah yang meliputi segalah sesuatu secara global dan perinciannya.

2- Beriman bahwa Allah telah menulis di Lauhul Mahfudz taqdir segala sesuatu sampai hari kiamat.

3- Beriman bahwa segala sesuatu yang terjadi dengan kehendak dan izin Allah, tidak satupun yang keluar dari kehendak Allah.

4- Beriman bahwa Allah Ta’ala yang menciptakan segala sesuatu.

Adapun ( الإحسان ) secara umum artinya : memberikan dan melakukan kebaikkan, baik kepada Allah atau makhluk, Ihsan kepada Allah artinya: Mengibadati Allah dengan ikhlas dan mengikuti sunnah Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam-, adapun ihsan kepada makhluk adalah memberikan kebaikkan kepada mereka berupa harta, kedudukan dll.

Sedangkan Ihsan dalam hadits ini sebagaimana yang ditafsirkan oleh Rasulullah ialah :

(أن تعبد الله كأنك  تراه )

Kamu mengibadati Allah seolah olah kamu melihatNya”

Ibadah kepada Allah tidak mungkin terwujud keculai dengan dua unsur :

Pertama : Ikhlas kepada Allah, yang kedua: Meingkuti sunnah Rasulullah –shalallahu ‘alai wasallam-, maksudnya: didalam beribadah hendaklah seorang hamba menyakini dekatnya Allah dan seolah olah sedang berada dihadapanNya dan melihat Allah, hal ini akan menimbulkan rasa kecintaan dan kerinduan kepada Allah, dan akan selalu memotivasi dia untuk beribadah dan mendekatkan diri kepadaNya dengan bermacam bentuk keta’atan sehingga ia selalu mencari yang ia cintai dengan berusaha memperbaiki dan menyempurnakan ibadahnya. Inilah yang dinamakan denga Ibadah Tolab dan Syauq (mencari dan kerinduan).

Kemudian beliau bersabda: ( فإن لم تكن تراه فإنه يراك )

Jika kamu tidak melihatNya maka (yakinlah) sesungguhnya Allah melihatmu”.

Maksudnya Ibadati Allah dalam keadaan takut dan jangan durhakai Dia, karena jika kamu mendurhakaiNya sesungguhnya Allah melihatmu, oleh karena itu ibadatilah Allah seperti orang yang takut kepadaNya dan lari dari azab dan ancamanNya, inilah yang dinamakan dengan ibadah harab dan khauf (lari dan takut).

Kesimpulanya: Ihsan dalam Ibadah terbagi dua tinggkatan:

1-      Tinggkatan Tholab (mencari, menginginkan).

2-      Tingkatan Harab (lari).

Tingkatan pertama : Kamu mengibadati Allah seolah-olah kamu melihatNya, ini lebih sempurnah dari  tingkatan kedua: Kamu mengibadati Allah sementara Dia melihatmu, maka waspadalah, Allah Ta’la berfirman:  { ويحذركم الله نفسه } [آل عمران: 28، 30]. “Allah memperingatkan kelien akan diriNya”.

Ibadah kepada Allah sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ibnul Qoyyim didalam “Nuniyah”:

وعبادة الرحمن غاية حبه      مع ذل عابده هما ركنان

Ibadah kepada Allah adalah kecintaan kepadaNya

Beserta ketudukkan seorang hamba, keduanya adalah rukun

Dalam kecintaan ada kehendak dan keinginan, dan dalam ketudukkan (kerendahan) ada ketakutan dan ingin lari menyelamatkan diri, inilah yang dinamakan ihsan dalam ibadah kepada Allah.

Adapun sabda beliau : ( أن تلد الأمة ربتها ) ” Budak permpuan melahirkan tuannya”.

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan jumlah ini, diantaranya:

Budak melahirkan tuan orang lain bukan tuan dia, dengan demikian maksud Amah disisni adalah Jenis budak.

Sebagian yang lain mengatakan: maksudnya adalah: Budak itu sendiri benar melahirkan tuannya laki-laki atau perempuan, artinya seorang raja melahirkan seorang anak dari budaknya, dengan sendirinya anak tersebut menjadi tuan bagi ibunya, karena bapaknya seorang raja atau anak tersebut akan mewarisi bapaknya.

Syekh Utsaimin berkata : “Makna yang pertama lebih kuat, dimana para budak perempuan melahirkan orang yang menjadi tuan atau para raja, sementara ia sebagai budak, ini adalah sebagai kinayah terhadap cepatnya peribahan sikon”.

Adapun sabda beliau : ( وأن ترى الحفاة العراة العالة يتطاولون في البنيان ) artinya :

“Kamu lihat manusia yang tidak punya sandal, tidak punya pakaian ( yang dipakai dan mencukufi) dan orang orang miskin berlomba-lomba dalam membangun bangunan  yang tinggi (dan yang megah)”.

Sebagian dari faedah hadits:

1-     Baiknya akhlak Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam- dimana beliau duduk bersama para sahabatnya dan mereka duduk bersama beliau dan tidak menyendiri dan meanggap dirinya yang lebih tinggi.

2-     Malikat bisa berobah bentuk seperti manusia dengan izin Allah.

3-     Adap bersama guru, sebagaimana yang dilakukan Jibril bersama Rasulullah.

4-     Keutamaan islam dan ini yang mesti dipertanyakan terlebih dahulu, oleh karena itu Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam- bila mengutus para da’I beliau berwasiat untuk memulai dengan syahadatain.

5-     Memulai dari yang rendah kemudian yang tinggi, karena islam lebih rendah dibandingkan dengan iman.

6-     Islam dan iman apabilah berkumpul akan menunjukkan kepada pengertian yang berbedah, sebagaina yang telah dijelaskan diatas.

7-     Rukun iman ada enam, barangsiapa yang menginkari sala satu daripadanya ia telah kafir.

8-     Wajib beriman dengan semua rasul, barangsiapa yang beiman dengan sebagian dan kafir kepada sebagian lain ia adalah kafir.

9-     Iman kepada qada dan qadar dan semuanya baik, tidak ada kejelekkan didalamnya, yang ada hanya pada makhluk.  ( والشر ليس إليك ).

10- Qiamat tidak diketahui oleh seorangpun.

11- Malaikat bisa berjalan apabila berobah seperti manusia, sebagaimana perkataan beliau (ثم انطلق).

12- Dahsatnya hari kiamat, oleh karena itu disebutkankan tanda-tandanya agar manusia mempersipkan bekal untuk menghadapinya.

13- Seorang guru atau syekh bertanya kepada murid-murid jika merka tidak mengetahui sesuatu.

14- Apa yang disebutkan didalam hadits ini adalah ajaran agama islam secara global bukan perinciannya.


Hadits no : 3

عن عبد الله بن عمر –رضي الله عنهما- قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ((بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا عبده ورسوله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وحج البيت، وصوم رمضان)) رواه البخاري ومسلم.

