Kiat menggapai keberkahan


12 Kiat

Menggapai

Keberkahan

 

Pendahuluan.

Segala puji hanya milik Allah Ta’ala, Dzat yang telah melimpahkan berbagai kenikmatan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad , keluarga, dan seluruh sahabatnya. Amiin.

Betapa sering kita mengucapkan, mendengar, mendambakan dan berdoa untuk mendapatkan keberkahan. Keberkahan dalam umur, keberkahan dalam keluarga, keberkahan dalam usaha, keberkahan dalam harta benda dll. Bahkan karena begitu besar harapan kita untuk mendapatkan keberkahan, sampai-sampai kita senantiasa saling mendoakan dengan mengucapkan:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

“Semoga keselamatan dan keberkahan dari Allah senantiasa menyertaimu.”

Doa agung nan indah ini telah dijadikan sebagai ucapan salam ketika kita berjumpa dan berpisah. Hal ini adalah bukti nyata akan pentingnya peranan keberkahan dalam hidup kita.

Akan tetapi, pernahkah kita bertanya: Apakah sebenarnya keberkahan itu? Dan bagaimana keberkahan dapat diperoleh?

Saudaraku, mungkinkah berkah dalam hidup kita hanya terwujud dalam “berkat” yang berhasil kita bawa pulang setiap kali kita menghadiri suatu pesta atau undangan?

Mungkinkah berkah itu hanya milik para kiyai, atau tukang ramal, juru-juru kuncen kuburan, sehingga bila kita ingin mendapatkannya, kita harus datang kepada mereka untuk “ngalap berkah”, agar cita-cita kita tercapai?

Bersama tulisan ini saya mengajak saudara-saudaraku untuk sedikit menyelami maksud dan aplikasi dari keberkahan. Dengan harapan, kita dapat merealisasikan keberkahan dalam harta yang berhasil kita peroleh dengan cucuran keringat kita. Sehingga, harta tersebut, benar-benar berguna bagi kita dan juga anak keturunan kita. Bukan hanya di dunia, akan tetapi keberkahan harta kita dapat kita rasakan hingga kehidupan di akhirat kelak.

Perlu diketahui, walaupun, pembahasan yang saya paparkan berikut ini hanya sebatas keberkahan dalam hal rizki dan harta benda, akan tetapi, sebenarnya keberkahan yang akan diperoleh dari menerapkan kedua belas kiat berikut mencakup seluruh aspek kehidupan.

Semoga paparan singkat ini bermanfaat bagi saya dan keluarga, serta saudara-saudaraku seiman dan seakidah yang telah berendah hati membaca tulisan sederhana ini.

 

Arti Keberkahan Rizki.

“Berkah” atau “Al Barokah” bila kita pelajari dengan sebenarnya, baik melalui ilmu bahasa arab atau melalui dalil-dalil dalam Al Qur’an dan As Sunnah, niscaya kita akan mendapatkan bahwa “al Barokah” memiliki kandungan dan pemahaman yang sangat luas dan agung.

Secara ilmu bahasa, “Al Barokah” berartikan : “Berkembang, bertambah dan kebahagiaan.

Imam An Nawawi berkata: “Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi.”

Adapun bila ditinjau melalui dalil-dalil dalam Al Qur’an dan As Sunnah, maka “al barokah” memiliki makna dan perwujudan yang tidak jauh berbeda dari makna “Al Barokah” dalam ilmu bahasa.

Walau demikian, kebaikan dan perkembangan tersebut tidak boleh hanya dipahami dalam wujud yang riel, yaitu jumlah harta yang senantiasa bertambah dan berlipat ganda. Kebaikan dan perkembangan harta, dapat saja terwujud dengan berlipat gandannya kegunaan harta tersebut, walaupun jumlahnya tidak bertambah banyak atau tidak berlipat ganda.

Misalnya, mungkin saja seseorang yang hanya memiliki sedikit dari harta benda, akan tetapi karena harta itu penuh dengan keberkahan, maka ia terhindar dari berbagai mara bahaya, penyakit, dan tentram hidupnya. Dan sebaliknya, bisa saja seseorang yang hartanya melimpah ruah, akan tetapi karena tidak diberkahi Allah, hartanya tersebut menjadi sumber bencana, penyakit, dan bahkan mungkin ia tidak dapat memanfaat harta tersebut.

Salah seorang sahabat saya bercerita, bahwa ada seorang tukang becak yang sehari-harinya hidup pas-pasan. Akan tetapi karena ia sering mengantarkan sebagian penumpangnya ke House Donut, ia menjadi berangan-angan: andai aku bisa memiliki kesempatan menikmati donat buatan toko ini.

Subhanallah, setelah tukang becak ini merintis usaha baru dengan bermodalkan piutang dari salah satu bank konvensional, yang tentunya dengan memungut bunga, maka usahanyapun mulai maju, dan taraf kehidupannyapun mulai berubah. Dan tidak selang berapa lama, ia menjadi salah seorang yang kaya raya.

Akan tetapi suatu hal terjadi di luar perhitungannya, bersama usahanya yang mulai maju, beberapa penyakitpun mulai menghinggapinya. Dimulai dari kencing manis dan penyakit-penyakit lainnya, akibatnya impiannya untuk dapat menikmati donat buatan Hous Donut tidak juga kunjung dapat ia wujudkan. Bila dahulu semasa ia menjadi tukang becak, ia tidak mampu membelinya, maka sekarang karena ia takut akan akibat dari makan donat.

Bila dahulu ia sering hanya mengenakan kaos butut dan celana kolor, maka sekarang setelah kaya raya, iapun tidak lebih dari itu. Yang demikian itu, dikarenakan ia lebih sering untuk berada dalam rumah, dan bahkan tidak jarangia harus setia menemani tempat tidurnya, sambil menahan rasa sakit yang ia derita.

Untuk sedikit mengetahui tentang keberkahan yang dikisahkan dalam Al Qur’an, dan As Sunnah, maka saya mengajak hadirin untuk bersama-sama merenungkan beberapa dalil berikut:

  1. 1. Dalil Pertama:

]وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاء مَاء مُّبَارَكًا فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيدٌ {10} رِزْقًا لِّلْعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتًا كَذَلِكَ الْخُرُوجُ [  ق 9-11

“Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi (banyak membawa kemanfaatan) lalu Kami tumbuhkan dengan air itu taman-taman dan biji-biji tanaman yang diketam. Dan pohon kurma yang tingo-tinggi yang memiliki mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Demikianlah terjadinya kebangkitan.” (Surat Qaaf 9-11)

Bila keberkahan telah menyertai hujan yang turun dari langit, tanah gersang, kering keronta menjadi subur makmur, kemudian muncullah taman-taman indah, buah-buahan dan biji-bijian yang melimpah ruah. Sehingga negri yang dikaruniai Allah dengan hujan yang berkah menjadi negri gemah ripah loh jinawi (kata orang jawa) atau

]بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ [ سبأ 15.

“(Negrimu adalah) negri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” Saba’ 15.

Demikianlah Allah Ta’ala menyimpulkan kisah bangsa Saba’, suatu negri yang tatkala penduduknya beriman dan beramal sholeh, penuh dengan keberkahan. Sampai-sampai ulama’ ahli tafsir mengisahkan bahwa: dahulu, wanita kaum Saba’ tidak perlu untuk memanen buah-buahan kebun mereka. Untuk mengambil hasil kebunnya, mereka cukup membawa keranjang di atas kepalanya, lalu melintas dikebunnya, maka buah-buahan yang telah masak dan berjatuhan sudah dapat memenuhi keranjangnya, tanpa harus bersusah-payah memetik atau mendatangkan pekerja yang memanennya.

Sebagian ulama’ lain juga menyebutkan bahwa dahulu di negri Saba’ tidak ada lalat, nyamuk, kutu, atau serangga lainnya, yang demikian itu berkat udaranya yang bagus, cuacanya yang bersih, dan berkat kerahmatan Allah yang senantiasa meliputi mereka.([4])

  1. 2. Dalil Kedua :

Ketika Nabi r menceritakan tentang berbagai kejadian yang mendahului kebangkitan hari qiyamat, beliau bersabda:

(يقال للأرض: أنبتي ثمرتك وردي بركتك، فيومئذ تأكل العصابة من الرمانة، ويستظلون بقحفها، ويبارك في الرِّسْلِ، حتى إن اللقحة من الإبل لتكفي الفئام من الناس، واللقحة من البقر لتكفي القبيلة من الناس، واللقحة من الغنم لتكفي الفخذ من الناس). رواه مسلم

“Akan diperintahkan (oleh Allah) kepada bumi: tumbuhkanlah buah-buahanmu, dan kembalikan keberkahanmu, maka pada masa itu, sekelompok orang akan merasa cukup (menjadi kenyang) dengan memakan satu buah delima, dan mereka dapat berteduh dibawah kulitnya. Dan air susu diberkahi, sampai-sampai sekali peras seekor  onta dapat mencukupi banyak orang, dan sekali peras susu seekor sapi dapat mencukupi manusia  satu kabilah, dan sekali peras, susu seekor domba dapat mencukupi satu cabang kabilah.” Riwayat Imam Muslim

Demikianlah ketika rizqi diberkahi Allah, sehingga rizqi yang sedikit jumlahnya, akan tetapi kemanfaatannya sangat banyak, sampai-sampai satu buah delima dapat mengenyangkan segerombol orang, dan susu hasil perasan seekor sapi dapat mencukupi kebutuhan orang satu kabilah.

Ibnu Qayyim berkata: “Tidaklah kelapangan rizqi dan amalan diukur dengan jumlahnya yang banyak, tidaklah panjang umur dilihat dari bulan dan tahunnya yang berjumlah banyak. Akan tetapi kelapangan rizqi dan umur diukur dengan keberkahannya.”

Bila ada yang berkata: Itukan kelak tatkala kiamat telah dekat, sehingga tidak mengherankan, kerana saat itu, banyak terjadi kejadian yang luar biasa, sehingga apa yang disebutkan pada hadits ini adalah sebagian dari hal-hal tersebut.

Ucapan ini tidak sepenuhnya benar, sebab hal yang serupa –walau tidak sebesar yang disebutkan pada hadits ini- juga pernah terjadi sebelum zaman kita, yaitu pada masa-masa keemasan umat Islam.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: ” Sungguh dahulu biji-bijian, baik gandum atau lainnya lebih besar dibanding yang ada sekarang, sebagaimana keberkahan yang ada padanya (biji-bijian kala itu-pen) lebih banyak. Imam Ahmad telah meriwayatkan melalui jalur sanadnya, bahwa telah ditemukan di gudang sebagian khalifah Bani Umawiyyah sekantung gandum yang biji-bijinya sebesar biji kurma, dan bertuliskan pada kantung luarnya: “Ini adalah gandum hasil panenan masa keadilan ditegakkan.”

Seusai kita membaca hadits dan keterangan Imam Ibnul Qayyim di atas, kemudian kita berusaha mencocokkannya dengan diri kita, niscaya yang kita dapatkan adalah kebalikannya, yaitu makanan yang semestinya mencukupi beberapa orang tidak cukup untuk mengenyangkan satu orang, berbiji-biji buah delima hanya mencukupi satu orang,.

  1. 3. Dalil Ketiga:

عن عُرْوَةَ بن أبي الجعد البارقي t أَنَّ النبي r أَعْطَاهُ دِينَارًا يَشْتَرِي له بِهِ شَاةً فَاشْتَرَى له بِهِ شَاتَيْنِ فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ وَجَاءَهُ بِدِينَارٍ وَشَاةٍ فَدَعَا له بِالْبَرَكَةِ في بَيْعِهِ. وكان لو اشْتَرَى التُّرَابَ لَرَبِحَ فيه. رواه البخاري

“Dari sahabat Urwah bin Abil Jaed Al Bariqy t, bahwasanya Nabi r pernah memberinya uang satu dinar agar ia membelikan seekor kambing untuk beliau, maka sahabat Urwah dengan uang itu membeli dua ekor kambing, lalu menjual salah satunya seharga satu dinar. Dan iapun datang menghadap Nabi dengan membawa uang satu dinar dan seekor kambing. Kemudian Nabi mendoakannya agar mendapatkan keberkahan dalam perniagaannya. Sehingga andaikata ia membeli debu, niscaya ia akan mendapatkan keuntungan padanya. ” (riwayat Al Bukhory).

Demikianlah sedikit gambaran tentang peranan keberkahan pada usaha, penghasilan, dan kehidupan manusia, yang digambarkan dalam Al Qur’an dan Al Hadits.

Sebenarnya, masih banyak lagi gambaran tentang peranan keberkahan yang disebutkan dalam Al Qur’an atau hadits, hanya karena tidak ingin terlalu bertele-tele, saya cukupkan dengan tiga dalil di atas sebagai contoh, sedangkan sebagian lainnya akan disebutkan pada pembahasan selanjutnya.

Bila demikian adanya, tentu setiap orang dari kita mendambakan untuk mendapatkan keberkahan dalam pekerjaan, penghasilan dan harta kita. Setiap kita pasti bertanya-tanya: bagaimanakah caranya agar usaha, penghasilan dan harta saya diberkahi Allah?

Sebagaimana peranan keberkahan dalam hidup secara umum, dan dalam usaha serta penghasilan, telah banyak diulas dalam Al Qur’an dan Hadits, demikian juga persyaratan dan metode mendapatkannya. Berikut saya akan sebutkan beberapa persyaratan dan metode tersebut:

 

  1. 1. Kiat pertama: Iman kepada Allah.

Inilah syarat pertama dan terbesar agar rizqi kita diberkahi Allah, yaitu dengan merealisasikan keimanan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:

]وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ [ الأعراف 96

“Andaikata penduduk negri-negri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” Al A’raf 96.

Demikianlah imbalan Allah kepada orang-orang yang beriman dari hamba-hamba-Nya. Dan sebaliknya, orang yang kufur dengan Allah Ta’ala, niscaya ia tidak akan pernah merasakan keberkahan dalam hidup.

Diantara perwujudan iman kepada Allah Ta’ala yang berkaitan dengan penghasilan ialah dengan senantiasa yakin dan menyadari bahwa rizqi apapun yang kita peroleh ialah atas karunia dan kemurahan Allah semata, bukan atas jerih payah atau kepandaian kita. Yang demikian itu karena Allah Ta’ala telah menentukan jatah rizqi setiap manusia semenjak ia masih berada dalam kandungan ibunya.

Bila kita pikirkan diri dan negri kita, niscaya kita dapatkan buktinya, setiap kali kita mendapatkan suatu keberhasilan, maka kita lupa daratan, dan merasa itu adalah hasil dari kehebatan kita. Dan sebaliknya, setiap terjadi kegagalan atau bencana kita menuduh alam sebagai dalangnya, dan kita melupakan Allah Ta’ala .

Ketika Aceh ditimpa musibah Sunami, kita menuduh alam sebagai penyebabnya, yaitu dengan mengatakan itu karena akibat dari pergerakan atau benturan antara lempengan bumi ini dengan lempengan bumi itu dst. Ketika musibah lumpur di porong menimpa kita, kita rame-rame menuduh alam dengan mengatakan itu dampak dari gempa yang menimpa wilayah Jogjakarta dan sekitar. Ketika banjir melanda Jakarta, kita rame-rame menuduh alam, dengan berkata: siklus alam, atau yang serupa.

Jarang diantara kita yang mengembalikan semua itu kepada Allah Ta’ala, sebagai teguran atau cobaan atau mungkin juga sebagai azab. Bahkan orang yang berfikir demikian akan dituduh kolot, kampungan tidak ilmiyah, atau malah dianggap sebagai teroris dst.

]ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan Allah).” (Ar Rum 41)

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ t أَنَّهُ قَالَ صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ r صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنْ اللَّيْلَةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ: (هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟) قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ. متفق عليه

“Dari sahabat Zaid bin Khalid Al Juhani t ia menuturkan: Rasulullah r mengimami kita shalat subuh di Hudaibiyyah dalam keadaan masih basah akibat hujan tadi malam. Seusai beliau shalat, beliau menghadap kepada para sahabatnya, lalu berkata: “Tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Tuhan kalian? Mereka menjawab: Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda: Allah berfirman: Ada sebagian dari hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan kafir. Adapun orang yang berkata: Kita telah dihujani atas karunia dan rahmat Allah, maka itulah orang yang beriman kepada-Ku dan kufur dengan bintang. Dan orang yang berkata: kita dihujani atas pengaruh bintang ini dan itu, maka itulah orang yang kufur dengan-Ku dan beriman dengan bintang.” Muttafaqun ‘alaih.

Bila demikian adanya, maka mana mungkin Allah akan memberkahi kehidupan kita?! Bukankah pola pikir semacam ini adalah pola pikir yang menyebabkan Qarun diazab dengan ditelan bumi?!

]قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ القُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ [ القصص 78

“Qarun berkata: “sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak harta kumpulannya.” (Al Qashas 78)

Diantara perwujudan nyata iman kepada Allah dalam hal rizqi, ialah senantiasa menyebut nama Allah Ta’ala ketika hendak menggunakan salah satu kenikmatan-Nya, misalnya ketika makan:

عن عَائِشَةَ رضي الله عنها أن النبي r كان يَأْكُلُ طَعَاماً في سِتَّةِ نَفَرٍ من أَصْحَابِهِ فَجَاءَ أعرابي فَأَكَلَهُ بِلُقْمَتَيْنِ فقال النبي r : (أَمَا إنه لو كان ذَكَرَ اسْمَ اللَّهِ لَكَفَاكُمْ). رواه أحمد والنَّسائي وابن حبان

“Dari sahabat ‘Aisyah radhiallahu ‘anha: bahwasanya Nabi r pada suatu saat sedang makan bersama enam orang sahabatnya, tiba-tiba datang seorang arab baduwi, lalu ia menyantap  makanan beliau dalam dua kali suapan. Maka Nabi r bersabda:”Ketahuilah seandainya ia menyebut nama Allah (membaca Basmallah-pen), niscaya makanan itu akan mencukupi kalian.” Riwayat Ahmad, An Nasai dan Ibnu Hibban.

Pada hadits lain Nabi bersabda:

(أَمَا إِنَّ أَحَدَكُمْ إذا أتى أَهْلَهُ وقال: بِسْمِ اللَّهِ اللهم جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ ما رَزَقْتَنَا، فَرُزِقَا وَلَدًا، لم يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ.) رواه البخاري

“Ketahuilah bahwa salah seorang dari kamu bila hendak menggauli istrinya ia berkata: “Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkanlah syetan dari anak yang Engkau karuniakan kepada kami”, kemudia mereka berdua dikaruniai anak (hasil dari hubungan tersebut-pen) niscaya anak itu  tidak akan diganggu syetan.” Riwayat Bukhory.

Demikianlah peranan iman kepada Allah, yang terwujud pada menyebut nama-Nya ketika hendak menggunakan suatu kenikmatan dalam mendatangkan keberkahan pada harta dan anak keturunan.

Sebaliknya, ingkar terhadap Allah Ta’ala, dan beranggapan bahwa rizki dan keberhasilan adalah hasil dari kecerdasan dan kerja keras kita, menjadi penyebab hancurnya segala kenikmatan.

Apa yang menimpa umat manusia sekarang ini, berupa krisis ekonomi global, merupakan bukti baru akan hal ini.

Beberapa waktu silam, umat manusia dibuat terpana oleh kehebatan dunia barat. Oleh karenanya, dunia barat oleh banyak umat Islam dinobatkan sebagai kiblat perekonomian.

Akan tetapi, krisis ekonomi global yang sedang diderita oleh umat manusia saat ini, dan yang bermula dari negara adidaya, yaitu Amerika menjadikan uamt manusia kembali berpikir dan bertanya. Ada apa dan mengapa petaka dahsyat ini dapat menimpa negara-negara barat? Bukankah perekonomian mereka telah maju, tekhnologi mereka canggih, birokrasi mereka rapi dan pelaku ekonomi mereka handal nan cerdas?

Beribu-ribu tanda tanya dan rasa heran terus menghinggapi benak umat manusia saat ini.

Kejadian ini, kembali mengingatkan kita akan kisah yang pernah terukirkan dalam lembaran sejarah umat manusia. Kisah tersebut adalah kisah seorang pengusaha dan sekaligus pakar ekonomi kenamaan zaman dahulu. Ketokohan orang tersebut -menurut banyak orang- benar-benar fenomatis dan legendaris, sampai-sampai namanya diabadikan hingga zaman sekarang. Tokoh tersebut adalah Karun, konglomerat nomer satu yang hidup di zaman Nabi Musa’ ‘alaihissalam.

]إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ[ القصص 76

“Sesungguhnya Karun adalah salah seorang kaum nabi Musa, maka ia berlalu aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugrahkan kepadanya kekayaan, yang kunci-kuncinya sungguh berat untuk dipikul oleh sejumlah orang yang gagah perkasa”. Al Qashash 76.

Karun adalah ikon pengusaha sukses, cerdas nan kaya raya. Karun begitu sukses dan kaya, sampai-sampai kebanyakan orang mengimpi-impikan untuk mengikuti jejaknya, menjadi kaya raya. Betapa tidak, kekayaannya begitu melimpah ruah, sampai-sampai sejumlah orang yang gagah perkuasa merasa keberatan untuk memikul kunci-kunci gudangnya. Padahal setiap gudang hanya memiliki satu pintu dan satu kunci, dan masing-masing kunci hanya sebesar jari manusia.

Menurut sebagian ulama’ ahli tafsir, kunci-kunci gudang Karun hanya bisa dibawa minimal oleh enam puluh keledai.

Bahkan hingga saat ini, banyak dari kita yang mendambakan untuk mendapatkan, walau hanya sedikit dari sisa-sisa harta peninggalannya; “harta karun”.

]قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ [ القصص 79

“Orang-orang yang mendambakan kehidupan dunia:”Moga-moga kiranya kita mempunyai (kekayaan) seperti yang telah diberikan kepada karun; sesungguhnya ia benar-benar mendapatkan keberuntungan yang besar.” Al Qashash 79.

Karun merasa bahwa ia berhasil dan sukses dalam perniagaannya karena kehebatan dan kecerdasannya sendiri. Oleh karena itu, tatkala ia ditegur dan dikatakan kepadanya:

]وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ[ القصص 77

“Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negri di akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan kehidupan dunia, dan berbuatlah baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Al Qashash 77

Demikianlah halnya dengan kehebatan dan keberhasilan dunia barat. Dunai barat merasa bahwa keberhasilan dan kemajuan mereka mulai berhasil dicapai, sejak mereka menjauhkan belenggu “agama” dari urusan dunia mereka. Akibatnya, mereka merasa bahwa keberhasilan dan kemajuan mereka berhasil dicapai berkat kecerdasan, pengalaman, dan kegigihan mereka sendiri, tanpa ada campur tangan sedikitpun dari Allah.

Tidak heran bila banyak dari umat Islam yang menyeru agar umat  Islam napak tilas dengan dunia barat. Betapa banyak tokoh dan ilmuan muslim yang beranggapan bahwa agama Islam telah menjadi penghalang kemajuan dan kejayaan umatnya. Tidak mengharankan bila paham sekuler laris manis dipelajari dan diajarkan di berbagai sekolahan yang ada di masyarakat Islam.

Diantara wujud nyata dari sikap napak tilas yang ada pada umat Islam ialah sikap banyak aktifis, bahkan tokoh agama untuk membelak-belokkan berbagai prinsip, dalil dan hukum islam agar selaras dengan berbagai teori perekonomian barat. Semua ini demi mewujudkan impian menjadi negara maju dan makmur seperti yang terjadi di dunia barat.

Bila kita sedikit jujur saja, niscaya kita menyadari bahwa impian kita di atas serupa dengan impian masyarakat Karun kala itu. Kita beranggapan bahwa keberhasilan, kekayaan dan kemajuan pasti dapat digapai dengan pendidikan yang maju, kerja keras, dan sistem yang bagus. Kita akan mencibir setiap orang yang mengatakan bahwa iman dan amal soleh merupakan faktor utama tercapainya keberhasilan, kejayaan, kedamaian  dan kemajuan.

Kita semua lalai, bahkan banyak dari pakar ekonomi kita yang tidak percaya bahwa rizqi dan segala kenikmatan dunia adalah karunia dan nikmat dari Allah. Bahkan banyak dari kita yang berusaha untuk melupakan  bahwa hanya Allah Ta’ala yang menurunkan dan mengatur segala urusan makhluq-Nya?!.

Saudaraku, cemkanlah firman Allah Ta’ala pada hadits qudsy berikut :

(يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ، فَاْسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ، يَا عِبَادِي كُلُّكُم عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ). رواه مسلم

“Wahai ham-hamba-Ku; kalian semua dalam kelaparan, kecuali orang yang telah Aku beri makan, maka memohonlah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu makan. Wahai hamba-hambaKu, kalian semua dalam keadaan telanjang (tidak berpakaian), kecuali orang yang telah Aku karuniai pakaian, maka mohonlah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengaruniaimu pakaian.” Riwayat Muslim

(إِنَّ الله تَعَالَى هُوَ المُسَعِّرُ القَابِضُ البَاسِطُ الرَّازِقُ) رواه أبو داود وابن ماجة وصححه الألباني

“Sesungguhnya Allah Ta’ala-lah Yang menentukan harga (menciptakan berbagai hal yang mempengaruhi harga-pen), Yang Menyempirkan dan melapangkan rizqi, serta Maha Pemberi Rizqi.” Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani.

Demikianlah Karun -sang pencetus paham ekonomi ini- dengan kekayaannya yang berlimpah ruah, merasa telah berhasil mencapai kejayaan dan kemajuan. Akan tetapi tidak di duga-duga, pada saat itulah Allah Ta’ala menimpakan kemurkaan dan azab-Nya :

]فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ المُنتَصِرِينَ  [ القصص 81

“Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan yang kuasa menolongnya dari azab Allah, dan tiada pula ia termasuk orang-orang yang kuasa menyelamatkan /memmbela (dirinya sendiri).” Al Qashash 81.

Demikianlah halnya bila kemurkaan dan azab Allah Ta’ala telah datang dan menimpa kaum kafirin. Tiada yang kuasa menolak azab agar tidak datang dan tiada yang mampu menolong setelah azab tiba. Demikian pula apa yang kita rasakan sekarang, tatkala azab Allah telah menimpa kaum sekuler para pemuja harta kekayaan, dengan dihancurkannya perekonomian mereka, tiada yang kuasa mencegah dan tiada yang berdaya menyelamatkan.

Ini semua sebagai bukti dari sabda Rasulullah r:

( إِنَّ اللهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لمَ ْيُفْلِتْه ) . قال ثم قرأ ] وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ [ متفق عليه

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menunda orang yang berbuat kezhaliman, hingga bila telah datang saatnya Ia menimpakan azab kepadanya, niscaya ia tidak dapat mengelak.” Lalu Rasulullah r membaca firman Allah : “Dan demikianlah azab Tuhanmu, apabila Dia menimpakan azab penduduk negri-negri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. (Hud 102)” Muttafaqun ‘alaih.

Saudaraku, tahukah anda apa yang dikatakan oleh orang-orang mendambakan agar memiliki kekayaan dan keberhasilan seperti yang dicapai oleh Karun, di saat mereka menyaksikan azab yang menimpa idola mereka? Mereka serentek mengakui bahwa kepandaian, kegigihan, dan kehebatan Karun tidaklah berguna. Rizqi, kebahagiaan, keselamatan, dan kesengsaraan adalah bagian dari ketentuan Allah yang berlaku pada makhluq-Nya. Oleh karen itu mereka berkata:

] وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلا أَن مَّنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ[

“Aduhai, benarlah (hanya) Allah-lah yang melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya. Kalaulah Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita, niscaya Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai, benarlah tidak beruntuk orang-orang yang kufur (mengingkari nikmat Allah).” Al Qashash 82.

Saudaraku, coba bandingkanlah ucapan mereka di atas dengan keadaan kita pada saat ini. Kita semua ramai-ramai mengakui bahwa tidak semua apa yang ada dan diterapkan oleh dunia barat layak untuk ditiru. Mungkin sekarang ini –dengan terpaksa- banyak dari pakar ekonomi yang mengakui bahwa berbagai paham dan teori ekonomi yang mereka pelajari dari para pewaris Karun tidak dapat menyelamatkan dan memakmurkan dunia. Di berbagai mas media, kita dapatkan berbagai ulasan yang merinci berbagai kesalahan dan kebobrokan paham ekonomi yang dianut oleh dunia barat.

Saudaraku, tidakkah krisis ekonomi global ini cukup menjadi peringatan bagi kita untuk kembali kepada Syariat Allah?! Bukankah kita semua menyadari dan beriman bahwa dunia berserta isinya adalah ciptaan Allah? Akan tetapi mengapa, kita tidak mengindahkan dan menerapkan aturan dan ketentuan yang telah Allah turunkan dalam memakmurkan dunia?!

Bukankah bila kita membeli suatu mesin dari suatu perusahaan, dengan sepenuhnya kita mematuhi tatacara pengoprasian dan perawatan yang mereka tentukan?! Akan tetapi, mengapa kita menyelisishi kebiasaan ini, tatkala kita hendak menggunakan dan merawat dunia yang merupakan ciptaan Allah?!

Saudaraku! Simaklah janji Allah Ta’ala:

]وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا {2} وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا[ الطلاق 2-3

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan beginya jalan keluar dan memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah (berkuasa untuk) melaksanakan urusan yang dikehendakai-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap urusan.” At Tholaq 2-3.

Pada ayat lain, Allah Ta’ala berfirman:

]إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ[ العنكبوت 17

Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu, maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan beribadah dan bersyukurlah kepada-Nya,. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.’ Al Ankabut 17.

Janji Allah Ta’ala pada ayat kedua ayat ini bukan berarti bila kita telah sholat, puasa, dan berdzikir lalu akan segera turun hujan emas dan perak. Tidak demikian, ayat ini ditafsiri oleh Rasulullah r dengan sabdanya:

(لو أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ على اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كما يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً) رواه أحمد وغيره

“Andaikata engkau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah akan melimpahkan rizqi-Nya kepadamu, sebagaimana Allah melimpahkan rizqi kepada burung, yang (setiap) pagi pergi dalam keadaan lapar dan pada sore hari pulang ke sarangnya dalam keadaan kenyang.” Riwayat Ahmad, dan lain-lain.

Demikianlah aplikasi ayat ini, umat Islam harus bekerja keras, berjuang dengan pantang menyerah. Gambaran tawakkal umat Islam adalah bagaikan seekor burung yang bekerja jeras pantang menyerah. Pada setiap pagi  setiap burung meninggalkan sarangnya menuju ke berbagai arah, guna mengais rizkinya, dan pada sore hari, masing-masing kembali ke sarangnya dalam keadaan kenyang.