Dalam hadits ini Rasulullah –shalallahu ‘alai wasallam- mengumpamakan islam sebagai bagunan yang didirikan diatas lima tiang, tidak akan mungkin bagunan tersebut berdiri kokoh dan kuat tanpa ada tiangnya, begitulah perumpamaan keislaman seorang muslim, tidak mungkin ia bisa merealisasikan islam dalam dirinya tanpa melakukan kewajiban yang lima tersebut (syahadatain, sholat, zakat, puasa dan haji), sementara kewajiban islam yang lain ibarat alat bagunan dan perabot yang lain yang menyempurnakan bagunan, jika salah satu dari pada alat dan perabot tersebut tidak ada maka bagunan tidak sempurna, sementara bagunannya tetap berdiri, berbeda dengan hilangnya kelima tiang diatas, oleh karena itu sesungguhnya keislaman seseorang akan batal apabilah ia meniggalkan atau menginkari seluruh rukun diatas.

Adapun maksud (Syahadatain) dalam hadits tersebut adalah : Iman kepada Allah dan RasulNya, sebagaimana yang terdapat dalam riwayat yang lain yang disebutkan oleh Imam Bukari secara ta’liqan (yang dihapuskan sanadnya) :

(( بني الإسلام على خمس : إيمان بالله ورسوله)) ثم ذكر بقية الحديث [البخاري 8/183-184- الفتح].

وفي رواية لمسلم: ((على خمس : على أن يوحّد الله )).

وفي رواية له : ((على أن يعبد الله ويكفر بما دونه )) [مسلم، رقم: 16].

Dari sini jelaslah bahwa Iman kepada Allah dan RasulNya termasuk dalam pengertian islam, sebagaimana yang telah berlalu.

Makna : ( لا إله إلا الله ) Tidak ada yang berhak diibadati kecuali Allah, kalimat tauhid ini harus diyakini dengan hati dan diucapkan dengan lisan serta dilaksanakan tuntutannya yaitu ikhlas Ibadah kepada Allah, dan inilah yang dinamakan dengan Tauhid Uluhiyah atau Ibadah.

Adapun syahadat (أن محمدا رسول الله) ini mencakup berapa unsur penting yang harus diyakini dan diamalkan:

1-      Membenarkan apa yang dikhabarkan oleh Rasulullah.

2-      Melaksanakan perintahkannya –shalallahu alaihi wasallam-

3-      Meninggalkan larangannya.

4-      Tidak mendahulukan perkataan seorangpun terhadap pekataan Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam-

5-      Tidak melakukan bid’ah dalam agama (aqidah, perkataan dan perbuatan).

6-      Tidak melaukan bid’ah tentang diri beliau, oleh karena itu orang yang melakukan peringatan maulid nabi telah mengurangi nilai kesaksian dia terhadap syhadah ini –disadari atau tidak.

7-      Meyakini bahwa rasul tidak memiliki sifat rububiyah, artinya tidak bisa memberi manfa’at dan mendatangkan mudharat, oleh karena itu beliau tidak berhak diibadati, meminta kepadanya, dan tidak boleh minta pertongon kepadanya kecuali diwaktu beliau masih hidup dalam urusan yang ia mampu melakukannya.

8-      Menghormati perkataannya, oleh karena itu tidak boleh meletakkan hadits-hadits beliau ditempat yang tidak layak, dan juga tidak boleh meangkat suara didepan kuburan beliau, jika hal ini adalah terlarang tentu menolak dan membantah hadits-hadits beliau dikarenakan pendapat manusia tentu lebih terlarang lagi dan haram hukumnya.

Kedua syahadatain ini tidak bisa dipisakan, karena merupakan persyaratan diterimahnya suatu ibadah, kalau dia ikhlas tetapi tidak mengikuti sunnah Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam- ibadahnya tidak diterimah, sebaliknya jika ia mengikuti sunnah Rasulullah  –shalallahu alaihi wasallam- tetapi tidak ikhlas juga tidak diterimah, sampai ibadahnya ikhlas dan mengikuti sunnah Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam-.

Barangsiapa yang tidak mengucapkan kedua syahadat tersebut sementara ia mampu melakukannya maka ia bukanlah seorang muslim, begitu juga orang yang mengingkari rukun yang empat.

Syekhul islam Ibnu Taimiyah berkata : “Adapun “Syahadatain” apabila ia tidak mengucapkannya sementara ia mampu maka dia telah kafir sebagaimana kesepakatan kaum muslimin, ia kafir dzohir dan batin menurut para imam  salaf dan dan jumhur ulama…

Adapun Kewajiban yang empat (sholat, zakat ,puasa dan haji)  apabila ia mengingkari salah satu darinya setelah sampai kepadanya hujjah (dalil) maka ia telah kafir, begitu juga orang yang menginkari haramnya sesutau yang telah jelas haramnya, sperti zina, kedzoliman, bohong, khomar dll, adapun orang yang belum sampai kepadanya dalil, seperti orang yang baru masuk islam, atau besar didaerah yang teresolir yang tidak sampai kepadanya syari’at islam, atau salah (dalam memahami dalil, pent.)lalu menduga bahwa orang yang beriman dan beramal sholeh tidak haram baginya khamar…maka mereka disuruh tobat dan disampai  dalil kepadanya, jika mereka tetap tidak mau (melakukannya) maka mereka telah kafir, dan tidak boleh dihukumi sebagai kafir sebelum itu”.Al Iman Al Ausath, hal: 154.

Adapun orang yang menyakini keempat rukun tersebut kemudian ia meninggalkan salah satu daripadanya, para ulama berbeda pendapat dalam kekafirannya :

1-      ia kafir dengan meninggalkan salah satu  dari rukun tersebut, begitu juga haji, ini adalah pendapat sebagian dari salaf, dan sala satu riwayat dari Imam Ahmad.

2-      Ia tidak kafir dengan meniggalkan salah satu daripadanya jika ia menyakininya, ini pendapat yang masyhur dikalangan para fuqaha’ dari pengikut Abu Hanifah, Malik dan Syafi’I, dan salah satu riwayat dari Iman Ahmad.

3-      Ia tidak kafir kecuali bila meninggalkan sholat, ini riwayat ketiga dari Iman Ahmad dan pendapat mayoritas salaf dan segolongan dari pengikut imam Malik dan Syafi’I serta pengikut Iman Ahmad.

4-      Ia kafir dengan meniggalkan sholat dan zakat saja.

5-      Ia kafir dengan meniggalkan sholat dan zakat jika imam memerangi orang yang tidak membayarnya.

Kelima pendapat diatas semuanya diriwayatkan dari Imam Ahmad, lihat “Al Iman Al Ausat, Ibnu Taimiyah, hal: 155.

Akan tetapi setelah diperhatikan argumentasi dari setiap pendapat ternyata perkataan yang paling kuat adalah pendapat yang ketiga, yaitu kafirnya seseorang dengan meninggalkan sholat.

Sungguh sangat banyak dalil yang menerangkan bahwa barangsiapa meninggalkan sholat bearti ia telah kafir, diantaranya :

عن جابر –رضي الله عنه- عن النبي صلى الله عليه وسلم: ((بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة)). رواه مسلم (83).

وقال عمر بن الخطاب –رضي الله عنه – : ( لا حظ في الإسلام لمن ترك الصلاة )). رواه مالك في الموطأ رقم (53)

وقال علي بن أبي طالب –رضي الله عنه- : (( من تركها فقد كفر )). أخرجه ابن أبي شيبة في مصنفه 11/47.

وقال عبد الله بن شقيق: (كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يرون من الأعمال شيئا تركه كفر غير الصلاة) رواه الترمذي (2622).