Alangkah indahnya jiwa seorang mukmin yang mengamalkan ayat dan hadits di atas. Ia bekerja keras, pantang menyerah, dan pada saat yang sama, ia beriman bahwa rizkinya ada di Tangan Allah Ta’ala. Setiap usahanya senantiasa diiringi dengan iman, doa dan tawakkal, serta ditutup dengan rasa syukur. Semboyannya adalah sabda Rasulullah r:

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا الله وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْساْ لَنْ تَمُوَت حَتىَّ تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا، فَاتَّقُوا الله وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرَمَ). رواه ابن ماجة وعبد الرزاق وابن حبان والحاكم وصححه الألباني

“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-ebnar telah mengenyam seluruh rizqinya, walaupun telat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi. Tempuhlah jalan-jalan mencari rizki yang halal dan tinggalkan yang haram.” Riwayat Ibnu Majah, Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, serta dishohihkan oleh Al Albani.

Keindahan jiwa seorang mukmin akan semakin lengkap, disaat ia memperoleh karunia dari Allah berupa rizki yang halal. Yang demikian itu, karena itu segera mensyukuri kinikmatan tersebut. Sehingga dengan syukur tersebut, kenikmatan Allah yang dikaruniakan kepadanya semakin bertambah dan melimpah.

]وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ [ إبراهيم 7

“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu mengumandangkan :”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” ( Ibrahim 7).

Bukan hanya bersyukur, sebagai seorang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir, ia akan menggunakan kenikmatan dalam jalan-jalan yang dibenarkan dan mendatangkan kebaikan. Kabaikan bagi dirinya, keluarga masyarakat dan agamanya.

(نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ). رواه أحمد وصححه الألباني

“Sebaik-baik harta yang halal adalah harta halal yang dimiliki oleh orang sholeh.” Riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani.

Saudaraku! Ketahuilah bahwa diantara wujud nyata dari iman kita kepada Allah Ta’ala ialah dengan senantiasa mengingat Allah Ta’a setiap kali menyaksikan sesuatu yang menakjubkan. Orang yang benar-benar beriman akan senantiasa ingat Allah, lalu memuji-Nya setiap kali ia mendapatkan kenikmatan atau menyaksikan kenikmatan.   Diantar bentuk pujian kepada Allah yang hendaknya kita ucapkan ketika menyaksikan kenikmatan ialah dengan mengucapkan

مَا شَاءَ الله

“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud”.

Allah Ta’ala menceritakan kisah seorang kaya raya yang memiliki ladang subur dan penuh dengan buah-buahan. Pada suatu hari, ia bersama sahabatnya masuk ke dalam ladangnya. Menyaksikan ladang yang begitu subur dan buah-buahannya yang beraneka ragam, ia berkata: “Aku kira ladangku ini tidak akan pernah punah, ditambah lagi, hari qiyamat yang engkau ceritakan kepadaku tidak akan pernah tiba. Dan andaipun kiamat tiba, niscaya aku akan mendapatkan kehidupan yang bahagia.” Mendengar ucapan ini, sahabat yang beriman tersebut menegurnya dengan berkata:

]وَلَوْلا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ إِن تُرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالاً وَوَلَدًا[ الكهف 39

“Dan mengapa tatkala memasuki kebunmu (dan terkagum karenanya), kamu tidak mengucapkan :” MAASYA ALLAHU, LAA QUWWATA ILLA BILLAH” (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali atas pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” Al Kahfi 39.

Ibnu katsir berkata: “Sebagian ulama’ salaf menyatakan : “Barang siapa merasa takjub dengan diri, atau harta atau anaknya, hendaknya ia segera mengucapkan : “MAASYA ALLAHU, LAA QUWWATA ILLA BILLAH”. Dan ayat ini merupakan dasar bagi perkataan ini.

Pendapat ini juga didukung oleh sabda Nabi r:

مَا أَنْعَمَ الله عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً مِنْ أَهْلٍ أَوْ مَالٍ أَوْ وَلَدٍ، فَيَقُولُ: مَا شَاءَ اللهُ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، فَيَرَى فِيهِ آفَةً دُوْنَ الْمَوتِ. رواه أبو يعلى الموصلي بسند ضعيف

“Tidaklah Allah mengaruniakan kepada seorang hamba suatu kenikmatan, berupa anggota keluarga (istri), harta atau keturunan, lalu ia berkata: “MAASYA ALLAHU, LAA QUWWATA ILLA BILLAH”, kemudian kenikmatan itu dapat ditimpa petaka selain kematian.” Riwayat Abu Ya’la Al Mushily At Thobrany, Al Baihaqy dan lainnya, dengan sanad yang lemah.

Dan diantara bentuk pujian yang diajarkan oleh Nabi r untuk kita ucapkan ketika kita menyaksikan kenikmatan ialah bacaan doa keberkahan. Memohon kepada Allah agar harta dan kenikmatan yang telah dikaruniakan kepada kita senantiasa diberkahi. Dengan demikian, kenikmatan tersebut akan mendapat keberkahan sehingga langgeng dan tidak mudah sirna.

Pada suatu hari sahabat ‘Amir bin Rabi’ah t melintasi sahabat Sahel bin Hanif t yang sedang mandi di rawa atau sungai, sepontan sahabat ‘Amir berkata: “Aku tidak pernah melihat kulit seputih ini, sampaipun kulit seorang gadis pingitan”. Tak lama kemudian sahabat Sahel tersungkur tak berdaya. Maka kejadian itu segera disampaikan kepada Nabi r, dan dikatakan kepada beliau: “Segera selamatkan Sahel!” Maka beliaupun bersabda: “Siapakah yang kalian curigai (telah mengenainya)? Para sahabatpun menjawab: ‘Amir bin Rabi’ah. Rasulullahpun bersabda: Dengan sebab apa salah seorang dari kalian hendak membunuh saudaranya?! Bila ia melihat suatu hal pada diri saudaranya atau pada dirinya sendiri atau harta bendanya, yang membuatnya tekjub, hendaknya ia memohonkan keberkahan. Yang demikian itu dikarenakan ‘ain (pengaruh buruk pandangan mata-pen) itu benar adanya.” Lalu Beliau memerintahkan sahabat ‘Amir untuk berwudhu, dengan membasuh wajah, kedua tangan hingga kedua sikunya, kedua lututnya, dan bagian dalam sarungnya (atau bagian pinggang yang menjadi tempat menyimpulkan sarung-pen), kemudian beliau memerintahkan agar air bekas basuhan tersebut disiramkan kepada sahabat Sahel. Seusai disiram dengan air tersebut, sahabat Sahel meneruskan perjalanannya bersama rombongan, seakan-akan tidak pernah mengalami gangguan apapun. (Kisah ini diriwayat oleh Imam Ahmad, An Nasa’i, At Thobrany, Al Hakim dan lainnya, serta  dishohihkan oleh Al Albani).

Perlu diketahui bahwa kedua sahabat di atas, yaitu ‘Amir bin Rabi’ah dan Sahel bin Hanif termasuk sahabat terkemuka Nabi r, dan keduanya termasuk yang andil dalam peperangan Bader, sehingga anggapan bahwa sahabat ‘Amir telah hasad atau menyimpan kedengkian terhadap Sahel bin Hanif tidak layak kita lakukan.

Yang layak untuk kita lakukan hanyalah berbaik sangka kepada mereka berdua dan mengatakan bahwa sahabat ‘Amir bin Rabi’ah t telah lalai untuk memohonkan keberkahan bagi sahabat Sahel atas karunia Allah Ta’ala berupa kulit yang putih nan bersih.

Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “Pengaruh ‘ain dapat terjadi ketika seseorang merasa ta’ajub/ kagum walaupun tanpa disertai rasa hasad, walaupun dari orang yang menyayangi korbannya, walaupun dari orang sholeh. Dan orang yang merasa kagum terhadap sesuatu hendaknya bersegera mendoakan keberkahan untuk orang/ sesuatu yang ia kagumi, dan doa keberkahan itu akan menjadi penawar pengaruh ‘ainnya.”

Ibnu Qayyim menjelaskan hubungan antara ‘ain dan hasad adalah sebagai berikut: “Orang yang menimpakan ‘ain dan orang hasad memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya: mereka berdua jiwanya terkondisi dan tertuju kepada orang yang diganggu. Orang yang menimpakan ‘ain, jiwanya akan terkondisikan disaat berjumpa dan menyaksikan korbannya, sedangkan orang hasad, kehasadannya dapat terwujud baik korban ada dihadapannya atau tidak. Perbedaan antara keduanya: Orang yang menimpakan ‘ain dapat saja mengenai sesuatu yang ia tidak hasad kepadanya, misalnya, benda atau binatang, atau tanaman, atau harta, walaupun biasanya senantiasa disertai dengan sifat hasad pelakunya. Dan mungkin juga pengaruh matanya menimpa dirinya sendiri, karena pandangan matanya yang penuh rasa ta’ajub/ kagum dan tajam terhadap sesuatu, disertai jiwanya yang telah terkondisikan dengan keadaan kala itu, dapat mempengaruhi sesuatu yang ia pandang. “

Demikianlah salah satu dampak negatif yang mungkin terjadi bila kita lalai untuk memohonkan keberkahan kepada Allah, untuk kenikmatan yang ada pada saudara kita atau bahkan pada diri kita sendiri.

Bila anda bertanya, bagaimanakah proses terjadinya pengaruh ‘aian dapat terjadi? Maka para ulama’ memiliki beberapa penafsiran dan jawaban atas pertanyaan ini, akan tetapi -menurut hemat saya- pendapat yang paling kuat ialah pendapat berikut: Bila seseorang ta’ajub terhadap suatu hal, sampai-sampai menyebabkannya lalai bahwa hal yang mengagumkan itu adalah karunia Allah. maka kadang kala Allah menimpakan petaka pada hal yang mengagumkan tersebut. Ini semua terjadi agar orang yang berimankembali sadar  bahwa ini semua (sesuatu yang menakjubkan dan petaka yang menimpanya) terjadi atau kuasa Allah.

Agar kita semakin memahami betapa besarnya peranan doa keberkahan atas kenikmatan yang ada pada kita, maka saya mengajak pembaca untuk bersama-sama merenungkan beberapa hadits Rasulullah r  berikut :

(العَينُ حقٌّ، وَلَوْ كَانَ شَيءٌ سَابَقَ القَدَرَ، سَبَقَْهُ العَيْنُ، وَإِذَا اسْتُغْسِلتم فَاغْسِلُوا) رواه مسلم

“(Pengaruh buruk) mata adalah benar adanya, dan seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului taqdir, niscaya akan di dahului oleh mata (al ‘ain). Dan bila engkau diminta untuk membasuh diri, maka basuhlah”. (riwayat Muslim).

Pada hadits lain, dengan lebih tegas Rasulullah r menyebutkan pengaruh langsung dari pandangan orang tidak memohonkan keberkahan untuk kenikmatan yang ia saksikan:

(أَكْثَرُ مَنْ يَمُوتُ مِنْ أًُمَّتِي بَعْدَ كِتَابِ الله وَقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ بِالأَنْفُس) ( يعني بالعين) رواه البزار والطَّيالسي وابن أبي عاصم وحسنه الألباني

“Kebanyakan orang yang meninggal dari umatku –setelah karena ketentuan dan taqdir Allah- adalah akibat pengaruh  jiwa “. maksudnya “pandangan mata”. (riwayat Al Bazzar, At Thoyalisy, Ibnu Abi Ashim dan dihasankan oleh Al Albany.

Pada hadits lain Nabi r bersabda:

(العَيْنُ تُدْخِلُ الرَّجُلَ القَبْرَ وَالجَمَلَ القِدْرَ.) رواه ابن عدي وأبو نعيم وحسنه الألباني

“(pengaruh) Al ‘ain menyebabkan seseorang masuk ke dalam liang kuburannya dan onta ke dalam panci.” (riwayat Ibnu ‘Adi, Abu Nuaim dan dihasankan oleh Al Albani).

Pada suatu hari Rasulullah r melihat anak-anak sahabat Ja’far bin Abi Tholib y yang berbadan kurus, maka beliau bertanya kepada ibu mereka yaitu Asma’ bintu ‘Umais radhiallahu ‘anha:

(مَا لِي أَرَى أَجْسَامَ بَنِي أَخِي ضَارِعَةً، تُصِيبُهُمْ الْحَاجَةُ؟ قالت: لاَ، وَلَكِنْ الْعَيْنُ تُسْرِعُ إليه. قال: أرقيهم، قالت: فَعَرَضْتُ عليه، فقال أرقيهم). رواه مسلم

“Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku (keponakanku) kurus-kurus, apakah mereka ditimpa  kekurangan/ kemiskinan?  Maka Asma’ menjawab: Tidak, akan tetapi (pengaruh mata) cepat sekali menimpa mereka? Maka beliau bersabda: Jampi-jampilah (ruqyahlah) mereka. Asma’ berkata: Maka akupun memaparkan bacaan jampi-jampi kepadanya, dan beliau bersabda: Jampi-jampilah mereka (dengannya-pen). (Muslim)

Dari beberapa hadits di atas, jelaslah bagi kita bahwa diantara kiat mewujudkan keberkahan dalam hidup kita adalah dengan berdoa kepada Allah Ta’ala memohon keberkahan, yaitu dengan mengucapkan  :

بَارَكَ اللهُ فِيهِ

“Semoga Allah memberkahinya”, atau ucapan doa yang semakna dengannya. Dengan doa-doa semacam ini, –insya Allah- diri kita, keluarga, dan harta-benda kita akan  mendapatkan keberkahan alias langgeng, dan terhindar dari petaka.

 

 

  1. 2. Kiat kedua:  Beramal Sholeh.

Yang dimaksud dengan amal sholeh ialah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya sesuai dengan syari’at yang diajarkan Rasulullah r. Inilah hakikat ketaqwaan yang menjadi persyaratan datangnya keberkahan, sebagaimana ditegaskan pada ayat di atas. Dan juga ditegaskan pada janji Allah berikut:

]وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ [

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan Amal sholeh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan ornag-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barang siapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nur 55)

Tatkala Allah Ta’ala menceritakan tentang Ahlul Kitab yang hidup pada zaman Nabi r, Allah berfirman:

]وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُواْ التَّوْرَاةَ وَالإِنجِيلَ وَمَا أُنزِلَ إِلَيهِم مِّن رَّبِّهِمْ لأكَلُواْ مِن فَوْقِهِمْ وَمِن تَحْتِ أَرْجُلِهِم [المائدة 66

“Dan sekiranya mereka benar-benar  menjalankan  Taurat, Injil dan (Al Qur’an) yang diturunkan kepada mereka, niscaya mereka akan mendapatkan makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. ” (Al Maidah 66.)

Ulama’ ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “mendapatkan makanan dari atas dan dari bawah kaki” ialah Allah akan melimpahkan kepada mereka rizqi yang sangat banyak dari langit dan dari bumi, sehingga mereka akan mendapatkan kecukupan dan berbagai kebaikan, tanpa susah payah, letih lesu dan tanpa adanya tantangan atau berbagai hal yang mengganggu ketentraman hidupnya.

Dan bila kita telah mendapatkan kemudahan hidup dari atas dan bawah kita, niscaya kehidupan kita akan penuh dengan kebahagiaan, kedamaian, ketentraman dan keberhasilan.

]مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ[ النحل 97

“Barang siapa yang beramal sholeh, baik lelaki maupun perempuan sedangkan ia beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahel 97).

Ibnu Katsir rahimahullah ketika menyebutkan hadits tentang dikembalikannya keberkahan bumi, beliau menyatakan: “Tidaklah hal itu terjadi melainkan atas keberkahan penerapan syari’at Rasulullah r. Setiap kali keadilan ditegakkan, niscaya keberkahan dan kebaikan akan melimpah ruah”.

Bila demikian adanya, tidak heran bila Allah Ta’ala berfirman:

]وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ {56} مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ {57} إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ[ الذاريات 56-58

“Dan Aku tidaklahmenciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidaklah menghendaki rizki sedikitpun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai kekuatan lagi Sangat Kokoh.” Az Dzariyaat 56-58.

Diantara contoh nyata keberkahan harta orang yang beramal sholeh ialah kisah Khidir dan Nabi Musa bersama dua orang anak kecil. Pada kisah tersebut Khidir menegakkan tembok pagar yang hendak roboh; guna menjaga agar harta warisan yang di miliki oleh dua orang anak kecil dan terpendam di bawah pagar tersebut, sehingga tidak nampak dan diambil oleh orang lain.  Allah Ta’ala berfirman:

]وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ[ الكهف 82

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua anak yatim di kota itu, dan dibawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh, maka Tuhan-mu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhan-mu.” (Al Kahfi 82.)

Ulama’ tafsir menyebutkan bahwa ayah yang dinyatakan dalam ayat ini sebagai ayah yang sholeh bukanlah ayah langsung kedua anak tersebut, akan tetapi kakeknya yang ketujuh, yang semasa hidupnya berprofesi sebagai tukang tenun.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Pada kisah ini terdapat dalil bahwa anak keturunan orang sholeh akan dijaga, dan keberkahan amal sholehnya akan meliputi mereka di dunia, dan di akhirat. Ia akan memberi syafa’at kepada mereka dan derajatnya akan ditinggikan ke tingkatan tertinggi, agar orang tua mereka menjadi senang, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an dan As Sunnah. “

Akan tetapi sebaliknya, bila kita enggan untuk beramal sholeh, atau bahkan mengamalkan kemaksiatan, maka yang kita petikpun juga kebalikan dari apa yang telah disebutkan di atas. Allah Ta’ala berfirman:

]وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى[ طه 124

“Dan barang siapa berpaling dari beribadah kepada-Ku / peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiyamat dalam keadaan buta.”( Thaaha 124.)

Ulama’ ahli tafsir menyebutkan bahwa orang-orang yang berpaling dari mengingat Allah dengan beribadah kepada-Nya, maka kehidupannya akan senantiasa dirundung kesedihan dan duka. Yang demikian karena mereka senantiasa disiksa oleh ambisi menumpuk dunia, sifat kikir yang senantiasa membakar hatinya, dan rasa takut akan kematian yang senantiasa menghantuinya ([17]) .

Rasulullah r bersabda:

(إن الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ) رواه أحمد وابن ماجة والحاكم وغيرهم

“Sesungguhnya seseorang dapat saja tercegah dari rizqinya akibat dari dosa yang ia kerjakan.” (riwayat Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim dll).

Pada suatu Hari Rasulullah r dilintasi oleh rombongan pengusung janazah, sepontan berliau bersabda:

مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنهُ؟ قالوا: يا رسول الله، مَا المُسْتَرِيحُ والمُسْتَرَاحُ منه؟ قال : (العَبدُ المؤمن يَسْتَرِيحُ من نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إلى رحمة الله، والعبد الفاجر يستريح منه العبادُ والبِلاَدُ والشَّجر والدَّواب.) متفق عليه

“Apakah ia orang yang beristirahat atau diistirahati darinya? Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan orang yang beristirahat atau diistirahati darinya? Beliau menjawab: “Seorang hamba yang beriman, akan beristirahat (dengan kematian) dari kepayahan dunia dan gangguanya. Sedangkan seorang hamba yang keji (fajir), para manusia, negri, pepohonan dan binatang akan teristirahatkan darinya.” (Muttafaqun ‘alaih.)

Ulama’ pensyarah hadits ini menyatakan: “Terbebaskannya negri dan pepohonan dari orang keji ialah terhindarnya hal itu semua dari dampak kemaksiatan yang ia lakukan, karena kemaksiatannya itu adalah biang terjadinya kekeringan, sehingga menyebabkan tetumbuhan dan binatang menjadi binasa.”

Ibnu Qayyim berkata: “Dan diantara hukuman perbuatan maksiat ialah: kemaksiatan akan menghapuskan keberkahan umur, rizqi, ilmu, amalan, amal ketaatan. Dan secara global kemaksiatan menjadi penghapus keberkahan setiap urusan agama dan dunia. Karenanya tidaklah akan engkau dapatkan orang yang umur, agama, dan dunianya paling sedikit keberkahannya dibanding orang yang bergelimang dalam kemaksiatan kepada Allah. Tidaklah keberkahan dihapuskan dari bumi kecuali dengan sebab perbuatan maksiat manusia.”

Diantara contoh nyata akibat buruk yang harus diderita oleh manusia dari dicabutnya keberkahan dari kehidupannya ialah membusuknya daging, dan basinya makanan. Rasulullah r menyebutkan bahwa itu semua terjadi akibat perbuatan dosa umat manusia. Beliau rbersabda:

(لولا بنو إسرائيل لم يَخْبُثِ الطَّعَامُ ولم يَخَْزِ اللَّحْمُ). متفق عليه

“Seandainya kalau bukan karena ulah Bani Isra’il, niscaya makanan tidak akan pernah basi dan daging tidak akan pernah membusuk.”  Muttafaqun ‘alaih.

Para ulama’ menjelaskan bahwa tatkala Bani Isra’il diberi rizqi oleh Allah Ta’ala berupa burung-burung salwa (semacam burung puyuh) yang datang dan dapat mereka tangkap dengan mudah setiap pagi hari, mereka dilarang untuk menyimpan daging-daging burung tersebut. Setiap pagi hari, mereka hanya dibenarkan untuk mengambil daging yang akan mereka makan pada hari tersebut. Akan tetapi mereka melanggar perintah ini, dam mengambil daging dalam jumlah yang melebihi kebutuhan mereka pada hari tersebut, dan kemudian mereka simpan. Akibat perbuatan mereka ini, Allah menghukumi mereka, sehingga daging-daging yang mereka simpan tersebut menjadi busuk.

Al Munawi berkata: “Hadits ini adalah suatu isyarat yang menunjukkan bahwa membusuknya daging merupakan hukuman atas bani Israil, akibat mereka kufur terhadap kenikmatan Allah. Yaitu tatkala mereka menyimpan daging burung puyuh, sehingga menjadi busuk, padahal Allah telah melarang mereka dari hal itu, dan sebelum kejadian itu, daging tidak pernah membusuk.”([20])

 

  1. 3. Kiat ketiga: Mensyukuri segala ni’mat.

Tiada kenikmatan -apapun wujudnya- yang dirasakan oleh manusia di dunia ini, melainkan datangnya dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu Allah Ta’ala mewajibkan atas mereka untuk senantiasa bersyukur kepadanya, yaitu dengan senantiasa mengingat bahwa kenikmatan tersebut datangnya dari Allah, kemudian ia mengucapkan hamdalah, dan selanjutnya ia menafkahkannya di jalan-jalan yang di ridhoi Allah. Orang yang telah mendapatkan karunia untuk dapat bersyukur demikian ini, akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya, sehingga Allah akan senantiasa melipat gandakan untuknya kenikmatan:

]وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ [ إبراهيم 7

“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu mengumandangkan :”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” ( Ibrahim 7).

Dan pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

]وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ[ النمل 40

“Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur demi (kebaikan) dirinya sendiri.” (An Namel 40)

Imam Al Qurthuby berkata: “Tidaklah manfaat syukur akan didapat selain oleh pelakunya sendiri, dimana dengannya ia berhak mendapatkan kesempurnaan dari ni’mat yang ia dapat, dan nikmat tersebut akan kekal dan ditambah. Sebagaimana syukur juga berfungsi untuk mengikat kenikmatan yang telah didapat serta menggapai kenikmatan yang belum dicapai.”([21])

Sebagai contoh nyata:

]لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ {15} فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَى أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ [ سبأ 15-16

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan  dan disebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugrahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negrimu) adalah negri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsel (cemara) dan pohon bidara.” (Surat Saba’ 15-16).

Tatkala kaum Saba’ masih dalam keadaan makmur dan tentram, Allah Ta’ala hanya memerintahkan kepada mereka agar bersyukur.  Ini menunjukkan bahwa dengan syukur, mereka dapat menjaga kenikmatan mereka dari bencana, dan mendatangkan kenikmatan lain yang belum pernah mereka dapatkan.

 

Aplikasi nyata mensyukuri nikmat.

Diantara hal yang perlu untuk senantiasa kita ingat dalam hal mensyukuri nikmat adalah perwujudan rasa syukur itu sendiri. Kebanyak kita beranggapan bahwa mensyukuri nikmat hanya diwujudkan semata dengan mengucapkan “Alhamdulillah” dengan lisan. Ini adalah anggapan yang kurang tepay, karena syukur nikmat memiliki perwujudan yang sangat banyak, diantaranya:

–       Mengucapkan alhamdulillah, atau ucapan yang semakna. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat dan hadits, diantaranya pad firman Allah Ta’ala:

]الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ[

“Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam”.

Ibnu Jarir rahimahullah berkata: “Makna ucapan “Alhamdulillah” adalah bersyukur sepenuhnya hanya kepada Allah Yang Maha Agung, dan tanpa sesembahan-sesembahan lain, atau sesama makhluk lainnya. Kita bersyukur kepada Allah Ta’ala atas segala kenikmatan yang tiada terhitung jumlahnya dan tiada makhluk  yang menghitungnya. Diantara kenikmatan-Nya ialah kita dikaruniai angota tubuh yang sehat sehingga dengan mudah kita dapat menjalankan keta’atan kepada-Nya. Berbagai rizki yang telah disiapkan untuk kita dalam kehidupan dunia, kehidupan yang bahagia. Padahal Allah tidak berkewajiban untuk melakukan itu semua untuk kita. DItambah lagi, Allah Ta’ala juga telah menurunkan untuk kita syari’at agama-Nya, yang dengannya kita dapat bahagia dan kekal di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan abadi. Oleh karenanya, hanya Allah yang berhak untuk mendapatkan segala ucapan puji syukur kita. “

–       Menggunakan harta kekayaan untuk mendukung peribadahan kepada Allah Ta’ala, oleh karena itu dahulu Nabi Muhammad r menunaikan sholat malam hingga kedua kaki beliau menjadi bengkak. Dan tatkala istri beliau tercinta ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata kepada beliau:

لِمَ تَصْنَعُ هذا يا رَسُولَ اللَّهِ؟ وقد غَفَرَ الله لك ما تَقَدَّمَ من ذَنْبِكَ وما تَأَخَّرَ؟

“Mengapa engkau melakukan ini ya Rasulullah? Padahal Allah telah mengampuni seluruh dosa-dosamu, baik yang terdahulu ataupun yang akan datang.?” Beliau menjawab:

(أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا)

“Tidakkah layak bagiku untuk menjadi seorang hamba yang bersyukur”.? Muttafaqun ‘alaih.

Demikianlah praktek Nabi r dalam mensyukuri karunia Allah Ta’ala, yang berupa diampuninya dosa-dosa beliau. Semakin besar kenikmatan yang beliau terima, semakin gigih dalam menjalankan ibadah.

–       Melakukan sujud syukur setiap kali mendapatkan kenikmatan baru atau terhindar dari musibah.

(أَنَّهُ كان إذا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أو بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ) رواه أبو داود والترمذي وابن ماجة وغيرهم

“Dahulu, Nabi r bila mendapatkan suatu hal yang menggembirakan, atau di beri kabar gembira tentangnya, beliau segera bersujud, sebagai ungkapan syukur kepada Allah.” Riwayat Abu Dawud, At Tirmizi, Ibnu Majah dan lainnya.

Al Munawi berkata: “Sujud adalah puncak sikap tawadhu’ dan rendah diri seorang hamba di hadapan Allah, yaitu dengan meletakkan wajahnya yang terhormat, dan menunggingkan anggota tubuhnya. Demikianlah sepantasnya sikap seorang mukmin. Setiap kali Allah menambahkan kepadanya suatu kenikmatan, maka ia semakin bertambah merendah diri dan semakin erat dalam menggantungkan segala kebutuhannya kepada Allah. Dengan cara inilah kenikmatan dipikat dan diupayakan untuk berlipat ganda”.

Demikianlah salah satu teladan yang diajarkan Nabi r kepada kita. Dan ini merupakan dalil lain yang menjelaskan bahwa amal ketaatan adalah wujud nyata dari rasa syukur atas kenikmatan.

–       Menampakkan kenikmatan yang telah kita dapatkan, yaitu dengan menceritakan kenikmatan tersebut kepada orang lain. Allah Ta’ala berfirman:

]وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ[ الضحى 11

“Adapun dengan nikmat –nikmat Tuhanmu, maka hendaknya engkau sebut-sebut “. (Ad Dhuha 11.)

Berdasarkan ayat ini, dahulu para sahabat beranggapan bahwa termasuk kesempurnaan sikap  syukur seseorang atas suatu kenikmatan ialah dengan menyebut-nyebutnya. Oleh karena itu Dahulu Nabi r menceritakan kepada para sahabatnya kenikmatan besar yang telah beliau terima :

(أنا سيد ولد آدم ولا فخر)

“Aku adalah pemimpin anak keturunan Adam, dan tiada berbangga-banggaan.” Riwayat Ahmad dan lainnya.

Pada hadits lain beliau juga menceritakan akan kenikmatan lain yang telah dikaruniakan Allah kepadanya:

(أُعْطِيتُ خَمْسًا لم يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ من أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لي الْمَغَانِمُ ولم تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وكان النبي يُبْعَثُ إلى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إلى الناس عَامَّةً) متفق عليه

“Aku dikaruniai lima hal yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabipun sebelumku: Aku ditolong dengan dicampakkannya rasa takut pada musuh-musuhku sejak aku masih berjarak perjalanan satu bulan dari mereka. Bumi dijadikan bagiku sebagai tempat sholat (masjid) dan juga alat bersuci, maka dari itu, barang siapa dari umatku yang mendapatkan sholat,maka hendaknya ia segera mendirikannya (dimanapunia berada-pen), rampasan perang dihalalkan untukku, padahal sebelumku tidak pernah dihalalkan untuk seorang nabipun, aku dikaruniai syafa’at (kubra’), dan nabi-nabi sebelumku senantiasa diutus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia.” Muttafaqun ‘alaih.

Menceritakan kenikmatan semacam ini disyariatkan untuk kita lakukan, bila lawan bicara kita tidak memiliki sifat iri dan hasad.

Akan tetapi bila kita merasa bahwa lawan bicara kita memiliki sifat hasad atau iri, seyogyanya kita tidak melakukannya, dan lebih baik menyembunyikan kenikmatan tersebut tanpa harus berdusta.

(استَعِيْنُوا عَلَى إِنْجَاحِ الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةً مَحْسُودٌ) رواه الطبراني وغيره وحسنه الألباني

Berupayalah untuk mewujudkan kebutuhanmu dengan merahasiakan kebutuhanmu; karena setiap orang yang mendapatkan kenikmatan pasti dihasadi oleh orang lain.” Riwayat AT Thabrani dan dihasankan oleh Al Albani.