Imam Ibnu Rajab berkata : “Banyak dari kalangan salaf dan khalaf mengatakan pendapat ini (kafirnya orang yang meninggalkan sholat) dan ini adalah pendapat Ibnu Mubarak, Ahmad dan Ishaq, bahkan Ishaq menyebutkan ijma’ para ulama dalam hal ini.

Muhammad Bin Nashr Al Marwazy berkata : “ia adalah pendapat jumhur ulama hadits”.

عن عبد الله بن مسعود –رضي الله عنه- قال: (من سره أن يلقى الله غدا مسلما فليحافظ على هؤلاء الصلوات حيث ينادى بهن فإن الله شرع لنبيكم  صلى الله عليه وسلم  سنن الهدى وإنهن من سنن الهدى ولو أنكم صليتم في بيوتكم كما يصلي هذا المتخلف في بيته لتركتم سنة نبيكم ولو تركتم سنة نبيكم للضللتم  وما من رجل يتطهر فيحسن الطهور ثم يعمد إلى مسجد من هذه المساجد إلا كتب الله له بكل خطوة يخطوها حسنة ويرفعه بها درجة ويحط عنه بها سيئة ولقد رأيتنا وما يتخلف عنها إلا منافق معلوم النفاق ولقد كان الرجل يؤتي به يهاذى بين الرجلين حتى يقام في الصف)). رواه مسلم في صحيحه رقم: (654).

Dari Abdullah Bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu- berkata : “Barangsiapa yang ingin menjumpai Allah besok dalam keadaan muslim, hendaklah ia menjaga (melakukan) sholat (yang lima waktu)dimana saja dikumandangkan azan, sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada NabiNya jalan-jalan (untuk mendapatkan) petunjuk, dan sesungguhnya sholat adalah jalan-jalan petunjuk, jika kalien sholat dirumah sebagaimana yang terlambat ini sholat dirumahnya sungguh kalien telah meninggalkan sunnah nabi kalien, jika kalien meniggalkan sunnahnya niscaya akan sesat, tidak seorangpun yang bersuci (berwudu’) dan menyempurnakannya kemudian dia pergi kesalah satu masjid (untuk sholat jama’ah)maka Allah menulis dalam setiap langka yang ia langkakan satu kebaikan, meangkat derajatnya dan menghapuskan satu dosa, Saya telah melihat kami (Rasul dan para shahabat) tidaklah salah seorang menghadiri sholat jama’ah kecuali ia adalah orang yang telah dikenal sebagai munafiq, dan sungguh sebagian (diantara kami) dibawah datang (untuk menghadiri sholat jama’ah) dengan digandeng sampai ia berdiri di saf”.

Perkataan Ibnu Mas’ud ini juga menjelaskan kepada kita hukum menghadiri sholat jama’ah, yaitu wajib bagi kaum laki-laki tanpa ada dispensasi dan keringanan, sebagaimana yang dijelaskan oleh nash-nash yang lain.

Iman Ibnu Rajab berkata : “Hadits Ibnu Umar diatas sebagai dalil bahwa suatu nama apabila mencakup pengertian yang banyak, maka tidak mesti hilang nama tersebut dengan hilangnya sebagian daripadanya, ini menjelaskan batilnya perkataan orang (Murji’ah) yang mengatakan bahwa “iman apabila mencakup amalan maka ia akan hilang dengan hilangnya suatu amalan yang masuk kedalam iman itu”, karena Nabi shalallahu ‘alai wasallam telah menjadikan kelima kewajiban tersebut sebagai tiang dari islam dan pondasinya, kemudian beliau dalam hadits Jibril menafsirkannya dengan kelima rukun tersebut…”. Jami’ul ulum walhikam, 1/132.

Dalam hadits ini Rasulullah tidak menjadikan Jihad sebagai rukun islam dan pondasinya, sementara ia adalah amalan yang sangat mulia, bahkan dalam suatu hadits beliau bersabda :

(( إن رأس الأمر الإسلام، وعموده الصلاة، وذروة سنامه الجهاد)) رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح.

Dan dalam suatu riwayat Ibnu Umar ditanya : Bagaimana dengan Jihad? Beliau menjawab: Jihad adalah baik, tetapi beginilah Rasullah –shalallahu ‘alai wasallam- mengabarkan kepada kami”. H.R Ahmad (2/26).

Hal ini disebabkan oleh dua faktor sebagaiman yang dijelaskan oleh Ibnu Rajab:

1-      Karena hukum jihad adalah fardhu kifayah menurut Jumhur ulama, bukan fardu ‘ain, berbeda dengan kelima rukun islam.

2-      Karena jihad tidak kontinyu sampai akhir zaman, akan tetapi apabila Isa –alahissalam- telah turun dan tidak tinggal lagi pada waktu itu kecuali agama islam, maka pada waktu itu berakhirlah peperangan dan tidak dibutuhkan lagi jihad, berbeda dengan lima rukun islam, ia wajib atas orang beriman sampai datang perintah Allah (kiamat) sementara mereka tetap dalam keadaan tersebut. Lihat “jami’ul ulum walhikam, 1/134.


HADITS NO: 34

عن أبي سعيد الخدري –رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ((من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان)). رواه مسلم رقم (49).

وفي رواية : (( ليس وراء ذلك من الإيمان حبة خردل )). رقم: (50)

Dari Abu Sa’id Al Khudry –radhiyallahu ‘anhu– berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alai wasallam bersabda: “Barangsiapa diantara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merobah (menginkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merobah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merobah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah”. H.R. Muslim no : 49

Dalam riwayat lain: “Tidak ada sesudah itu (mengingkari dengan hati)keimanan sebesar biji sawi (sedikitpun)”.

Hadits ini adalah hadits yang jami’ dan sangat penting dalam syari’at islam, bahkan sebagian ulama mengatakan: Hadits ini pantas untuk menjadi separoh dari agama (syari’at), karena amalan amalan syari’at terbagi dua: ma’ruf (kebaikan) yang wajib diperintahkan dan dilaksanakan, atau (mungkar) kamungkaran yang wajib diingkari, maka dari sisi ini, hadits tersebut adalah separo dari syari’at”. Lihat: At ta’yin fi syarhil ar ba’in, At thufi, hal: 292.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sesungguhnya maksud dari hadits ini adalah: tidak tinggal sesudah batas pengingkaran ini (dengan hati) sesuatu yang dikatagorikan sebagai iman sampai seseorang mukmin itu melakukannya, akan tetapi mengingkari dengan hati merupakan batas terakhir dari keimanan, bukanlah maksudnya, bahwa barangsiapa yang tidak mengingkari hal itu dia tidak memiliki keimanan sama sekali, oleh karena itu Rasulullah bersabda “tidaklah ada sesudah itu“, maka beliau menjadikan orang orang yang beriman tiga tingkatan, masing masing diantara mereka telah melakukan keimanan yang wajib atasnya, akan tetapi yang pertama (mengingkari dengan tangan) tatkala ia yang lebih mampu diantara mereka maka yang wajib atasnya lebih sempurna dari apa yang wajib atas yang kedua (mengingkari dengan lisan), dan apa yang wajib atas yang kedua lebih sempurna dari apa yang wajib atas yang terakhir, maka dengan demikian diketahui bahwa manusia bertinggkat tingkat dalam keimanan yang wajib atas mereka sesuai dengan kemampuannya beserta sampainya khitab (perintah) kepada mereka”([8]).