Diantara bentuk menampakkan kenikmatan yang merupakan wujud nyata dari syukur nikmat ialah dengan menggunakan kenikmatan tersebut, baik berupa pakaian, alas kaki, kendaraan, rumah dan makanan.

Pada suatu hari, Nabi r menyaksikan seorang sahabat beliau yang berpakaian kusut dan berdebu. Menyaksikan penampilan sahabatnya yang tidak menarik tersebut, Nabi r bertanya kepadanya:

(أَلَكَ مَالٌ) قال: نعم، قد آتَانِي اللَّهُ من كل الْمَالِ، قال: (من أَيِّ الْمَالِ؟) قال: آتَانِي اللَّهُ مِنَ الْخَيْلِ وَالرَّقِيقِ، فقال له r : (إذا آتَاكَ اللَّهُ مَالا، فَلْيُرَ عَلَيْكَ أَثَرُ نِعْمَتِهِ وَكَرَامَتِهِ) رواه أحمد والطبراني وغيرهما وصححه الألباني

“Apakah engkau memiliki harta kekayaan?” Sahabat itu menjawab: Ya, sungguh Allah telah mengaruniaiku segala harta benda. Nabi kembali bertanya: “Harta apa saja yang engkau miliki?”. Sahabat itu kembali menjawab: Allah telah mengaruniaku kuda, dan budak. Maka nabi r bersabda kepadanya: “Bila Allah telah mengaruniaimu harta kekayaan, maka hendaknya nampak pada dirimu pertanda kenikmatan dan karunia-Nya itu.” Riwayat Ahmad, AT Thobrani dan lainnya, dan hadits ini dishahihkan oleh Al Albani.

–       Diantara wujud nyata sikap syukur nikmat ialah dengan senantiasa menyadari bahwa segala kenikmatan adalah karunia Allah Ta’ala, yang wajib untuk disyukuri. Sebagaimana kita juga menyadari bahwa kita tidak akan pernah kuasa untuk menjalankan kewajiban bersyukur kepada-Nya dengan sepenuhnya. Kenikmatan Allah yang kita terima lebih besar dan lebih banyak dibanding sikap syukur yang kita lakukan. Bahkan sikap syukur itu sendiri merupakan kenikmatan baru yang wajib disyukuri.

Diriwayatkan dalam sebagian riwayat (israiliyat) bahwa tatkala Nabi Musa ‘alaihissalam diperintahkan untuk bersyukur kepada Allah, ia berkata: “Ya allah, bagaimana aku dapat bersyukur kepada-Mu, sedangkan sikap syukurku kepada-Mu adalah karunia baru dari-Mu yang aku terima?. Allah menjawab ucapan nabi Musa ‘alaihissalam ini dengan berfirman: “Wahai Dawud, saat inilah engkau telah mensyukuri kenikmatan-Ku”, yaitu tatkala engkau menyadari bahwa engkau tidak kuasa untuk mensyukuri kenikmatan-Nya dengan sepenuhnya.

Inilah yang mendasari Imam As Syafi’i untuk berkata:

الحمد لله الذي لا يؤدى شكر نعمة من نعمه الا بنعمة منه توجب مؤدي ماض نعمه بادائها نعمة حادثة يجب عليه شكره بها

“Segala puji hanya milik Allah, Yang kita tidak akan dapat mensyukuri suatu kenikmatan-Nya kecuali bila kita mendapatkan kenikmatan-Nya yang lain. Dan kenikmatan yang telah menjadikannya dapat mensyukuri kenikmatan yang telah lalu tersebut mengharuskannya untuk kembali bersyukur kepada Allah karenanya.”([26])

  1. 4. Kiat keempat: Mendirikan Sholat.

Ibadah sholat benar-benar memiliki peranan yang sangat besar dalam kehidupan seorang muslim. Oleh karena itu tidak heran bila Allah Ta’ala mewajibkannya atas setiap muslim, baligh dan berakal. Sholat yang ditegakkan dengan baik, dengan menyempurnakan syarat, rukun, wajib-wajibnya, benar-benar akan mewarnai karakter dan kepribadian  seorang muslim, sehingga ia akan menjadi seorang yang berperangai baik, berbudi luhur, hidupnya dipenuhi dengan kebahagiaan dan kedamaiaan.

Bila sholat telah mewarnai kehidupan seseorang, maka tidaklah ia bertutur kata melainkan dengan yang baik, dan tidaklah akan berbuat kecuali yang baik, serta tidaklah akan mendapatkan kecuali yang baik pula. Allah Ta’ala berfirman:

]وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ [العنكبوت 45

“Dan tegakkanlah sholat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (Al Ankabut 45.)

Bukan hanya berhenti sebatas itu saja, akan tetapi sholat juga akan mendatangkan kemampuan dan kemudahan yang luar biasa bagi kita ketika menghadapi kesulitan. Inilah alasan mengapa dahulu Nabi r senantiasa bersegera menjalankan sholat disaat menghadapi kesulitan atau permasalahan, sebagaimana yang dikisahkan oleh sahabat Huzaifah bin Al Yaman([27]) .

Diantara peranan sholat ialah menjadi penyebab dilapangkan dan diberkahinya rizqi kita. Oleh karena itu AllahTa’ala berfirman kepada Nabi-Nya r :

]وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى[ طه 132

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezqi kepadamu. Kamilah yang memberi rizqi kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Thoha 132)

Ulama’ ahli tafsir menjelaskan bahwa: bila seseorang telah menegakkan sholat dengan baik, dengan menyempurnakan rukun, wajib, dan khusu’nya, niscaya rizqinya akan mendatanginya dari jalan-jalan yang tidak ia sangka-sangka.

Syeikh Muhammad bin Amiin As Syinqithy berkata: “Bila seorang hamba sedang tegak berdiri bermunajat di hadapan Allah, sambil membaca ayat-ayat-Nya, niscaya dunia beserta seluruh isinya akan menjadi remeh baginya. Yang demikian itu karena ia mengharapkan kebahgiaan hidup di sisi Allah dan takut dari kemurkaan-Nya. Bila demikian adanya, akan menjadi mundah baginya untuk menjauhi segala yang tidak diridhai Allah, sehingga Allah-pun akan melimpahkan rizqi dan hidayah kepadanya.”

Bila demikian, maka tidak mengherankan bila dahulu Nabi r bila menghadapi kesusahan dalam urusanya, beliau segera mendirikan sholat.

 

  1. 5. Kiat kelima: Membayar Zakat  & Berinfak di Jalan Allah Ta’ala.

Zakat, baik zakat wajib atau sunnah (shodaqoh) adalah salah satu amalan yang menjadi penyebab turunnya keberkahan. Allah Ta’ala berfirman:

]يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ[

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (Al Baqarah 276) Pada ayat lain, Allah berfirman:

]مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاء وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ [ البقرة 260

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang  yang menafkahkan  hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tidap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan bagi orang yang Ia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah 261) Pada ayat lain Allah berfirman:

]وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ [ البقرة 265

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta mereka karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimispun (memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Al Baqarah 265)

Pada ayat lain, Allah berfirman:

]وَمَا آتَيْتُم مِّن رِّبًا لِّيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِندَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ[ الروم 39

“Dan sesuatu riba yang engkau berikan agar bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak bertambah pada sisi Allah . Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai Wajah Allah (keridhoan-Nya), maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan.” (Ar Rum 39)

Rasulullah r bersabda:

(مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.)

“Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun, kemudian salah satunya berucap (berdoa): Ya Allah, berilah orang yang berinfaq pengganti, sedangkan yang lain berdoa : Ya Allah timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfaq) kehancuran..Muttafaqun ‘alaih.

Pada hadits lain beliau r bersabda:

(مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ) رواه مسلم

“Tidaklah shodakoh itu akan mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba dengan memaafkan melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’/merendahkan diri karena  Allah, melainkan Allah akan meninggikannya.” (Muslim).

Para ulama’ menjelaskan maksud hadits ini dengan menyebutkan dua penafsiran:

  1. Maksudnya Allah akan memberkahi hartanya, dan menjaganya dari kerusakan, sehingga kekurangan yang terjadi dapat tertutupi dengan turunnya keberkahan. Hal ini dapat dirasakan langsung dan juga dapat dilihat contohnya di masyarakat.
  2. Walaupun secara hitungan harta berkurang, akan tetapi pahala yang berlipat ganda dapat menutupi kekurangan tersebut, bahkan melebihinya.

Makna kedua ini selaras dengan hadits berikut:

يقول ابن آدَمَ: مَالِي مَالِي قال: وَهَلْ لك يا بن آدَمَ من مَالِكَ إلاَّ ما أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أو لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أو تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

“Anak keturunan Adam (senantiasa) berkata :hartaku, hartaku!. Apakah engkau wahai anak Adam mendapatkan bagian dari hartamu selain yang engkau makan sehingga engkau habiskan, atau engkau pakai sehingga engkau rusakkan atau yang engkau shadakohkan sehingga engkau sisakan (untuk kehidupan akhirat)”. Riwayat Muslim.

Walau demikian, kedua penafsiran di atas sama-sama benar adanya, dan tidak saling bertentengan.

 

  1. 6. Kiat keenam: Qona’ah Dengan Karunia Allah.

Sifat qonaah dan lapang dada dengan pembagian Allah Ta’ala adalah kekayaan yang tidak ada bandingnya. Dahulu orang berkata:

إذا كنْتَ ذا قَلْبٍ قَنُوعٍ، فَأَنْتَ وَصَاحِبُ الدُّنْيَا سَوَاء.

Bila engkau memiliki hati yang qona’ah, maka engkau dan pemilik dunia (kaya raya) adalah sama”.

القناعة كنْزٌ لا يفنى

“Qona’ah adalah harta karun yang tidak akan pernah sirna”.

Rasulullah r menggambarkan keadaan orang yang dikaruniai sifat qonaah dengan sabdanya:

(مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِناً فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَومِهِ ؛ فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا) رواه الترمذي وابن ماجة والطبراني وابن حبان والبيهقي.

“Barang siapa dari kalian yang merasa aman di rumahnya, sehat badannya, dan ia memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan telah dikumpulkan untuknya dunia beserta isinya.” (riwayat At Tirmizy, Ibnu Majah, At Thobrany, Ibnu Hibban dan Al Baihaqy.

Al Munawi rahimahullah berkata: “Maksud hadits ini, barang siapa yang terkumpul padanya: kesehatan badan, jiwanya merasa aman kemanapun ia pergi, kebutuhan hari tersebut tercukupi dan keluarganya dalam keadaan selamat, maka sungguh Allah telah mengumpulkan untuknya seluruh jenis kenikmatan, yang siapapun berhasil menguasai dunia tidaklah akan mendapatkan kecuali hal tersebut.”

Dengan jiwa yang dipenuhi dengan qona’ah, dan keridhoan dengan segala rizqi yang Allah turunkan untuknya, maka keberkahan akan dianugrahkan kepadanya:

(إن اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يبتلي عَبْدَهُ بِمَا أَعْطَاهُ فَمَنْ رضي بِمَا قَسَمَ الله عز وجل له بَارَكَ الله له فيه وَوَسَّعَهُ وَمَنْ لم يَرْضَ لم يُبَارِكْ له ولم يزده على ما كتب له) رواه أحمد والبيهقي وصححه الألباني

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Luas Karunia-nya lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hamba-Nya dengan rizqi yang telah Ia berikan kepadanya. Barang siapa yang ridho dengan pembagian Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberkahi dan melapangkan rizki tersebut untuknya. Dan barang siapa yang tidak ridho (tidak puas), niscaya rizqinya tidak akan diberkahi.” (Riwayat Imam Ahmad dan dishohihkan oleh Al Albany).

Al Munawi dalam kitab faidhul qadir menyebutkan: “Bahwa penyakit ini, (yaitu: tidak puas dengan apa yang telah Allah karuniakan kepadanya-pen) telah banyak didapatkan pada pemuja dunia, sehingga engkau dapatkan salah seorang dari mereka meremehkan rizqi yang telah dikaruniakan untuknya, merasa hartanya itu sedikit, buruk, serta mengagumi rizqi orang lain dan menggapnya lebih bagus dan banyak. Oleh karenanya ia akan senantiasa banting tulang untuk menambah hartanya, hingga akhirnya habislah umurnya, sirnalah kekuatannya, dan iapun menjadi tua renta (pikun) akibat dari ambisi yang tergapai dan rasa letih. Dengan itu ia telah menyiksa tubuhnya, mengelamkan lembaran amalannya dengan berbagai dosa yang ia lakukan demi mendapatkan harta kekayaan. Padahal ia tidaklah akan memperoleh selain apa yang telah Allah tentukan untuknya. Pada akhir hayatnya ia meninggal dunia dalam keadaan pailit, ia tidak mensyukuri apa yang telah ia peroleh, dan ia juga tidak berhasil menggapai apa yang ia inginkan.”

Oleh karena itu Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menjaga kehormatan agama dan dirinya dalam setiap usaha yang ia tempuh guna mencari rizqi. Sehingga seorang muslim tidak akan menempuh melainkan jalan-jalan yang dihalalkan dan dengan tetap menjaga kehormatan dirinya.

عن حكيم بن حزام t قال: سألت رسول الله r فأعطاني، ثم سألته فأعطاني، ثم سألته فأعطاني، ثم قال: يا حكيم، إن هذا المال خضرة حلوة، فمن أخذه بسخاوة نفس، بورك له فيه، ومن أخذه بإشراف نفس لم يبارك له فيه، وكالذي يأكل ولا يشبع. اليد العليا خير من اليد السفلى، قال حكيم: فقلت يا رسول الله، والذي بعثك بالحق لا أرزأ أحدا بعدك شيئا حتى أفارق الدنيا) متفق عليه

Dari shabat Hakim bin Hizam t,ia mengisahkan: “Pada suatu saat aku pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah r, dan beliaupun memberiku, kemudian aku kembali meminta kepadanya, dan beliau kembali memberiku, kemudian aku kembali meminta kepadanya, dan beliaupun  kembali memberiku, kemudian beliau bersabda: Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini bak bauh yang segar lagi manis, dan barang siapa yang mengambilnya dengan tanpa ambisi (dan tama’ atau atas kerelaan pemiliknya), maka akan diberkahi untuknya harta tersebut. Dan barang siapa yang mengambilnya dengan penuh rasa ambisi (tamak), niscaya harta tersebut tidak akan diberkahi untuknya, dan ia bagaikan orang yang makan dan tidak pernah merasa  kenyang. Tangan yang berada di atas lebih mulia dibanding tangan yang berada di bawah. Hakim melanjutkan kisahnya dengan berkata: “Kemudian aku berkata: Wahai Rasulullah, demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku tidak akan meminta harta seseorang sepeninggalmu hingga aku meninggal dunia.” Muttafaqun ‘alaih

Hadits ini menunjukkan bahwa sifat qona’ah, memeras keringat sendiri untuk memenuhi kebutuhan, serta menempuh jalan yang baik ketika mencari rizqi akan senantiasa diiringi dengan keberkahan. Dan bahwa orang yang mencari harta kekayaan dengan ambisi dan keserakahan, sehingga ia tidak mengumpulkan dengan cara-cara yang dibenarkan, niscaya harta kekayaannya tidak akan pernah diberkahi, bahkan akan dihukumi dengan dihalangi dirinya dari kemanfaatan harta yang telah ia kumpulkan([33]) .