Hadits dan perkataan Syekhul islam diatas menjelaskan bahwa amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan karateria seorang yang beriman, dan dalam mengingkari kemungkaran tersebut ada tiga tingkatan:

1- Mengingkari dengan tangan.

2- Mengingkari dengan lisan.

3- Mengingkari dengan hati.

Tingkatan pertama dan kedua wajib bagi setiap orang yang mampu melakukannya, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits diatas, dalam hal ini seseorang apabila melihat suatu kemungkaran maka ia wajib merobahnya dengan tangan jika ia mampu melakukannya, seperti seorang penguasa terhadap bawahannya, kepala keluarga terhadap istri, anak dan keluarganya, dan mengingkari dengan tangan bukan berarti dengan senjata.

Imam Al Marruzy bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal : Bagaimana beramar ma’ruf dan nahi mungkar? Beliau menjawab: dengan tangan, dengan lisan dan dengan hati, ini paling ringan”, saya bertanya lagi: bagaimana dengan tangan? Beliau menjawab: “memisahkan diantara mereka”, dan saya melihat beliau melewati anak anak kecil yang sedang berkelahi, lalu beliau memisahkan diantara mereka”.

Dalam riwayat lain beliau berkata : “Merobah (mengingkari) dengan tangan bukanlah dengan pedang dan senjata“([9]).

Adapun dengan lisan seperti memberikan nasehat yang merupakan hak diantara sesama muslim dan sebagai realisasi dari amar ma’ruf dan nahi mungkar itu sendiri, dengan menggunakan tulisan yang mengajak kepada kebenaran dan membantah syubuhat dan segala bentuk kebatilan.

Adapun tingkatan terakhir (mengingkari dengan hati) artinya: membenci kemungkaran kemungkaran tersebut, ini adalah kewajiban yang tidak gugur atas setiap individu dalam setiap sikon, oleh karena itu barang siapa yang tidak mengingkari dengan hatinya maka ia akan binasa.

Imam Ibnu Rajab berkata –setelah menyebutkan hadits diatas dan hadits hadits yang senanda dengannya- : “Seluruh hadits ini menjelaskan wajibnya mengingkari kemungkaran sesuai dengan kemampuan, dan sesungguhnya mengingkari dengan hati sesuatu yang harus dilakukan, barangsiapa yang tidak mengingkari dengan hatinya, maka  ini pertanda hilangnya keimanan dari hatinya”([10]).

قال رجل لعبد الله بن مسعود –رضي الله عنه- : (هلك من لم يأمر بالمعروف ولم ينه عن المنكر) فقال عبد الله: (بل هلك من لم يعرف المعروف بقلبه وينكر المنكر بقلبه)) رواه ابن أبي شيبة في مصنفه رقم : 37581

Salah seorang berkata kepada Ibnu Mas’ud: “Binasa orang yang tidak menyeruh kepada kebaikkan dan tidak mencegah dari kemungkaran”, lalu Ibnu Mas’ud berkata: “Binasa orang yang tidak mengetahui dengan hatinya kebaikkan dan tidak mengingkari dengan hatinya kemungkaran”.

Imam Ibnu Rajab mengomentari perkataan Ibnu mas’ud  diatas dan berkata: “maksud beliau adalah bahwa mengetahui yang ma’ruf dan mungkar dengan hati adalah kewajiban yang tidak gugur atas setiap orang, maka barang siapa yang tidak mengetahuinya maka dia akan binasa, adapun mengingkari dengan lisan dan tangan ini sesuai dengan kekuatan dan kemampuan”. Jami’ul ulum walhikam” 2/258-259

Seseorang yang tidak mengikari dengan hatinya maka ia adalah orang yang mati dalam keadaan hidup, sebagaimana perkataan Huzaifah –radhiyallahu ‘anhu- tatkala ditanya : Apakah kematian orang yang hidup? Beliau menjawab:

(من لم يعرف المعروف بقلبه وينكر المنكر بقلبه) رواه ابن أبي شيبة  في مصنفه رقم: 37577

“orang yang tidak mengenal kebaikkan dengan hatinya dan tidak mengingkari kemungkaran dengan hatinya”.

Kemudian dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar ada berapa kaedah penting dan prinsif dasar yang harus diperhatikan, jika tidak diindahkan niscaya akan menimbulkan kemungkaran yang lebih besar dan banyak:

Pertama: Mempertimbangkan antara maslahah dan mafsadah.

Ini adalah kaedah yang sangat penting dalam syari’at islam secara umum dan dalam beramar ma’ruf dan nahi mungkar secara khusus, maksudnya ialah: seseorang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar ia hasus memperhatikan dan mempertimbangkan antara masalah dan mafsadah dari perbuatannya tesebut, jika masalahat yang ditimbulkan lebih besar dari mafsadahnya maka ia boleh melakukannya, tetapi jika menyebabkan kejahatan dan kemungkaran yang lebih besar maka haram ia melakukannya, sebab yang demikian itu bukanlah sesuatu yang diperintakan oleh Allah Ta’ala, sekalipun kemunkaran tersebut berbentuk suatu perbuatan yang meninggalkan kewajiban dan melakukan yang haram.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Jika amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan kewajiban dan amalan sunat yang sangat agung (mulia) maka sesuatu yang wajib dan sunat hendaklah masalahat didalamnya lebih kuat/besar dari mafsadahnya, karena para rasul diutus dan kitab kitab diturunkan dengan membawa hal ini, dan Allah tidak menyukai kerusakan, bahkan setiap apa yang diperintahkan Allah adalah kebaikkan, dan Dia telah memuji kebaikkan dan orang orang yang berbuat baik dan orang orang yang beriman serta beramal sholeh, dan mencela orang orang yang berbuat kerusakan dalam beberapa tempat, apabila mafsadah amar ma’ruf dan nahi mungkar lebih besar dari masalahtnya maka ia bukanlah sesuatu yang diperintahkan Allah, sekalipun telah ditinggalkan kewajiban dan dilakukan yang haram, sebab seorang mukmin hendaklah ia bertaqwa kepada Allah didalam menghadapi hambaNya, karena ia tidak memiliki petunjuk untuk mereka, dan inilah makna firman Allah:

{يا أيها الذين آمنوا عليكم أنفسكم لا يضركم من ضل إذا اهتديتم} المائدة: 105.

“Wahai orang-orang yang beriman perhatikanlah dirimu, orang yang sesat tidak akan membahayakanmu jika kamu mendapat petunjuk”.

Dan mendapat petunjuk hanya dengan melakukan kewajiban”([11]).

Dan beliau juga menambahkan: “Sesungguhnya perintah dan larangan jika menimbulkan maslahah dan menghilangkan mafsadah maka harus dilihat sesuatu yang berlawanan dengannya, jika maslahah yang hilang atau kerusakan yang muncul lebih besar maka bukanlah sesuatu yang diperintahkan, bahkan sesuatu yang diharamkan apabila kerusakannya lebih banyak dari maslahahnya, akan tetapi ukuran dari maslahah dan mafsadah adalah kacamata syari’at”([12]).

Imam Ibnu Qoyyim berkata : “Jika mengingkari kemungkaran menimbulkan sesuatu yang lebih mungkar dan dibenci oleh Allah dan RasulNya, maka tidak boleh dilakukan, sekalipun Allah membenci palaku kemungkaran  dan mengutuknya”([13]).