Pada haidts lain, beliau r memberikan contoh nyata bagi pekerjaan yang terhormat dan tidak merendahkan martabat diri pelakunya:

وَالَّذِي نَفْسِي بيده لَأَنْ يَأْخُذَ أحدكم حَبْلَهُ فَيَحْتَطِبَ على ظَهْرِهِ خَيْرٌ له من أَنْ يَأْتِيَ رَجُلا فَيَسْأَلَهُ أَعْطَاهُ أو مَنَعَهُ.

“Sungguh demi Dzat Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kamu membawa talinya, kemudian ia mencari kayu bakar dan memanggulnya di atas punggunya, lebih baik baginya daripada ia mendatangi orang lain, kemudian meminta-minta kepadanya,  baik ia diberi atau tidak.” Riwayat Bukhory.

Pada hadits lain, beliau r menjelaskan wujud lain dari penjagaan terhadap kehormatan diri dan agama seseorang ketika bekerja, beliau r bersabda:

(مَنْ طَلَبَ حَقّاً فَلْيَطْلُبْهُ فِي عَفَافٍ وَافٍ أَوْ غَيْرَ وَافٍ) رواه الترمذي وابن ماجه وابن حبان والحاكم

“Barang siapa yang menagih haknya, hendaknya ia menagihnya dengan cara yang terhormat, baik ia berhasil mendapatkannya atau tidak.” Riwayat At Tirmizy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al Hakim.

Diantara metode yang diajarkan oleh Islam kepada umatnya agar usahanya diberkahi Allah Ta’ala dan mendatangkan keberhasilan ialah dengan menggunakan modal yang diperoleh dari jalan yang baik, serta diperoleh tanpa ambisi dan keserakahan:

عن عبد الله بن عمر t أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r كان يُعْطِي عُمَرَ بن الْخَطَّابِ t الْعَطَاءَ فيقول له عُمَرُ: أَعْطِهِ يا رَسُولَ اللَّهِ أَفْقَرَ إليه مِنِّي. فقال له رسول اللَّهِ r : خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ أو تَصَدَّقْ بِهِ، وما جَاءَكَ من هذا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ ولا سَائِلٍ، فَخُذْهُ وما لا فلا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ. قال سَالِمٌ: فَمِنْ أَجْلِ ذلك كان بن عُمَرَ لَا يَسْأَلُ أَحَدًا شيئا ولا يَرُدُّ شيئا أُعْطِيَهُ. متفق عليه

“Dari Abdullah bin Umar t, bahwasanya Rasulullah r pada suatu hari hendak memberi umar bin Khatthab t suatu pemberian, kemudaian Umar berkata kepada beliau: Ya Rasulullah, berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkannya daripada aku. Maka Rasulullah rbersabda kepadanya: “Ambillah, lalu gunakanlah sebagai modal, atau sedekahkanlah, dan harta yang datang kepadamu sedangkan engkau tidak berambisi mendapatkannya tidak juga memintanya, maka ambillah, dan harta yang tidak datang kepadamu, maka janganlah engkau berambisi untuk memperolehnya.” Oleh karena itu dahulu Abdullah bin Umar tidak pernah meminta kepada seseorang dan tidak pernah menolak sesuatu yang diberikan kepadanya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Pemaparan di atas adalah sedikit bukti bakwa sifat qona’ah adalah sumber kebahagiaan hidup di dunia. Tidak mengherankan bila banyak ulama’, diantaranya sahabat Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, & Ikrimah, menyatakan bahwa “kehidupan yang baik/bahagia” yang dimaksud pada ayat 97 surat An Nahel adalah sifat qona’ah. Yang demikian itu, karena dengan sifat qona’ah, seseorang akan senantiasa merasa puas dan kecukupan dengan apa yang telah Allah Ta’ala karuniakan kepadanya.

Dahulu sebagian orang berkata:

أطول الناس همّاً الحسودُ وَأَهْنَؤُهم عَيْشاً القَنُوعُ

“Orang yang paling banyak dirunduk rasa gundah adalah orang yang paling besar rasa hasadnya, dan orang yang paling bahagia kehidupannya adalah orang yang paling besar rasa qona’ahnya.”

Betapa tidak, sifat tamak dan serakah manusia tidak akan pernah padam, walaupun ia telah dikaruniai segala macam kekayaan dan keberhasilan. Bila seseorang senantiasa menuruti ambisi dan keserakahannya, niscaya ia tidak akan pernah merasakan kedamaian dan kepuasan hidup. Terlebih-lebih, bila ambisinya tersebut sampai menjadikannya menempuh segala macam cara untuk meraih harta impiannya. Rasa tamak dan serakah yang ada dalam dada manusia hanya akan padam bila hayat telah terpisah dari badan.

(لو كان لابن آدَمَ وَادِيَانِ من مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا ولا يَمْلَأُ جَوْفَ بن آدَمَ إلا التُّرَابُ وَيَتُوبُ الله على من تَابَ) متفق عليه

“Andai seorang manusia telah memiliki dua lembah harta benda (emas), niscaya ia masih menginginkan untuk mendapatkan lembah ketiga. Dan tidak akan pernah ada yang dapat memenuhi perut manusia selain tanah. Dan Allah akan menerima taubat orang yang bertaubat/kembali (dari perangai buruk tersebut-pen) .” Muttafaqun’alaih

Sebagian ulama’ menyatakan bahwa maksud dari sabda Nabi r : “ Allah akan menerima taubat orang yang bertaubat/kembali (dari perangai buruk tersebut-pen)” adalah: Setiap manusia memiliki tabi’at cinta terhadap harta kekayaan, dan biasanya ia tidak akan pernah berhenti dari mengumpulkannya. Orang yang dijaga dan diberi taufiq oleh Allah sajalah yang mampu membersihkan perangai buruk ini dari jiwanya. Tentu orang yang demikian itu sangat sedikit jumlahnya.  Penyataan ini selaras dengan firman Allah Ta’ala:

]وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ[ الحشر 9

“Dan siapa yang dipelihara/dihindarkan dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Al Hasyer 9.

Pada hadits lain Rasulullah r bersabda:

(يَكْبَرُ بن آدَمَ وَيَكْبَرُ معه اثْنَانِ حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ الْعُمُرِ) متفق عليه

“Seseorang semakin bertambah banyak umurnya (menjadi tua), semakin besar pula kecintaannya kepada harta benda dan kepada umur panjang.” Muttafaqun ‘alaih.

Bila demikian adanya, akankah orang yang telah tua renta, bungkuk punggungnya, dan lemah ototnya, akan dapat merasakan kebahagian hidup? Tentu tidak, karena jiwanya senantiasa terpanggang oleh panasnya gelora ambisi, sedangkan fisiknya tidak lagi kuasa untuk merealisasikannya.

 

  1. 7. Kiat ketuju:Istighfar/Bertaubat dari segala dosa.

Sebagaimana halnya perbuatan dosa adalah salah satu penyebab terhalangnya rizqi dari pelakunya, maka sebaliknya, taubat dan istighfar adalah salah satu penyebab rizqi datang dan diberkahi. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh nabi Nuh ‘alaihissalam kepada umatnya:

]فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا {10} يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا {11} وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا [ نوح 10-12

“Maka aku katakan kepada mereka: “Beristighfarlah kamu kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirmkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Surat An Nuh 10-12).

]وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ[ هود 3

“Dan hendaklah kamu beristighfar kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadanya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian) niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tia-tiap orang yangmempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (Surat Huud 3).

Berdasarkan ayat ini dan juga lainnya ulama’ ahli tafsir menjelaskan bahwa diantara manfaat istighfar dan taubat adalah mendatangkan kelapangan rizki, kebahagian hidup, terhindar dari berbagai bentuk petaka dan azab([38]) .

Pada ayat lain dalam surat yang sama, Allah menceritakan tentang Nabi Hud ‘alaihissalam bersama kaumnya:

]وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلاَ تَتَوَلَّوْاْ مُجْرِمِينَ[ هود 52.

“Dan (Hud berkata): “Hai kaumku, beristighfarlah kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan atasmu hujan yang sangat deras, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (Hud 52).

Ulama’ ahli tafsir menyebutkan, bahwa akibat kekufuran dan perbuatan dosa kaum ‘Aad, mereka ditimpa kekeringan dan kemandulan, sehingga tidak seorang wanitapun yang bisa melahirkan anak. Keadaan ini berlangsung selama beberapa tahun lamanya. Oleh karena itu nabi Huud ‘alaihissalam memerintahkan mereka untuk bertaubat dan beristighfar, karena dengan keduanya Allah akan menurunkan hujan, dan mengaruniai mereka anak keturunan([39]) .

 

  1. 8. Kiat kedelapan: Menyambung Tali Silaturahim .

Diantara amal sholeh yang akan mendatangkan keberkahan dalam hidup kita ialah menyambung tali silaturrahim, yaitu menjalin hubungan baik dengan setiap orang yang terjalin antara kita dan mereka hubungan nasab. Rasulullah r bersabda:

(مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ). متفق عليه

“Barang siapa yang senang untuk dilapangkan (atau diberkahi) rizkinya, atau ditunda (dipanjangkan) umurnya, maka hendaknya ia bersilaturrahim.” (Muttafaqun ‘alaih).

Ulama’ pensyarah hadits ini mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dilapangkan rizqinya ialah: rizqinya diberkahi. Yang demikian itu dikarenakan silatur rahim adalah salah satu bentuk sedekah, dan sedekah menjadikan harta bertambah. Tidak heran bila dengan bersilaturahim harta kita akan berkembang dan menjadi bersih.

Dan yang dimaksud dengan ditunda ajalnya ialah umurnya diberkahi, diberi taufiq untuk beramal sholeh, mengisi waktunya dengan berbagai amalan yang berguna bagi kehidupannya di akhirat, dan terjaga dari menyia-nyiakan waktunya dalam hal yang tidak berguna. Atau menjadikan nama harumnya senantiasa dikenang orang. Atau benar-benar umurnya ditambah oleh Allah Ta’ala .

Sebagian dari kita -bila mendapatkan keberhasilan dalam usaha, sehingga memiliki rizqi yang berlebih- bukannya menyambung tali silaturrahim, akan tetapi malah memutusnya. Kita beranggapan bahwa karib kerabat hanya akan menambah beban hidup, membengkakkan anggaran belanja, dan akhirnya menjadikan kekayaan kita berkurang. Banyak dari kita yang siap untuk menjalin hubungan dengan siapapun, terkecuali dengan kerabat sendiri. La haula walaa quwwata illa billah.

Tidak mengherankan bila harta kekayaan yang ia miliki jauh dari keberkahan. Bahkan sering kali harta kekayaan tersebut menjadi sumber petaka dan kesengsaraannya di dunia dan akhirat.

 

  1. 9. Kiat kesembilan: Mencari Rizqi Dari Jalan Yang Halal.

Merupakan syarat mutlak bagi terwujudnya keberkahan harta kita ialah harta tersebut diperoleh dari jalan-jalan yang halal.

(لا تستبطئوا الرزق ، فإنه لن يموت العبد حتى يبلغه آخر رزق هو له، فأجملوا في الطلب: أخذ الحلال، وترك الحرام) رواه ابن ماجة وعبد الرزاق والحاكم، وصححه الألباني.

“Janganlah kamu merasa bahwa rizqimu telat datangnya, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang kepadanya rizqi terakhir (yang telah ditentukan) untuknya, maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.” Riwayat  Ibnu Majah, Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, serta dishohihkan oleh Al Albani.

Diantara hal yang akan menghapuskan keberkahan ialah berbagai bentuk praktek riba:

]يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ[

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (Al Baqarah 276)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Ia akan memusnahkan riba, maksudnya bisa saja memusnahkannya secara keseluruhan dari tangan pemiliknya atau menghalangi pemiliknya dari keberkahan hartanya tersebut. Dengan demikian pemilik riba tidak mendapatkan kemanfaatan harta ribanya, bahkan Allah akan membinasakannya dengan harta tersebut dalam kehidupan dunia, dan kelak di hari akhirat Allah akan menyiksanya akibat harta tersebut.”

Penafsiran Ibnu Katsir ini semakna dengan hadits berikut:

(إن الربا وإن كثُرَ، عاقبتُه تصير إلى قَلَّ)  رواه أحمد الطبراني والحاكم وحسنه الحافظ ابن حجر والألباني

“Sesungguhnya (harta)  riba, walaupun banyak jumlahnya, pada akhirnya akan menjadi sedikit.” Riwayat Imam Ahmad, At Thabrany, Al  Hakim dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dan Al Albany.

Bila kita mengamati kehidupan orang-orang yang menjalankan praktek-praktek riba, niscaya kita dapatkan banyak bukti bagi kebenaran ayat dan hadits di atas. Betapa banyak pemakan riba yang hartanya berlimpah ruah, hingga tak terhitung jumlahnya, akan tetapi tidak satupun dari mereka yang merasakan keberkahan, ketentraman dan kebahagiaan dari harta haram tersebut.

Diantara perbuatan dosa yang menghapuskan keberkahan dari penghasilan kita ialah sumpah palsu. Rasulullah r bersabda:

(الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ.) متفق عليه

“Sumpah itu akan menjadikan barang dagangan menjadi laris dan menghapuskan keberkahan.” Muttafaqun ‘alaih

Diantara metode mencari rizqi yang diharamkan dan tidak diberkahi ialah metode minta-minta, sebagaimana dikisahkan pada hadits berikut:

عن حكيم بن حزام t قال: سألت رسول الله r فأعطاني، ثم سألته فأعطاني، ثم سألته فأعطاني، ثم قال: يا حكيم، إن هذا المال خضرة حلوة، فمن أخذه بسخاوة نفس، بورك له فيه، ومن أخذه بإشراف نفس لم يبارك له فيه، وكالذي يأكل ولا يشبع. اليد العليا خير من اليد السفلى، قال حكيم: فقلت يا رسول الله، والذي بعثك بالحق لا أرزأ أحدا بعدك شيئا حتى أفارق الدنيا) متفق عليه

Dari shabat Hakim bin Hizam t,ia mengisahkan: “Pada suatu saat aku pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah r, dan beliaupun memberiku, kemudian aku kembali meminta kepadanya, dan beliau kembali memberiku, kemudian aku kembali meminta kepadanya, dan beliaupun  kembali memberiku, kemudian beliau bersabda: Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini bak bauh yang segar lagi manis, dan barang siapa yang mengambilnya dengan tanpa ambisi (dan tama’ atau atas kerelaan pemiliknya), maka akan diberkahi untuknya harta tersebut. Dan barang siapa yang mengambilnya dengan penuh rasa ambisi (tamak), niscaya harta tersebut tidak akan diberkahi untuknya, dan ia bagaikan orang yang makan dan tidak pernah merasa  kenyang. Tangan yang berada di atas lebih mulia dibanding tangan yang berada di bawah. Hakim melanjutkan kisahnya dengan berkata: “Kemudian aku berkata: Wahai Rasulullah, demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku tidak akan meminta harta seseorang sepeninggalmu hingga aku meninggal dunia.” Muttafaqun ‘alaih

Pada hadits lain, Rasulullah r menjelaskan sebagian dari dampak hilangnya keberkahan dari orang yang meminta-minta dengan bersabda:

(ما يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ الناس حتى يَأْتِيَ يوم الْقِيَامَةِ ليس في وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ). متفق عليه

“Tidaklah seseorang terus-menerus meminta kepada orang lain, hingga kelak akan datang pada hari qiyamat, dalam keadaan tidak sekerat dagingpun melekat di wajahnya. “ Muttafaqun ‘alaih([42]) .