Oleh karena itu perlu dipahami dan diperhatikan empat tingkatan kemungkaran dalam bernahi mungkar berikut ini:

1- Hilangnya kemungkaran secara total dan digantikan oleh kebaikan.

2- Berkurang kemungkaran, sekalipun tidak tuntas secara keseluruhan.

3- Digantikan oleh kemungkaran yang serupa.

4- Digantikan oleh kemungkaran yang lebih besar.

Tingkatan pertama dan kedua disyariatkan bernahi mungkar, tingkatan ketiga butuh ijtiahad, yang keempat terlarang dan haram melakukannya([14]).

Kedua : Karakteria seorang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar.

Sekalipun amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan kewajiban setiap orang yang mempunyai kemampuan untuk itu sesuai dengan maratib diatas, akan tetapi orang yang melakukan hal itu harus memiliki karakteristik berikut ini:

1- Berilmu.

2- Lemah lembut dan penyantun.

3- Sabar.

Þ          Berilmu:

Amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah ibadah yang sangat mulia, dan sebagaimana yang dimaklumi bahwa suatu ibadah tidak akan diterimah oleh Allah kecuali apabila ikhlas kepadaNya dan sebagai amal yang sholeh, suatu amalan tidak akan mungkin menjadi amal sholeh kecuali apabila berlandaskan ilmu yang benar.

Karena seseorang yang beribadah tanpa ilmu maka ia lebih banyak merusak daripada memperbaiki, karena ilmu itu imam amalan dan amalan mengikutinya.

Syekhul islam berkata: “Jika ini merupakan defenisi amal sholeh (yang memenuhi persyaratan ikhlas dan ittiba’) maka seseorang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar wajib menjadi seperti ini juga terhadap dirinya, dan tidak akan mungkin amalannya menjadi amal sholeh jika ia tidak berilmu dan paham, dan sebagaimana yang dikatakan oleh Umar Bin Abdul Aziz : “Barangsiapa yang mengibadati Allah tanpa ilmu maka apa yang dirusaknya lebih banyak dari apa yang diperbaikinya“, dan dalam hadits Mu’az Bin Jabal: “Ilmu adalah imam amalan, dan amalan mengikutinya“, dan ini sangat jelas, karena sesungguhnya niat dan amalan jika tidak berlandaskan ilmu maka ia adalah kebodohan, kesesatan dan mengikuti hawa nafsu,…dan inilah perbedaan antara orang orang jahiliyah dan orang orang islam”([15]).

Ilmu disini mencakup ilmu tentang kabaikkan dan kemungkaran itu sendiri, bisa membedakan antara keduanya dan berilmu tentang keadaan yang diperintah dan yang dilarang.

Þ    Lemah lembut dan penyantun (Ar rifq dan Al hilm)

Seorang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar hendaklah mempunyai sifat lemah lembut dan penyantun, sebab segala sesuatu yang disertai lemah lembut akan bertambah indah dan baik, dan sebaliknya jika kekerasan menyertai sesuatu maka akan menjadi jelek, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu’alai wasallam:

((إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه، ولا ينزع من  شيء إلا شانه)). رواه مسلم (2594).

Sesungguhnya tidaklah lemah lembut ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut (hilang) dari sesuatu kecuali akan membuatnya jelek”.

وقال : ((إن الله رفيق يحب الرفق في الأمر كله، ويعطي على الرفق ما لا يعطى على العنف وما لا يعطي على ما سواه)). رواه البخاري (5678، 6528) ومسلم (2593) واللفظ له.

Sesungguhnya Allah Maha Penyantun, Ia menyukai sifat penyantun (lemah lembut) dalam segala urusan, dan memberikan dalam lemah lembut apa yang tidak diberikan dalam kekerasan dan apa yang tidak diberikan dalam selainnya”.

قال الإمام أحمد بن حنبل –رحمه الله-: (والناس يحتاجون إلى مداراة ورفق في الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، بلا غلظة إلا رجلا معلنا بالفسق، فقد وجب عليك نهيه وإعلامه، لأنه يقال: ليس لفاسق حرمة، فهؤلاء لا حرمة لهم) نقله ابن مفلح في “الآداب الشرعية” 1/212، وابن رجب في جامع العلوم والحكم 2/272.

Imam Ahmad berkata: “Manusia butuh kepada mudaraah (menyikapinya dengan lembut) dan lemah lembut dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar, tanpa kekerasan kecuali seseorang yang terang terangan melakukan dosa, maka wajib atasmu melarang dan memberitahunya, karena dikatakan: “orang fasiq tidak memiliki kehormatan” maka mereka tidak ada kehormatannya”.

Jika ini dizaman iman Ahmad Bin Hambal imam Ahlissunnah Waljama’ah, dimana ilmu dan sunnah lebih dominan dalam kehidupan manusia dan mewarnai prilaku mereka kecuali ahlul bid’ah, tentu  manusia dizaman kita sekarang ini lebih membutuhkan lemah lembut dan santunan dalam menghadapi dan menyikafi kesalahan yang mereka lakukan, apalagi dengan berkembangnya kebodohan dikalangan kaum muslimin dan semakin jauhnya mereka dari bimbingan Al Qur’an dan Sunnah kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala. Kita berdo’a semoga Allah mengembalikan kaum muslimin kepada kebenaran, amiin.

وقال أيضا: (ينبغي أن يأمر بالرفق والخضوع، فإن اسمعوه ما يكره لا يغضب فيكون يريد أن ينتصر لنفسه). ذكره ابن مفلح في الآداب الشرعية 1/213، وابن رجب في جامع العلوم والحكم 2/272.

“Mesti ia menyeru dengan lemah lembut dan merendahkan diri, jika mereka memperdengarkan (memperlihatkan) kepadanya apa yang dibenci jangan ia marah, karena (kalau marah)berati ia ingin membalas untuk dirinya”.

Þ    Sabar:

Hendaklah seseorang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar bersifat sabar, sebab sudah merupakan sunnatullah bahwa setiap orang yang mengajak kepada kebenaran dan kebaikkan serta mencegah dari kemungkaran pasti akan menghadapi bermacam bentuk cobaan, jika ia tidak bersabar dalam menghadapinya maka kerusakan yang ditimbulkannya lebih banyak dari kebaikkan.

Sebagaimana Firman Allah tentang wasiat Luqman terhadap anaknya:

{وأمر بالمعروف وانه عن المنكر واصبر على ما أصابك إن ذلك من عزم الأمور} لقمان: 17.

Oleh karena itu Allah Ta’ala memerintahkan para rasul –dimana mereka adalah panutan orang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar- untuk bersabar, sebagaimana firman Allah kepada Nabi Muhammad -shalallahu ‘alaihi wasallamyang terdapat pada awal surat Muddatstsir, surat yang pertama turun setelah Iqra’:

{يا أيها المدثر * قم فأنذر * وربك فكبر * وثيابك فطهر * والرجز فاهجر * ولا تمنن تستكثر * ولربك فاصبر} (المدثر 1-7).

Dan sangat banyak ayat yang memerintahkan untuk bersabar dalam menghadapi segala cobaan dan problem hidup secara umum, dan dalam berda’wah secara khusus.