 

10. Kiat kesepuluh: Bekerja di waktu pagi.

Diantara metode agar keberkahan dari Allah dapat kita peroleh ialah dengan memupuk subur semangat untuk hidup sehat dan produktif serta menyingkirkan sejauh-jauhnya sifat malas. Yang demikian itu dengan cara memanfaatkan setiap waktu yang Allah karuniakan kepada kita pada hal-hal yang berguna dan mendatangkan kemaslahatan bagi hidup kita. Dan diantara waktu yang paling bagus untuk bekerja dan mencari rizqi ialah waktu pagi, oleh karenanya Rasulullah r bersabda:

(اللهم بارك لأمتي في بُكُورِهَا) رواه أبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجة وصححه الألباني

“Ya Allah, berkahilah untuk ummatku waktu pagi mereka.”. Riwayat Abu Dawud, At Tirmizy, An Nasai, Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Al Albani.

Para pensyarah hadits ini menyatakan bahwa hikmah dikhususkannya waktu pagi dengan doa keberkahan, adalah karena waktu pagi adalah waktu dimulainya berbagai aktifitas manusia, dan padanya seseorang merasakan semangat dan selesai dari beristirahat, oleh karenanya beliau mendoakan keberkahan pada waktu ini agar seluruh umatnya mendapatkan bagian dari doanya.

Sebagai penerapan langsung dari doanya ini, dahulu Rasulullah rbila mengutus pasukan perang, beliau mengutusnya pada pagi hari, sehingga pasukan & dan peperangan tersebut menjadi pasukan dan peperangan yang diberkahi dan mendapatkan pertolongan serta kemenangan.

Contoh nyata kedua dari keberkahan waktu pagi ialah apa yang dilakukan oleh sahabat Shokher Al Ghomidy, beliau adalah sahabat yang meriwayatkan hadits ini dari Nabi  r. Beliau adalah seorang pedagang, setelah ia mendengarkan hadits ini dari Rasulullah r iapun menerapkannya. Tidaklah ia mengirimkan barang dagangannya melainkan pada pagi hari, dan benar, keberkahan Allah dapat beliau peroleh, sehingga dinyatakan pada riwayat di atas, bahwa perniagaannyapun berhasil, hartanya melimpah ruah.

Berdasarkan hadits inipula sebagian ulama’ menyatakan bahwa tidur pada pagi hari adalah makruh hukumnya.

Hadits di atas juga merupakan bukti nyata bahwa agam Islam tidak mengajarkan kepada umatnya untuk hidup bermalas-malasan, lemah semangat, dan rendah cita-cita. Islam senantiasa mengajarkan kepada umatnya untuk hidup produktif, bermanfat, baik untuk diri sendiri atau orang lain, dan berjiwa besar dengan mewujudkan cita-citanya walau setinggi langit.

(على كل مسلم صدقة. قيل: أرأيت إن لم يجد؟ قال: يعتمل بيديه فينفع نفسه ويتصدق. قال: قيل: أرأيت إن لم يستطع؟ قال: يعين ذا الحاجة الملهوف. قال: قيل له: أرأيت إن لم يستطع؟ قال: يأمر بالمعروف أو الخير. قال: أرأيت إن لم يفعل؟ قال: يمسك عن الشر، فإنها صدقة). رواه مسلم

“Wajib atas setiap orang muslim untuk bersedekah. Dikatakan kepada beliau: Bagaimana bila ia tidak mampu? Beliau menjawab: Ia bekerja dengan kedua tangannya, sehingga ia menghasilkan kemanfaatan untuk dirinya sendiri dan juga bersedekah. Dikatakan lagi kepadanya: Bagaiman abila ia tidak mampu? Beliau menjawab: ia membantu orang yang benar-benar dalam kesusahan. Dikatakan lagi kepada beliau: Bagaimana bila ia tidak mampu? Beliau menjawab: Ia memerintahkan dengan yang ma’ruf atau kebaikan. Penanya kembali berkata: Bagaimana bila ia tidak (mampu) melakukannya? Beliau menjawab: Ia menahan diri dari perbuatan buruk, maka sesungguhnya itu adalah sedekah.” (HR. Muslim.)

Dan pada hadits lain, beliau bersabda:

(المؤمن القوي خير وأحب إلي الله من المؤمن الضعيف وفي كل خير. احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز، وإن أصابك شيء فلا تقل: لو أني فعلت كذا وكذا،  لكان كذا وكذا، ولكن قل: قدر الله وما شاء فعل، فإن لو تفتح عمل الشيطان) رواه مسلم

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dibanding seorang mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan. Senantiasa berusahalah untuk melakukan segala yang berguna bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau menjadi lemah. Dan bila engkau ditimpa sesuatu, maka janganlah engkau berkata: seandainya aku berbuat demikian, demikian, niscaya akan terjadi demikian dan demikian, akan tetapi katakanlah:  Allah telah mentaqdirkan, dan apa yang Ia kehendakilah yang akan Ia lakukan, karena ucapan “seandainya” akan membukakan (pintu) godaan syetan.” (HR.Muslim.)

 

11. Kiat kesebelas: Tawakkal Kepada Allah.

Bila diatas dijelaskan bahwa diantara penyebab diberkahinya rizqi kita adalah bekerja dan senantiasa merasa puas dengan rizqi yang telah Allah berikan kepada kita, maka satu hal lagi yang menjadi kunci keberkahan yaitu senantiasa bertawakkal kepada Allah dalam urusan rizqi.

Hendaknya seorang muslim senantiasa berimandan yakin bahwa rizqinya telah ditentukan dan ditaqdirkan oleh Allah Ta’ala. Setiap anak manusia yang terlahir ke dunia ini, terlahir dengan membawa takdir rizqinya masing-masing. Bahkan sejak pertama kali ruhnya ditiupkan ke dalam raganya, ketika ia masih berupa janin dalam kandungan ibunya, Allah telah memerintahkan seorang mailakat untuk menuliskan rizqinya.  Rasulullah r bersabda :

(إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ في بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذلك ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذلك ثُمَّ يَبْعَثُ الله مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ وَيُقَالُ له اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِيٌّ أو سَعِيدٌ ثُمَّ يُنْفَخُ فيه الرُّوحُ) متفق عليه

“Sesungguhnya penciptaan salah seorang darimu disatukan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk nutfah/air mani), kemudian berubah menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian berubah menjadi sekerat daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus seorang malaikat untuk menuliskan empat hal, dikatakan kepada malaikat itu: tulislah amalannya, rizqinya, ajalnya, sengsara atau bahagia, kemudian ditiupkan ruh padanya.” Muttafaqun ‘alaih.

Oleh karena itu tidaklah kita mati dan meninggalkan kehidupan dunia ini, melainkan setalah kita mengenyam seluruh rizqi kita.

لا تستبطئوا الرزق ، فإنه لن يموت العبد حتى يبلغه آخر رزق هو له، فأجملوا في الطلب: أخذ الحلال، وترك الحرام، وصححه الألباني

“Janganlah kamu merasa bahwa rizqimu telat datangnya, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang kepadanya rizqi terakhir (yang telah ditentukan) untuknya, maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.” Riwayat Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, serta dishohihkan oleh Al Albani.

Bila kita telah memahami hal ini, niscaya kita tidak akan pernah ditimpa gundah atau tekanan batin karena memikirkan rizqi atau penghasilan. Kita akan bekerja mencari rizqi dengan tenang dan hati yang sejuk serta jauh dari rasa was-was.

Hal ini bukan berarti kita berpangku tangan dan bermalas-malasan, dengan alasan tawakkal dan menanti datangnya rizqi yang telah ditakdirkan. Akan tetapi kita tetap menjalankan usaha yang halal dengan sekuat tenaga dan daya yang kita miliki, adapun hasilnya maka kita serahkan sepenuhnya kepada Allah.

Betapa indah permisalan yang diberikan oleh Rasulullah r tentang seorang mukmin yang beriman dan bertawakkal kepada Allah, yang sedang bekerja sekuat tenaganya untuk mengais rizqinya:

(لو أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ على اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كما يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً) رواه أحمد وغيره

“Andaikata engkau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah akan melimpahkan rizqi-Nya kepadamu, sebagaimana Allah melimpahkan rizqi kepada burung, yang (setiap) pagi pergi dalam keadaan lapar dan pada sore hari pulang ke sarangnya dalam keadaan kenyang.” Riwayat Ahmad, dan lain-lain.

Pada hadits ini, Rasulullah r menggambarkan praktek tawakkal yang benar dengan burung. Setiap burung pada pagi hari keluar dari sarangnya, dan bekerja terbang kesana dan kemari mencari rizqinya masing-masing. Tidak ada dari mereka yang berpangku tangan dan bermalas-malasan di sarangnya. Oleh karena itu Rasulullah r berpesan kepada umatnya:

(الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلي اللَّهِ من الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ على ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ ولا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فلا تَقُلْ: لو أَنِّي فَعَلْتُ، كان كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وما شَاءَ فَعَلَ؛ فإن لو تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَان) رواه مسلم

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dibanding orang mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing dari mereka terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk mendapatkan segala yang berguna bagimu, dan senantiasa mohonlah pertolongan kepada Allah. Jangan sekali-kali engkau menjadi lemah, bila engkau ditimpa sesuatu (musibah atau kegagalan), maka jangnlah engkau berkata: andai aku berbuat demikian, niscaya akan terjadi demikian dan demikian. Akan tetapi, katakanlah: Alah telah menentukannya, dan apa yang telah Allah kehendaki,maka itulah yang Ia ciptakan (lakukan), karena ungkapan “andai…” membukakan pintu godaan syetan.” Riwayat Muslim”.

Demikianlah seyognyanya seorang mukmin yang bertawakkal. Ia bekerja dengan sekuat tenaga dan kemampuan yang ia miliki dengan disertai keimanan yang teguh dan tawakkal yang bulat kepada Allah. Dengan cara inilah Allah Ta’ala akan melimpahkan rizqi dan keberkahan kepada kita, dan dengan cara inilah kita akan berhasil menggapai janji Allah:

]وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا {2} وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا[ الطلاق 2-3

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan beginya jalan keluar dan memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah (berkuasa untuk) melaksanakan urusan yang dikehendakai-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap urusan.” (At Tholaq 2-3.)

 

12. Kiat Kedua belas : Menempuh Hidup Sederhana.

 

Diantara hal yang tidak kalah penting agar keberkahan dapat kita wujudkan pada rizqi kita ialah dengan menempuh hidup hemat dan sederhana. Kita membelanjakan harta kekayaan dengan penuh tanggung jawab. Dengan demikian, tidak ada sedikitpun dari harta kita yang dibelanjakan dalam hal yang kurang berguna atau sia-sia, apalagi diharamkan.

Yang demikian itu dikarenakan rizqi kita adalah karunia dan sekaligus amanat dari Allah Ta’ala yang kelak di hari qiyamat akan kita pertanggung jawabkan.

]ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ[ التكاثر 8

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan”. At Takatsur 8.

Sahabat Abu Hurairah t mengisahkan: Pada suatu hari, Rasulullah r keluar dari rumahnya, tiba-tiba beliau menjumpai sahabat Abu Bakar dan Umar {. Sepontan Nabi r bertanya kepada keduanya: “Apakah yang menyebabkan kalian berdua keluar dari rumahmu pada saat seperti ini.?” Mereka berdua menjawab: Ya Rasulullah, rasa laparlah yang menjadikan kami keluar rumah. Mendengar jawaban keduanya, Nabi r menimpalinya dengan bersabda: “Dan sungguh -demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya- karena rasa lapar pula aku keluar rumah, maka mari ikutilah aku.” Keduanyapun mengikuti langkah Rasulullah r, menuju ke rumah salah seorang sahabat dari kaum Anshar (penduduk ali Madinah-pen). Akan tetapi didapatkan sahabat yang dituju sedang tidak sedang berada di rumah. Tatkala sstri pemilik rumah menyaksikan kehadiran Rasulullah r dan kedua sahabatnya, ia berkata: Selamat datang! Rasulullah r bertanya kepadanya: Diamanakah suamimu? Wanita itu menjawab: ia sedang mengambil air untuk kami. Tidak begitu lama, sahabat pemilik datang, dan tatkala ia menyaksikan Rasulullah r dan kedua sahabatnya, ia langsung berkata: Segala puji hanya milik Allah, hari ini, tiada orang yang kedatangan tamu yang lebih mulia dibanding tamuku. Dan tanpa pikir panjang, ia segera menghidangkan setangkai kurma yang padanya terdapat kurma muda, kurma yang telah kering, dan kurma yang baru masak, lalu ia mempersilahkan Rasulullah r dan kedua sahabatnya untuk makan. Bukan hanya itu, ia bergegas mengambil sebilah pisau. Menyaksikan perbuatan sahabatnya ini, Rasulullah rbersabda: “jangan engkau sembelih kambing yang sedang menyusui”. Tidak lama kemudian Rasulullah r dan seluruh sahabatnya menyantap buah kurma dan daging kambing sembilihannya tersebut, hingga kenyang. Seusai menyantap hidangan itu, Rasulullah r bersabda kepada sahabat Abu Bakar dan Umar: “Sungguh demi Allah Yang jiwaku berada di Tangan –Nya, kelak di hari qiyamat, kalian akan dipertanyai tentang kenikmatan ini. Rasa lapar telah memaksa kalian untuk keluar rumah, dan tidaklah kalian kembali ke rumah, kecuali setelah merasakan kenikmatan ini.”  riwayat Imam Muslim.

Pada hadits lain Nabi r bersabda:

(لاَ تَزُولَ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتىَّ يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَا عَمِلَ بِهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ) رواه الترمذي والطبراني وصححه الألباني

“Kelak kedua kaki setiap hamba tidak akan beranjak, hingga dipertanyai tentang empat hal: tentang umurnya; ia pergunakan untuk mengamalkan apa?, ilmunya; apa yang ia perbuat dengannya?, harta-bendanya; dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan?, badannya; ia pergunakan untuk mengamalkan apa?. Riwayat At Tirmizy, At Thabrany dan dishahihkan oleh Al Albani.

Bila demikian adanya, tidak mengherankan bila Islam telah mengajrkan kepada umatnya metode pembelanjaan harta yang benar. Diantara syari’at tersebut ialah dengan menempuh hidup sederhana; jauh dari sifat kikir dan juga jauh dari berlebih-lebihan.

]وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا[ الفرقان 67

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (hartanya), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu)ditengah-tengah antara yang demikian.” Al Furqan 67.

Al Qurtuby Al Maliky berkata: “Ada tiga pendapat tentang maksud dari larangan berbuat israf (berlebih-lebihan) dalam membelanjakan harta:

Pendapat pertama: Membelanjakan harta dalam hal y ang diharamkan, dan ini adalah pendapat Ibnu Abbas.

Pendapat kedua: Tidak membelanjakan dalam jumlah yang banyak, dan ini adalah pendapat Ibrahim An Nakha’i.

Pendapat ketiga: Mereka tidak larut dalam kenikmatan, bila mereka makan, maka mereka makan sekadarnya, dan dengan agar kuat dalam menjalankan ibadah, dan bila mereka berpakaian, maka sekadar untuk menutup auratnya, sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Rasulullah r, dan ini adalah pendapat Yazid bin Abi Habib.”