Syekhul islam Ibnu Taimiyah berkata: Sabar terhadap cobaan dari manusia dalam beramar ma’ruf dan nahi mungkar jika tidak dipergunakan pasti akan menimbulkan salah satu dari dua permasalahan (kerusakkan): boleh jadi ia menginggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, atau timbulnya fitnah dan kerusakan yang lebih besar dari kerusakan meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, atau semisalnya, atau mendekatinya, kedua hal ini  adalah maksiat dan kerusakan, Allah Ta’ala berfirman :

{وأمر بالمعروف وانه عن المنكر واصبر على ما أصابك إن ذلك من عزم الأمور} لقمان: 17.

Maka barangsiapa yang menyeru tapi tidak sabar, atau sabar tetapi tidak menyeru, atau tidak menyeru dan tidak bersabar, maka akan timbul dari ketiga macam ini kerusakan, kebaikkan itu hanya terdapat dalam  menyeru (kepada kebaikkan) dan bersabar”([16]).

Maka mesti harus ada ketiga karakter diatas: ilmu, lemah lembut, sabar, ilmu sebelum menyeru dan melarang, dan lemah lembut bersamanya, dan sabar sesudahnya, sekalipun masing masing dari ketiga karakterl tersebut harus ada pada setip sikon, hal ini sebagaimana yang dinukilkan dari sebagian salaf:

((لا يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر إلا من كان فقيهًا فيما أمر به، وفقيها فيما ينهى عنه، ورفيقا فيما يأمر به، ورفيقا فيما ينهى عنه، حليما فيما يأمر به، وحليما فيما ينهى عنه)) نقله شيخ الإسلام في مجموع الفتاوى 28/137 وابن مفلح في الآداب الشرعية 1/213

Tidaklah menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran kecuali orang yang berilmu (memahami) apa yang ia serukan, dan memahami apa yang dia larang, dan berlemah lembut didalam apa yang ia serukan, dan berlemah lembut dalam apa yang ia larang, dan penyantun dalam apa yang ia serukan dan penyantun dalam apa yang ia larang”.

Ketiga : Syarat perbuatan yang wajib diingkari([17]).

Tidak semua kemungkaran dan kesalahan yang wajib diingkari, kecuali perbuatan dan kemungkaran yang memenuhi persyaratan berikut ini:

1- Perbuatan tersebut benar suatu kemungkaran, kecil atau besar.

Maksudnya: nahi mungkar tidak khusus terhadap dosa besar saja, tetapi mencakup dosa  kecil juga, dan juga tidak disyaratkan kemungkaran tersebut berbentuk maksiat, barangsiapa yang melihat anak kecil atau orang gila sedang meminum khomar maka wajib atasnya menumpahkan khomar tersebut dan melarangnya, begitu juga jika seseorang melihat orang gila melakukan zina dengan seorang perempuan gila atau binatang, maka wajib atasnya mengingkari perbuatan tersebut sekalipun dalam keadaan sendirian, sementara perbuatan ini tidak dinamakan maksiat bagi orang gila.

2- Kemungkaran tersebut masih ada.

Maksudnya: kemungkaran tersebut betul ada tatkala seorang yang bernahi mungkar melihatnya, apabila sipelaku telah selesai melakukan kemungkaran tersebut maka tidak boleh diingkari kecuali dengan cara nasehat, bahkan dalam keadaan seperti ini lebih baik ditutupi, sebagaimana sabda Rasulullah –shalallahu’alaihi wasallam-:

((من ستر مسلما ستره الله في الدنيا والآخرة)) رواه مسلم.

“Barangsiapa yang menutupi (kesalahan) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (dosa dan kesalahan) nya didunia dan akhirat”.

Sebagai contoh: Seseorang yang telah selesai minum khomar kemudian mabuk, maka tidak boleh diingkari kecuali dengan cara menasehati apabila ia telah sadar.

Dan ini (menutupi kesalahan dan dosa seorang muslim) tentunya sebelum hukum dan permasalahan tersebut sampai ketangan pemerintah atau pihak yang berwenang, atau orang tersebut seseorang yang berwibawa dan tidak dikenal melakukan kemungkaran dan keonaran, apabila permasalahan tersebut telah sampai ketangan pemerintah dengan cara yang syar’i, dan orang tersebut dikenal melakukan kerusakan, kemungkaran dan keonaran, maka tidak boleh ditutupi dan diberi syafa’at.

Adapun kemungkaran yang diperkirakan akan muncul dengan tanda-tanda dan keadaan tertentu, maka tidak boleh diingkari kecuali dengan cara nasehat lewat ceramah agama, khutbah dll.

3- Kemungkaran tersebut nyata tanpa dimata matai.

Maksudnya: tidak boleh memata matai suatu kemungkaran yang tidak jelas untuk diingkari, seperti seseorang yang menutupi maksiat dan dosa di dalam rumah dan menutup pintunya, maka tidak boleh bagi seorangpun memata matai untuk mengingkarinya, karena Allah ta’ala melarang kita untuk memata matai (S.Al Hujurat, Ayat: 12)

Persyaratan ini diambil dari hadits diatas : (من رأى منكم منكرا), Manthuq (lafadz) nya menjelaskan bahwa pengingkaran berkaitan dengan penglihatan, Mafhumnya: Barangsiapa yang tidak melihat maka tidak wajib mengingkari.

4- Kemungkaran tersebut suatu yang disepakati, bukan permasalahan khilafiyah.

Maksudnya: Jika permasalahan tersebut khilafiyah, yang berbeda pendapat ulama dalam menilainya maka tidak boleh bagi yang melihat untuk mengingkarinya, kecuali permasalahan yang khilaf didalamnya sangat lemah yang tidak berarti sama sekali, maka ia wajib mengingkarinya, sebab tidak semua khilaf yang bisa diterima, kecuali khilaf yang memiliki sisi pandang yang jelas.

Sebagai contoh: Jika anda melihat seseorang memakan daging onta kemudian ia berdiri dan langsung sholat, jangan diingkari, sebab ini adalah permasalahan khilafiyah.

Diantara contoh permasalahan yang khilafiyah yang tidak berarti, dan sebagai sarana untuk berbuat suatu yang diharamkan: Nikah mut’ah (kawin kontrak) dan ini adalah suatu cara untuk menghalalkan zina, bahkan sebagian ulama mengatakan ini adalah perzinaan yang nyata. Dalam hal ini ulama Ahlisunnah sepakat tentang haramnya nikah mut’ah kecuali kaum Syi’ah (Rofidhah), dan khilaf mereka disini tidak ada nilainya sama sekali.

Keempat : Metode dan cara beramar ma’ruf dan nahi mungkar terhadap penguasa atau pemimpim.

Penguasa atau pemerintah atau hakim adalah manusia biasa dan tidak ma’sum dari dosa, bisa benar, baik dan brlaku adil dan bisa juga bersalah dan berbuat dzolim sebagaimana halnya seorang manusia, akan tetapi tidak semua orang berhaq untuk mengingkari kemungkaran yang muncul dari penguasa dan tidak pula semua cara yang bisa digunakan dalam hal ini, oleh karena itu agama islam –agama yang sempurna yang yuniversal- telah menjelaskan metode dan cara yang digunakan untuk bernahi mungkar terhadap penguasa, jikalau metode ini tidak diindahkan dan digunakan dalam hal ini niscaya akan menimbulkan bermacam bentuk fitnah dan kerusakan yang sangat besar, berupa hilangnya keamanan dan kestabilan suatu negara, kehormatan dan martabat diri, darah yang bertumpahan dan nyawa yang melayang dll, dan sejarah perjalanan umat ini merupakan saksi nyata terhadap apa yang saya kemukakan.