Selanjutnya Al Qurtuby menimpali ketiga penafsiran ini dengan berkata: “Ketiga penafsiran ini benar, karena membelanjakan dalam hal kemaksiatan adalah diharamkan Makan dan berpakaian hanya untuk bersenang-senang, dibolehkan, akan tetapi bila dilakukan agar kuat menjalankan ibadah dan menutup aurat, maka itu lebih baik. Oleh karena itu Allah memuji orang yang melakukan dengan tujuan yang utama, walaupun selainnya adalah dibolehkan, akan tetapi bila ia berlebih-lebihan dapat menjadikannya pailet. Pendek kata, menambungkan sebagian harta itu lebih utama.”([43])

Adapun maksud dari: “Tidak kikir dalam membelanjakan harta”, maka para ulama’ tafsir memiliki dua penafsiran:

Penafsiran pertama: Tidak enggan untuk menunaikan kewajiban, misalnya zakat dan lainnya.

Penafsiran kedua: Pembelanjaan harta tersebut tidak menjadikannya terhalangi dari menjalankan ketaatan, sebagaiaman halnya orang yang hanyut dalam berbelanja di mall, sampai lupa untuk mendirikan sholat.

Bila seseorang telah terhindar dari sifat kikir, niscaya ia dapat menunaikan tanggung jawabnya dengan baik. Sebagaimana ia akan senantiasa bergegas dalam berinfaq, bersifat dermawan, dan terhindar dari ambisi untuk menguasai harta orang lain.

Pada ayat lain, Allah Ta’ala berfirman:

]وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا[ الإسراء 29

“dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu, dan jangan pula kamu terlalu mengulurkannya; karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” Al Isra’ 29.

Ulama’ ahli tafsir Al Qur’an menjelaskan bahwa pada ayat ini, Allah Ta’ala mengajarkan menejemen belanja yang benar. Kita diajarkan agar menempuh hidup sederhana, tidak kikir dengan cara menyembunyikan kekayaan, dan enggan untuk mengulurkan tangan kepada orang lain. Sebaliknya, kita juga tidak dibenarkan untuk boros dalam membelanjakan harta, sehingga kita besar pasak daripada tiang, yang mengakibatkan kita tercela dan dirundung penyesalan.

Pada ayat lain, Allah berfirman:

]يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ[ الأعراف 31

“Wahai anak Adam, kenakanlah pakaianmu yang indah di setiap hendak memasuki masjid (hendak mendirikan sholat-pen), makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Al A’raf 31.

Oleh karena itu, Nabi r yang telah Allah tunjuk untuk menjadi teladan bagi umatnya dalam mengamalkan syari’at Al Qur’an, menekankan metode ini kepada umatnya, diantaranya dengan bersabda:

(كُلُوا وَاشْرَبُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا مَا لَمْ يُخَالِطْ إِسْرَافٌ وَلاَ مَخِيلَةٌ.) رواه أحمد والترمذي والنسائي وحسنه الألباني

“Makan, minum, bersedekah dan berpakaianlah (sesukamu-pen) selama engkau tidak berlaku israf (berlebih-lebihan) dan tidak pula berlaku sombong.” Riwayat Ahmad, At Tirmizy, An Nasa’i dan dihasankan oleh Al Albani.

Kisah berikut adalah salah satu wujud nyata dari syari’at ini.

Ketika Nabi r menjalankan Haji Wada’ pada tahun 10 hijriyah, beliau menjenguk sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas t yang  sedang menderita sakit parah. Tatkala sahabat Sa’ad menyaksikan Rasulullah r telah berada di dekatnya, ia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya penyakitku sudah sedemikian parah, dan aku adalah orang kaya, sedangkan tiada y ang mewarisiku (bila aku mati sekarang ini-pen) selain putriku seorang diri. Layakkah bila aku menyedekahkan dua pertiga dari hartaku? Nabi menjawab: Tidak. Sahabat Sa’ad kembali berkata: Bagaimana kalau aku sedekahkan separohnya? Beliau menjawab: Tidak. Bagaimana bila sepertiganya? Beliau menjawab: “Ya, sepertiganya, dan sebenarnya sepertiga itu sangat banyak. Sesungguhnya bila engkau meninggalkan ahli warismu dalam kecukupan, itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam kekurangan, akibatnya mereka meminta-minta kepada orang lain. Dan tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah, dengan tulus karena mengharap keridhaan Allah, melainkan engkau akan diberi pahala karenanya. Allah akan senantiasa memberimu pahala atas setiap nafkahmu, sampaipun atas makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu,” Riwayat Imam Bukhary.

Al Muwaffaq Abdul Latif Al Baghdady berkata: “Hadits ini merangkumkan seluruh simbol-simbol utama dalam metode merawat diri. Hadits ini juga mengajarkan tentang metode mengurus kemaslahatan jiwa dan raga, baik dalam kehidupan dunia ataupun akhirat. Sikap berlebih-lebihan dalam segala hal berdampak buruk bagi keselamatan raga dan harta benda. Berlebih-lebihan dapat menghancurkan harta kekayaan, dan jiwa; karena biasanya jiwa manusia terpengaruh oleh kesehatan raga.

Adapun sifat sombong, maka dapat membahayakan jiwa, karena orang yang dijangkiti sifat ini biasanya berlaku angkuh. Dan akibat perilakunya yang angkuh, ia ditimpa siksa di akhirat dan selama hidup di dunia, ia dibenci oleh orang lain.”([47])

Bila kita memahami syari’at ini, niscaya kita dapat memahami hikmah doa yang sering diucapkan oleh Nabi r :

(اللهم إني أَعُوذُ بِكَ من الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ) رواه البخاري

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa gundah, duka, lemah semangat, sifat malas, kikir, penakut, piutang yang memberatkan, dan dari penindasan orang lain.” Riwayat Al Bukhary.

Nabi r mengajari kita untuk berlindung dari piutang yang memberatkan. Yang demikian itu, karena biasanya, tidaklah seseorang terlilit oleh piutang, melainkan akibat dari kesalahannya dalam membelanjakan harta.

Dahulu ulama’ salaf berkata: Tidaklah jiwa seseorang dirundung oleh rasa gundah karena memikirkan piutang yang tidak kuasa ia bayar, melainkan perasaan itu menjadikannya tidak kuasa untuk berpikir dengan jernih.”

Penutup:

Apa yang dipaparkan di atas hanyalah sekelumit kiat-kiat praktis untuk menumbuhkan keberkahan dalam rizki kita. Walau demikian, berbagai kiat di atas bila kita amalkan, bukan hanya menumbuhkan keberkahan pada rizki kita saja. Akan tetapi, kiat-kiat di atas akan menumbuh suburkan keberkahan dalam setiap derap langkah dan setiap denyut kehidupan kita.

Perlu diketahui, bahwa apa yang dipaparkan di atas, hanyalah setetes dari lautan, karena sebenarnya, masih banyak lagi amalan-amalan yang akan mendatangkan keberkahan dalam kehidupan seorang muslim. Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq dan keberkahan-Nya kepada kita semua. Semoga pemaparan singkat ini menjadi penggugah iman dan semangat kita untuk berjuang menggapai keberkahan dalam hidup. Dengan demikian kita tidak menjadi budak dunia yang senantiasa dirundung duka dan derita akibat dari ambisi menumpuk harta kekayaan.

(تَعِسَ عبد الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إن أُعْطِيَ رضي وَإِنْ لم يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وإذا شِيكَ فلا انْتَقَشَ) رواه البخاري

“Semoga sengsara para pemuja dinar, dirham, dan baju sutra (pemuja harta kekayaan-pen), bila ia diberi ia merasa senang, dan bila tidak diberi, ia menjadi benci, semoga ia menjadi sengsara dan semakin sengsara (bak jatuh tertimpa tangga), dan bila ia tertusuk duri semoga tiada yang kuasa mencabut duri itu darinya.” Riwayat Bukhari.

Semoga dengan sedikit pemaparan ini, kita dapat memiliki pandangan baru terhadap kehidupan dan kekayaan dunia, bukan hanya jumlah yang kita cari, akan tetapi keberkahana lebih utama.

Tak lupa, pada akhir tuloisan ini, saya mohon maaf atas segala kesalahan, dan itu datangnya dari setan dan kebodohan diri saya, dan saya beristighfar kepada Allah. Apabila ada kebenaran, maka itu semua adalah taufiq dan ‘inayah-Nya, maka hanya Dia-lah yang layak untuk dipuja. Wallahu a’alam bis showaab.


[1] ) Ngalap berkah semacam ini adalah perbuatan yang diharamkan dalam Islam, karena keberkahan itu hanyalah milik Allah Ta’ala. Keberkahan yang terdapat pada selain para Nabi ‘alaihimussalaam adalah keberkahan yang diperoleh karena iman dan amalannya. Dengan demikian setiap orang yang beriman dan beramal sholeh, memiliki keberkahan sebesar iman dan amal sholehnya. Diantara dalil yang menunjukkan akan hal ini, ialah sabda Rasulullah r berikut:

إنَّ من الشجر لما بركته كبركة  المسلم. رواه البخاري

“Sesungguhnya diantara pepohonan ada pohon yang keberkahannya serupa dengan keberkahan seorang muslim.” (Riwayat Bukhory).

Para ulama’ menjelaskan bahwa keberkahan/kemanfaatan pohon kurma, serupa dengan keberkahan/ kemanfaatan seorang muslim, yaitu bersifat  umum, sehingga dapat dirasakan dalam segala situasi dan kondisi dan dimanapun. (Lihat Fathul Bari 1/145-146)

Oleh karena itu metode untuk mendapatkan keberkahan seorang muslim ialah dengan meneladani iman dan amal sholehnya, bukan dengan mencium tangan, atau meminum bekas air minumnya, atau lainnya. Sebagaimana metode untuk mendapatkan kemanfaatan kurma adalah dengan mengkonsumsinya, bukan dengan menyimpannya atau menciumnya.  Untuk lebih mengetahui tentang berbagai hal yang berkaitan dengan permaslahan tabarruk, silahkan baca kitab: Taisir Al Aziz Al Hamid, oleh Syeikh Sulaiman bin Abdillah hal 174-186.

[2] ) Al Misbah Al Munir oleh Al Faiyyumy 1/45, Al Qomus Al Muhith oleh Al Fairuz Abadi 2/1236, & Lisanul Arab oleh Ibnu Manzhur 10/395.

[3] ) Syarah Shohih Muslim oleh An Nawawi 1/225.

[4] ) Tafsir Ibnu katsir 3/531.

[5] ) Al Jawabul Kafi karya Ibnu Qayyim 56.

[6] ) Zaadul Ma’ad oleh Ibnul Qayyim 4/363& Musnad Imam Ahmad bin Hambal 2/296.

[7] ) Disebutkan dalam suatu hadits:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ في بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نطفة ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذلك ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذلك ثُمَّ يَبْعَثُ الله مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، وَيُقَالُ له: اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِيٌّ أو سَعِيدٌ ثُمَّ يُنْفَخُ فيه الرُّوحُ متفق عليه

“Sesungguhnya salah seorang dari kamu disatukan penciptaannya di dalam kandungan ibunya selama empat puluh hari berupa nuthfah, kemudian berubah menjadi segumpal darah selama itu juga, kemudian berubah menjadi segumpal daging selama itu juga, kemudian Allah akan mengutus seorang malaikat, lalu malaikat itu diperintahkan dengan empat kalimat, dan dikatakan kepadanya: “Tulislah amalannya, rizqinya, ajalnya dan apakah ia sengsara atau bahagia, kemudian malaikat itu diperintahkan untuk meniupkan ruh padanya.” Muttafaqun ‘alaih.

[8] ) Tafsir At Thobari 20/106-107.

[9] ) Sanad Hadits ini lemah, sebagaimana dijelaskan oleh banyak ulama’ diantaranya oleh As Suyuthi, Al Munawi dan Al Albani.

[10] ) Telah terbukti bahwa untuk mengobati orang yang terkena ‘ain dapat juga dengan mengambil barang yang pernah digunakan oleh orang yang mengenainya, misalnya piring, atau gelas, atau sendok, atau pakaian yang pernah ia gunakan. Walaupun yang paling sempurna ialah dengan cara yang disebutkan pada kisah Sahel ini.

[11] ) Silahkan baca biografi kedua sahabat ini dalam kitab Al Ishobah Fi Tamyizis Shohabah oleh Ibnu Hajar 3/198 & 579.

[12] ) Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Al Asqalany 10/231, baca juga Bada’iul Fawaid oleh Ibnu Qayyim 2/457.

[13] ) Bada’iul Fawaid 2/456.

[14] ) Mirqatul Mafatih oleh Ali Al Qary 14/14.

[15] ) Baca Tafsir Ibnu Katsir 2/76.

[16] ) Tafsir Ibnu Katsir 3/99.

[17] ) Baca Adhwa’ul Bayan oleh Syeikh Muhammad Al Amin As Syinqithy 4/197.

[18] ) Al Jawabul Kafi 56.

[19] ) Ma’alim At Tanzil, oleh Al Baghawy 1/97, Syarah Shahih Muslim oleh Imam An Nawawi  10/59, &  Fathul Bari oleh Ibnu Hajar 6/411.

[20] ) Faidhul Qadir 5/437.

[21] ) Tafsir Al Qurthuby 13/206.

[22] ) Tafsir At Thobari 1/59.

[23] ) Faidhul Qadir 5/118.

[24] ) Tafsir Ibnu katsir 4/524.

[25] )  Idem 4/512.

[26] ) Ar Risal oleh Imam As Syafi’i 7.

[27] ) Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dihasankan oleh Al Albani.

[28] ) Tafsir At Thobary 16/236 & Tafsir Ibnu Katsir 3/172.

[29] ) Adhwaa’ul Bayan 1/38.

[30] ) Lihat Syarah Muslim oleh An Nawawi 8/399, dan Faidhul Qadir 5/642.

[31] ) Faidhul Qadir oleh Al Munawi 9/387.

[32] ) Idem 2/236.

[33] ) Syarah Shohih Bukhori oleh Ibn Batthol 3/48.

[34] ) Baca Tafsir At Thobary 14/171 &Tafsir Ibnu Katsir 2/586.

[35] ) Ayat tersebut adalah firman Allah Ta’ala berikut:

]مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ[ النحل 97

“Barang siapa yang beramal sholeh, baik lelaki maupun perempuan sedangkan ia beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahel 97).

[36] ) Majmu’ rasa’il Ibnu Rajab 1/67.

[37] ) Fathut Bari 11/256.

[38] ) Baca Tafsir Al Qurthuby 9/4, & Adhwaaul Bayan 2/267.

[39] ) Baca Tafsir At Thobary 15/359, dan Tafsir Al Qurthuby 9/51.

[40] ) Syarah Muslim oleh Imam An Nawawi 8/350, Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Al Asqalany 4L302,  & ‘Aunul Ma’bud 4/102.

[41] ) Tafsir Ibnu katsir 1/328.

[42] ) Bagi yang ingin mendapatkan penjelasan yang lebih luas tentang hukum meminta-meinta, silahkan baca buku: “Haramnya meminta-minta” karya Syeikh Muqbil bin hadi Al Wadi’i rahimahullah.

[43] ) Ahkamul Qur’an oleh Al Qurtuby 3/452.

[44] ) Idem.

[45] ) Baca Syarah Shohih Muslim oleh Imam An Nawawi 17/30.

[46] ) Tafsir At Thobari 10L250, Ahkamul Qur’an oleh Al Qurtuby 3/191, & Tafsir Ibnu Katsir 2/76.

[47] ) Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Al Asqalani 10/253.

[48] ) Idem 11/174.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s