Syekhul Islam berkata: “Hampir tidak dikenal suatu golonganpun yang keluar (angkat senjata dan kudeta) menghadapi penguasa kecuali kerusakan yang disebabkan oleh perbuatan mereka lebih besar dari kemungkaran  yang dihapuskan”([18]).

Imam Ibnu Qoyyim berkata : “Barangsiapa yang memperhatikan fitnah baik besar atau kecil yang menimpah islam, niscaya ia akan mengetahui bahwa penyebabnya adalah tidak mengindahkan prinsip ini (tidak boleh kudeta dan angkat senjata terhadap penguasa)dan tidak sabar terhadap kemungkaran yang ingin dihapuskan, sehingga menyebabkan kemungkaran yang lebih besar”([19]).

Adapun metode yang digunakan dalam mengingkari kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa atau pemerintah ada dua :

Pertama : Tidak boleh menggunakan kekerasan dan senjata.

قال الإمام ابن النحاس (ت 814هت) في “تنبيه الغافلين” (ص 42): (ليس لأحد منعه بالقهر باليد، ولا أن يشهر عليه سلاحا، أو يجمع عليه أعوانا، لأن في ذلك تحريكا للفتن، وتهييجا للشر، وإذهابا لهيبة السلطان من قلوب الرعية، وربما أدى ذلك إلى تجريهم على الخروج عليه، وتخريب البلاد، وغير ذلك مما لا يخفى).

Tidak boleh bagi seorangpun melarang penguasa dengan menggunakan kekerasan dan tangan serta tidak boleh angkat senjata, atau mengumpulkan masa, karena yang demikian itu menyebabkan fitnah dan menimbulkan kejahatan (kerusakan) serta hilangnya wibawa seorang pemimpin dihati masyarakat, dan terkadang bisa meyebabkan keberanian mereka untuk khuruj (kudeta) terhadapnya, dan rusak (hancur) nya suatu Negara, dan yang lain lain yang nyata (tidak di pungkiri)”.

Apa yang dikemukakan oleh Imam Ibnu An Nahhas diatas merupakan manhaj Ahlussunnah dalam mengingkari kemungkaran para penguasa, hal ini sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alai wasallam tentang wajibnya memberikan nasehat kepada para pemimpin dan larangan untuk kudeta dan angkat senjata terhadap penguasa yang dzolim, dan sesuai dengan apa yang dikatakan dan dipraktekkan oleh para ulama salafus sholeh.

عن أبي البختري قال: قيل لحذيفة: (ألا نأمر بالمعروف وننهى عن المنكر) قال: (إنه لحسن ولكن ليس من السنة أن ترفع السلاح على إمامك). رواه ابن أبي شيبة في مصنفه 7/508، رقم (37613) ونعيم بن حماد في الفتن 1/153، رقم: 388، وأبو عمرو الداني في السنن الواردة في الفتن 2/391، ، وابن عدي في الكامل 2/407. والبيهقي في شعب الإيمان 6/63

Dari Abu Al Bukhtury beliau berkata: dikatakan kepada Huzaifah : Tidakkah kita beramar ma’ruf dan nahi mungkar? Beliau menjawab: “ini sungguh sangat baik, tetapi bukanlah merupakan sunnah kamu mengangkat senjata (dalam beramar ma’ruf dan nahi mungkar) terhadap imam (penguasa atau pemerintah) mu”.

قال الحسن البصرى –رحمه الله تعالى- عندما خرج خارجي بالبصرة: (المسكين رأى منكرا، فأنكره، فوقع فيما هو أنكر منه). أخرجه الآجري في الشريعة 1/345 رقم: 48

Imam Hasan Al Bashri –rahimahullah- berkata –tatkala keluar salah seorang Khawarij di Bashrah- :“Miskin (kasihan)!!, ia melihat suatu kemungkaran, lalu mengingkarinya (dengan kekerasan), maka ia terjerumus kedalam kemungkaran yang lebih besar”.

Kedua : Menasehati penguasa atau pemimpin dengan sembunyi

قال الإمام ابن النحاس (ت 814هـ) في “تنبيه الغافلين” (ص 55) :(ويختار الكلام مع السلطان في الخلوة على الكلام معه على رؤوس الأشهاد، بل يود لو كلمه سرا ونصحه خفية من غير ثالث لهما).

Imam Ibnu An Nahhas berkata : Dan ia memilih pembicaraan bersama penguasa di tempat yang tersembunyi dari pembicaraan dihadapan orang banyak, bahkan ia menginginkan kalau bisa berbicara dan menasehatinya dalam keadaan tersembunyi tanpa ada orang ketiga”.

وقال الإمام الشوكاني: (ولكنه ينبغي لمن ظهر له غلط الإمام في بعض المسائل أن يناصحه ولا يظهر الشناعة عليه على رؤوس الأشهاد) السيل الجرار 4/556

Imam Asy Syaukani berkata : akan tetapi mesti bagi orang yang melihat kesalahan imam dalam sebagian masalah agar menasehatinya, dan jangan memperlihatkan peingkaran kepadanya dihadapan orang banyak”.

Apa yang dekemukakan oleh dua imam diatas sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah -shalallahu’alaihi wasallam- dan nasehat para salafus sholeh.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من أراد أن ينصح لسلطان بأمر فلا يبد له علانية ولكن ليأخذ بيده فيخلو به، فإن قبل منه فذاك، وإلا كان قد أدى الذي عليه له). رواه أحمد في مسنده 3/403

Rasulullah –shalallahu’alahii wasallam- bersabda : “Barangsiapa yang ingin menasehati pemimpin dalam suatu urusan maka jangan ia perlihatkan secara terang terangan, akan tetapi hendaklah ia memegang tangan dan membawanya menyendiri, jika dia menerimah nasehatnya itulah yang diharapkan, dan jika tidak, ia telah menyampaikan apa yang wajib atasnya”.

عن سعيد ابن جمهان، أنه جاء إلى عبد الله بن أبي أوفى –رضي الله عنه- وهو محجوب البصر فسلم عليه، فقال: من أنت؟ قال أنا سعيد بن جمهان، قال: (إن السلطان يظلم الناس ويفعل بهم ويفعل بهم قال: فتناول يدي فغمزها غمزة شديدة ثم قال: ويحك يا ابن جمهان، عليك بالسواد الأعظم –مرتين- إن كان السلطان يسمع منك فأته في بيته فأخبره بما تعلم فإن قبل منك وإلا فدعه فإنك لست بأعلم منه) رواه أحمد في المسند 4/382 وذكره الهيثمي في المجمع وعزاه لأحمد والطبراني وقال: (ورجال أحمد ثقات).

Dari Sa’id Bin Jamhan, bahwa ia datang kepada Abdullah Bin Abi Aufah –radhiyallahu anhu- dalam keadaan ia tidak melihat kemudian mengucapkan salam kepadanya, lalu beliau menjawab sambil bertanya: kamu siapa? Dia menjawab: saya Sa’id Bin Jamhan dan berkata: “Pemerintah telah berbuat dzolim kepada masyarakat, ia melakukan terhadap kedzoliman mereka, ia melakukan kedzoliman terhadap mereka., lalu ia memegang tanganku dan mencubitnya dengan kuat, kemudian berkata: “Celaka kamu wahai Ibnu Jamhan, berpeganglah kamu dengan sawadul a’zdam (jama’ah yang banyak) –dua kali-, jika pemerintah mendengar nasehatmu maka datangi kerumahnya dan sampaikan kepadanya apa yang kamu ketahui, jika ia menerima nasehatmu (itu yang diharapkan), jika tidak, tinggalkan dia, karena kamu belum tentu lebih tahu daripada nya”.

وعن أسامة بن زيد –رضي الله عنه- أنه قيل له: ألا تدخل على عثمان فتكلمه؟ فقال: أترون أني لا أكلمه إلا أسمعكم، والله لقد كلمته فيما بيني وبينه ما دون أن أفتتح أمرا لا أحب أن أكون أول من فتحه) رواه البخاري [6/330 –فتح الباري] رقم: 6685 ومسلم (رقم: 2989)، واللفظ لمسلم.

Dari Usamah Bin Zaid –radhiyallahu anhu- dikatakan kepada beliau: apakah kamu tidak masuk (menemui) Utsman dan berbicara dengannya (menasehatinya)? Beliau menjawab: “Apakah kalien menyangka saya tidak berbicara kepadanya (menasehatinya) kecuali harus saya beritahu kalien, demi Allah sungguh saya telah berbicara dengannya secara empat mata, tanpa membuka permasalahan yang saya tidak ingin menjadi orang yang paling pertama membukanya”.

قال الشيخ الألباني رحمه الله في تعليقه على “مختصر صحيح مسلم” ص 330 : (يعنى المجاهرة بالإنكار على الأمراء في الملأ، لأن في الإنكار جهارا ما يخشى عاقبته، كما اتفق في الإنكار على عثمان جهارا إذ نشأ عنه قتله)اهـ.

Syekh Al Bani –rahimahullah- mengomentari hadits diatas sambil berkata: “Maksudnya terang terangan dalam mengingkari (kesalahan) para pemimpin dihadapan orang banyak, karena mengingkari secara terang terangan (menyebabkan) apa yang ditakutkan akibatnya, sebagaimana yang terjadi dalam pengingkaran terhadap Utsman secara terang terangan, yang menyebabkan terbunuhnya beliau”([20]). Mukhtasar shohih muslim hal: 330.

Setelah dijelasakan metode Ahlussunnah dalam mengingkari kemungkaran baik yang muncul dari masyarkat umum atau dari penguasa atau pemimpin, ada baiknya di akhir lembaran ini disebutkan sebagian metode yang salah yang bertentangan dengan nash nash syr’I dan prinsip-prinsip Ahlussunnah Waljama’ah dan manhaj salaf dalam mengingkari kemungkaran, diantaranya:

1-      Angkat senjata, kudeta dan provokasi untuk melawan pemerintah.

2-      Melakukan demontrasi yang merupakan metode yang paling disukai oleh mayoritas manusia dizaman sekarang ini, sementara ini adalah metode yang dicetuskan oleh orang orang Yahudi.

3-      Dengan membeberkan kesalahan pemerintah didepan masyarakat umum, atau lewat media masa.

4-      Dengan menggunakan kekerasan dan main hukum sendiri.

5-      Sengaja memata matai suatu kemungkaran yang tersembunyi untuk diingkari.

6-      Mengikari kemungkaran yang menyebabkan munculnya kemungkaran yang lebih besar.

7-      Dll.

Demikian yang bisa disampaikan dalam lembaran yang sederhana ini, mudah mudahan bermanfaat bagi penulis dan para pembaca, jika didapatkan didalamnya kebenaran ini semata mata taufiq dari Allah Ta’ala dan jika didapatkan keselahan dan kekeliruan ini semata mata dari diri saya sendiri, saya istiqfar dan taubat kepada Allah dan  sangat mengharapkan nasehat dan saran dari para pembaca.

الحمد لله بنعمته تتم الصالحات، وصلى الله وسلم على نبيا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

 

 

Ditulis oleh:

Muhammad Nur Ihsan

Di Madinah An nabawiyah

18/4/ 1426 H. / May 2005 M

H.P : +966509729540

Phone: +96648380965

 

 

 


)[1]  (Lihat, Jami’ul ulum walhikam, Ibnu Rajab, 1/79

)[2] ( Ibid, 1/81

)[3] (  Lihat Al Iman, Ibnu Taimiyah, hal: 2, cet: Al Maktabah Al islamiyah.

)[4] (  Lihat, Jami’ul ulum walhikam, 1/83.

)[5] (  Lihat, Al Iman Al Ausath, Ibnu Taimiyah, hal: 54

)[6] ( Lihat, Al Iman, Ibnu Taimiyah, hal: 184

)[7] ( Syarh Al Arba’in nawawiyah, hal: 337-338, dan lihat juga : syarah al aqidah al wasitiyah, hal:573, cet: Dar ats tsuraiyah.

)[8] ( Majmu’ fatawa, 7/427

)[9] ( Lihat, Al Adabusy syar’iyah, Ibnu Muflih, 1/185.

)[10] ( Jami’ul ulum walhikam, 2/258

)[11] ( Al Amru bil ma’ruf wan nahyu anil mungkar, hal: 10. cet: Wizarah syuun al islamiyah.

)[12] ( Ibid, hal: 12,13

)[13] ( I’lam muwaqqi’in, 3/4

)[14] ( Lihat, ibid, dan syarh arba’in nawawiyah, Syekh Al Utsaimin, hal:255.

)[15] ( Al Amru bil ma’ruf wan nahyu anil mungkar, hal: 19. cet: Wizarah syuun al islamiyah.

)[16] ( Lihat, Al adabusy syar’iyah, Ibnu Muflih, 1/181

([17])  Lihat: Tambihul gafilin, Ibnu An Nahhas, hal: 25-30, Al amru bil ma’ruf wan nahyu anil mungkar, Al Qody Abu Ya’la, hal: 158, jami’ ulum walhikam, Ibnu Rajab, 2/269-271, Al adabusy syar’iyah, Ibnu Muflih, 2/188-190

)[18] ( Minhajussunnah, 3/390

)[19] ( I’lam muwaqqi’in, 3/4

)[20] ( Mukhtasar shohih muslim, hal: 330

Iklan

2 comments on “Hadits Jibril

  1. Luar biasa – sangat sulit menemukan Riwayat yang dipaparkan seperti diatas ,…
    Hadist Jibril lainnya juga tolong ditampilkan , karena banyak yang membutuhkan – yang mungkin untuk koleksi di BLOGnya – yang mungkin untuk MADING di sekolahannya -yang mungkin untuk di tempel di MASJID yang ia kunjungi , dan banyak lagi………

    Kalau tidak salah ada beberapa Hadits yang diberi judul Hadits Jibril ini : diantaranya = tentang Iman /Ikhsan / Islam = kemudian tentang …orang yang masih berseteru ketika menjelang Shaum , dan Rasulullah meng amin kannya.
    di thesaltasin’s Blog , juga saya sedang menyusun Teks / terjemahan Al-Qur’an ( belum selesai ) yang mudah untuk dapat di COPY & PASTE per huruf.( mohon komentari yang apa adanya / kuharapkan kejujuran komentator ).
    mudah-mudahan Ridha Allah swt selalu bersama orang penyebar kebaikan. wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s